Rasanya, tersesat pun masuk kedai kopi di Karimun masih bisa jumpa yang sedap-sedap. Baik minuman apalagi makanannya. Di serata tempat. Mulai sarapan, makan siang hingga malam.

Kuliner Karimun selalu menggugah selera. Meski tak beda dengan sejumlah daerah di Kepri, tapi beberapa tempat selalu memberi cita rasa tersendiri. Juga kenangan yang mengundang. Untuk kembali datang.

Kalau makanan seafood, banyak tempat menyediakannya. Demikian juga olahan cita rasa tanah Karimun, juga tidak sedikit. Pecinta asam pedas ikan lomek, tahu kemana harus dituju.

Atau olahan telur ikan yang setiap hari cepat habisnya di pusat Tanjungbalai. Bisa juga ke Pondok Otek, sajian masakan yang tiada tanding. Walau kadang ikan oteknya selalu cepat habis.

Ikan ini biasanya anyir. Tapi di sini sedap. Ikan otek ini salah satu makanan favorit saya. Sebenarnya ingin bertemu dengan lupe ikannya (fish maw). Ini adalah makanan terenak di dunia. Tapi jarang mendapatkannya.

Lupakan tentang lupa ikan. Banyak jejak kuliner lain yang bisa disinggahi. Kedai Kopi Botan menjadi salah satu pilihan ketika pagi. Lontongnya, roti kukusnya bisa jadi pilihan.

Atau mencari mie siam dengan kuah yang menggugah. Ditambah udang sambal yang membuat kita seperti sedang digombal. Bisa juga mencari gado-gado serta sate manyate. Atau ketika siang. Banyak tempat menggugah lainnya. Dengan pilihan olahan hasil laut atau ayam kampung.

Malam-malam pun, banyak tempat makan yang membuat kita lupa kawan. Apalagi kalau jumpa olahan tradisional, termasuk kue muehnya. Makanan berbahan sagu. Lendot, makanan sehat yang tak membuat kita gendut. Walaupun malam-malam.

Cerita kesedapan kuliner Karimun tak ada habisnya. Datanglah. Karena Karimun adalah persahabatan dan keindahan. Bersahabat pada semua yang datang. Maupun yang kembali pulang. Menikam jejak masa lalu, atau bernostalgia dengan kenangan-kenangan. Juga menjanjikan keindahan alamanya. Pesona laut, gunung, juga kisah-kisah kesejarahannya.

Saya selalu terkesan dengan kisah Stamford Raffles. Yang sempat terpesona dengan Karimun, sebelum akhirnya meneguhkan hati dengan Singapura. Sebagai bagian dari “pertukaran jajahan” dengan Belanda. Bengkulu ke Belanda, Singapura ke Inggris. Entah apa kisahnya kalau Raffles meneguhkan hatinya dengan Karimun. Bolehlah menebar khayal.

Karimun pun terus berkembang. Sejak menjadi bagian dari Kerajaan Sriwijaya, Kerajaan Riau Lingga. Menjadi salah satu Kawedanan Karimun yang meliputi Karimun, Kundur dan Moro. Kawedanan itu merupakan wilayah pemerintahan pada zaman Hindia Belanda. Dan digunakan sebentar setelah Indonesia merdeka. Kawedanan adalah administrasi pemerintahan di bawah kabupaten di atas kecamatan. Tak dijumpai lagi saat ini.

Tiga wilayah ini pun terus identik dengan kebesaran Karimun, termasuk dalam panggung politik. Misalnya “rasa” daerah-daerah itu dalam kontestasi kepala daerah. Kalau si A mewakili Karimun, harus ada yang mewakili Kundur atau Moro.

Dari wilayah kerajaan, kawedanan, semasa Riau menjadi provinsi, Karimun merupakan wilayah kecamatan. Berada di wilayah Kabupaten Kepulauan Riau. Ketika reformasi melanda negeri ini, berkah pemekaran singgah ke Karimun. Pada 12 Oktober 1999, berdasarkan Undang-undang Nomor 53 tahun 1999, Karimun menjadi sebuah kabupaten. Dengan tiga daerah “besar” Karimun, Kundur dan Moro di dalamnya.

Hingga kini, sudah 21 tahun Karimun menjadi kabupaten. Tampak kemajuan dan perkembangan. Tumbuh daerah-daerah baru. Bertekad untuk terus maju dan menyejahterakan masyarakat. Daerah ini pun indentik dengan sebutan Bumi Berazam.

Itu tagline yang ditanamkan almarhum H Muhammad Sani sewaktu menakhodai daerah ini. Dengan Azam Peningkatan Iman dan Taqwa, Azam Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia, Azam Pembangunan Ekonomi yang berdimensi Kerakyatan dan Azam Pengembangan Seni dan Budaya. Azam-azam itu yang terus ditekadkan para nakhoda selanjutnya untuk direalisasikan. Dengan perencanaan dan ketepatan eksekusinya.

Setelah 21 tahun sebagai daerah tingkat dua, lebih 250 ribu masyarakat Karimunlah yang merasakan kemajuannya. Mungkin juga ketidakmajuannya. Menurut versi mereka. Yang biasa dikaitkan dengan kehidupan ekonomi, kesempatan kerja. Muara kesejahteraan yang menjadi kehendak seluruh rakyat.

Kalau melihat perkembangan tahun lalu dan awal tahun ini sebelum “negara api” berbentuk covid19 menyerang, perkembangan dan kemajuan itu mulai tampak. Saya coba mengambil sisi pariwisatanya. Pada Januari 2020, jumlah wisatawan asing yang datang tumbuh besar dibanding Januari 2020. 23,48 persen menurut catatan BPS. Ada 10.585 wisman yang menikmati pesona Karimun. Walaupun kebanyakan warma Malaysia. Sekitar 34.70 persen.

Pasti kini banyak yang merindukan untuk menjelajahi Karimun. Setelah hampir satu tahun “terisolasi” pandemi. Rindu dengan pesona alamnya. Juga kulinernya. Yang sedap-sedap itu.

Write A Comment