Dahulu sungainya masih ada. Bermuara ke laut. Dijadikan laluan untuk menurunkan kapal kayu buatan tempatan. Juga berpasir. Barangkali ini jadi pertanda kawasan tersebut diberi nama Sungai Pasir.

Sungai Pasir ini menjadi tempat saya dilahirkan. Tercatat di dokumen resmi kenegaraan. Tapi sungai itu sudah tiada. Demikian juga dengan dua usaha kapal di kawasan itu.

Semua “tereklamasi secara alami”. Menjadi bangunan untuk rumah-rumah penduduk. Padahal dahulu sering menyeberangi sungai itu, untuk bergerak dari satu perusahaan pembuat kapal ke sebelahnya. Mencari kayu sisa olahan untuk menjadi bahan bakar. Buat masak di rumah.

Kisah “tereklamasi secara alami” ini mengingatkan saya dengan Cheonggyecheon, sungai di jantung Seoul, ibu kota Korea Selatan. Itu saya baca dari buku Lee Myung Bak, mantan Presiden Korsel. Lee juga mantan Wali Kota Seoul yang menghidupkan kembali Cheonggyecheon setelah puluhan tahun tertimbun dan menjadi jalan yang superpadat.

Tahun 1970, sungai sepanjang delapan kilometer tertutup mantap. Dalam catatan Lee, Cheonggyecheon menjadi kawasan paling kacau dan macet. Tiap hari, hampir 170.000 ribu kendaraan melintasi kawasan ini. Juga berpotensi runtuh. Inti segala kekacauan ada di sini. Lee hanya berpikir, sungai Cheonggyecheon harus dikembalikan seperti dahulu.

Lee bukan wali kota saat berpikir itu. Dia hidup di dunia konstruksi. Hingga berada di posisi puncak manajemen Hyundai Constraction. Dia memutuskan ke panggung politik setelah pulang dari Amerika.

Di Amerika, tepatnya Boston, Lee melihat proyek Big Di. Dari sinilah dia memikirkan bagaimana Cheonggyecheon dipulihkan kembali.

Tapi menyingkirkan jalan raya yang dilewati hampir 170 ribu kendaraan tiap hari pasti menimbulkan krisis transportasi. Di Batam saja, ketika Flyover Laluan Madani sedang dikerjakan, lalu lintas di situ pun agak kacau. Apalagi ini sepanjang delapan kilometer.

Tapi Lee mau mendengar. Dia berkonsultasi dengan pakar transportasi. Jawaban yang didapat: sudah saatnya kita menerapkan kebijakan untuk meredam permintaan. Kita tidak bisa lagi menghadapi volume kendaraan dan berharap bisa hidup nyaman. Namun anda pasti menghadapi banyak tantangan. Orang-orang belum siap dan mereka tidak rela harus menghadapi ketidaknyamanan.

Lee percaya dan belajar bahwa sering kali, jika kita menerapkan kebijakan yang tepat, dedikasi dan strategi yang jelas serta kesabaran melimpah akan mengiringi langkah kita.

Setelah melalui proses politik Lee terpilih menjadi Wali Kota Seoul. Memulihkan sungai Cheonggyecheon menjadi salah satu programnya. Saat kampanye. Setelah duduk, Lee pun terus menjelaskan proyek menghancurkan jalan dan mengembalikannya menjadi sungai.

Cara Lee meyakinkan warga di sekitar Cheonggyecheon patut dicontoh. Untuk meyakinkan semua, dia mendirikan devisi “mendengar keluhan”. Tugasnya mendengar keprihatinan para pemilik toko di sekitar Cheonggyecheon, menjelaskan perlunya pemulihan sungai, dan menjabarkan cara pelaksanaannya.

Dari Juli 2002 hingga Juni 2003, tim ini bertemu sebanyak 4.200 kali dengan pemilik toko. Menuntaskan 1.000 permintaan. Semuanya demi Cheonggyecheon. Tapi Lee berhasil.

Tak terbayang kalau itu di Batam, Kepri atau negeri ini. Kena demolah. Liatlah di Batam. Di beberapa titik, rumah liar ada yang tak bisa dituntaskan.

Divisi curhat ini mendapatkan hasil bahwa penduduk Seoul dapat diyakinkan bahwa cita-cita pemulihan sungai ini sepadan dengan kesulitan yang harus mereka alami.

Sungai Cheonggyecheon pulih dalam dua tahun. Setelah berpuluh tahun, warga dapat menikmati udara segar dan udara bersih di jantung Seoul. Cheonggyecheon pun menjadi tujuan wisata favorit dan land mark Seoul.

Sungai ini pun pernah jadi episode politik di Indonesia.
September 2018, Presiden Joko Widodo dalam kunjungannya ke Korsel, singgah ke Cheonggyecheon. Setelah melihat-lihat, Jokowi bilang, dia ingin Sungai Ciliwung kayak Cheonggyecheon.

Tak lama suara dari Seoul sampai ke Jakarta, keinginan Jokowi pun disambut Anies Baswedan, Gubernur DKi Jakarta. Anies pun bilang, siap menjadikan Ciliwung seperi Cheonggyecheon.

Itu 2018 lalu. Sepertinya sudah lama sekali. Entah bagaimana Ciliwung saat ini. Mungkin kesibukan dan banyaknya “drama” di Ibu kota pasti melupakan keinginan itu.

Ide tulisan ini muncul saat berada di Lok Baintan, Banjarmasin Kalimantan Selatan. Subuh itu, setelah rangkaian peringatan Hari Pers Nasional, saya diajak melihat Pasar Terapung. Ada tiga titik pasar terapung di sini. Selain Lok Baintan ada Kuin yang iklan sebuah televisi ada di sini. Juga di Tandean, yang selalu diadakan ketika banyak iven.

Di Pasar Terapung ini, kisah-kisah interaksi masyarakat bisa didapat. Bagaimana sejak dahulu kala interaksi jual beli itu berlangsung.

Ke Lok Baintan, kita akan menemukan pedagang sayur, buah dan lainnya diperjual. Pembeli, yang kebanyakan dari luar kota, menyewa Klutok untuk menuju Lok Baintan. Setelah shalat Subuh, saya bergegas dengan mobil ke Warung Soto Pak Amat, tempat Klutok bersandar.

Dengan Klutok, berlayar sekitar 60 menit untuk sampai di Lok Baintan. Begitu kapal penumpang sampai, penjual dari sampan-sampan pun menyerbu. Segala macam buah sayur dan segala penganan disodor.

Saya menikmati keriuhan dan goyangan di antara transaksi itu. Pun mencoba sekejab untuk berdagang di atas kapal. Bergoyang. Agak gamang di sungai Martapura yang panjangnya hingga 606 kilometer itu.

Saya pun naik lagi ke Klotok. Kapal kayu yang mesinnya berbunyi tok tok tok.

Bising mesin tak mengganggu untuk termenung. Tentang sungai-sungai di Kepri yang lebih banyak pada nama suatu daerah.

Juga tentang Karimun: janganlah berniat jadi Bupati, nanti sibuk ngurus sungai aja kaya Lee Myung Bak.

Tiba-tiba kapal agak besar melaju. Klutok yang saya tumpangi terguncang. Akh, merusak permenungan saja.

Write A Comment