Kawan saya bilang geli-geli. Tapi saya merasakan kepedihan. Dimasukkan ke lubang hidung, yang agak dalam. Diputar-putar. Setelah kanan, pindah ke kiri.

Kepedihan itu membuat air mata ini keluar. Setelah itu, agak menuju pilek, walaupun hilang segera.

Itu pengambilan sampel swab di hidung. Kalau di tenggorokan agak ringan. Hanya ditekan dengan benda plastik semacam sendok. Bantang seperti cotton bud yang lebih panjang mulai memutar-mutar di pangkal tenggorokan.

Mau muntah tapi tak jadi. Setelah diambil, dimasukkan ke dalam botol penyimpanan, diputar-putar biar larut. Untuk dibawa ke laboratorium.

Selain dua titik tadi, saya pun diminta mengeluarkan dahak. Ludahkan ke dalam botol sampel yang sudah diberi nama. Lalu dikumpulkan bersama sampel lainnya.

Sebelum diambil tiga macam sampel itu, sampel darah di lipatan lengan juga harus diambil. Kalau di lipantan lengan, dalam masa pandemi ini sudah beberapa kali saya lakukan.

Semuanya non reaktif. Rapid test, untuk mendeteksi imun tubuh pertama saya jalani di Pelabuhan Sri Bintan Pura Tanjungpinang. Waktu itu ada pengambilan sampel secara mendadak untuk semua penumpang yang tiba di Tanjungpinang.

Pengambilannya hanya di ujung jari. Hasilnya, non reaktif karena tak pernah dihubungi. Sebab, sebelum penusukan di ujung jari tengah itu, petugas yang memakai APD, bilang akan dihubungi kalau reaktif.

Setelah itu, beberapa kali pengambilan sampel darah di lipatan tangan kiri. Bersyukur karena semuanya non reaktif. Termasuk pada 30 Juli 2020, saya bun bergegas melakukan rapid tes dengan pengambilan sampel darah. Hari pun sudah petang. Hasilnya non reaktif.

Karena sudah diambil berkali-kali, jarum yang masuk ke lipatan itu pada 31 Juli 2020 seperti kesulitan menemukan jumlah darah yang sesuai. Jadi agak lama dari pengambilan sampel seperti biasanya tertahan di situ. Sampai darahnya sepertinya mencukupi.

Semua peralatan yang sudah digunakan untuk pengambilan sampel dibuang ke tempat semestinya. Barangkali akan berakhir di lokasi limbah medis untuk menjadi musnah.

Swab dilakukan karena saya pernah satu ruangan dengan teman kerja yang terkonfirmasi positif covid19. Ketika kabar itu tiba, ketika semua rekan kerja mulai antri untuk diswab, saya segera me-rapidkan diri.

Juga memilih menyendiri di dalam kamar. Entah namanya mengkarantina atau mengisolasi mandiri. Untuk kebaikan dan kebaikan.

Karena saya tidak tahu dari persentuhan dimanakah ada si covid melengket. Mungkin di baju atau perlengkapan lainnya. Atau sudah melanglang buana dalam panjangnya saluran pernafasan.

Lawan ini tak terlihat. Si covid lebih ahli dari pendekar yang bisa menghilang. Lebih seram dari hantu yang tak terlihat.

Apakah ini seperti melawan hantu? Tak ada yang tahu.

Karena sampai hari ini, vaksin penangkalnya masih belum ada. Masih uji coba-uji coba. Walaupun ada petinggi negara sudah mengeluarkan kalung sakti untuk menghadapinya, tapi wabah ini masih meningkat.

Tiba-tiba ada ledakan. Semua ingin ini cepat sirna. Tapi tak bisa dilawan dengan jurus apapun. Hanya bisa mengantisipasi dengan protokol kesehatan yang selalu disenandungkan: jaga jarak, gunakan masker, cuci tangan dan berolah raga.

Rasanya saya selalu menjalankan itu. Tapi hantu ini kok membuat ragu.

Sampai menunggu keluar hasil swab: saya (berharap) negatif.

2 Comments

  1. Baru kali ini hasil negatif, hasilnya menggembirakan. Menunggu dengan sabar, kulantunkan doa semoga bg Rizal negatif dari virus bandel ini. Heran deh ga bosen apa udh 6 bulan mengganggu dunia.. Hobbi aja udah berubah dr lari ke sepeda. Masa dia betah amat.. Keseelllll…

    ” Lawan ini tak terlihat. Si covid lebih ahli dari pendekar yang bisa menghilang. Lebih seram dari hantu yang tak terlihat”. Setuju banget. Pertahanannya simple. Wear masker everytime.

    All is well bg Rizal. Biar kita bisa ngopi dan share buku bacaan lagi. Hahahaha

Write A Comment