Tiap orang punya sentuhan dan kenangan yang berbeda dengan almarhum H Muhammad Sani. Gubernur Kepri 2010-2016. Menjalani periode kedua selama 57 hari, Yang Maha Kuasa memanggilnya untuk kembali. Bulan ini, tepatnya 12 Februari, telah empat tahun lalu almarhum dilantik di Istana Negara.

Saya mulai berdekatan dengan almarhum saat beliau menjabat sebagai Bupati Karimun. Itupun lebih banyak karena kerja-kerja jurnalistik. Tulisan ini pun lebih banyak olahan dari tulisan beberapa tahun lalu.

Nama almarhum memang akrab saat beliau menjabat sebagai Wali Kota Madya Tanjungpinang. Karena selalu tersebut dalam berita. Setelah dekat dengan aktivitas pemerintahannya, saya memang menemukan bahwa Sani adalah lambang silaturahmi. Silaturahmi yang menggunakan hati. Itulah yang selalu dikedepankan Sani. Bukan kekuasaan. Walaupun bertahun tahun dia berada di pucuk kekuasaan. Tetap hati yang dikedepankan. Itu bukan hanya dikata, tapi dikotakannya.

Dia selalu mengucapkan kata-kata itu. Kata-kata yang menunjukkan bahwa hatinya yang lebih banyak berperan dalam setiap tindakan. Working, learning and good relationship by heart.

Bekerja, belajar dan bersilaturahmi dengan hati. Dengan hati.

Tagline itu mulai “populer” setelah buku auto biografinya, Untung Sabut diluncurkan. Buku yang sudah beberapa kali dicetak ulang itu, juga menjadi kado buat tamu-tamunya yang berkunjung ke Kepri. Juga saat dia melakukan kunjungan ke pulau-pulau yang ada di Kepri.

Dia ingin memotivasi semua orang, terutama anak-anak, untuk tidak berputus asa dalam menuntut ilmu. Dalam buku itu, segala perjuangan dan keberuntungan-keberuntungan selalu menghampiri Pak Sani.

Karena itu, dalam acara Kick Andy, Pak Sani berujar, “no more, no more….tak ada lagi anak-anak Kepri yang tidak sekolah.”

Apapun kondisi ekonominya, ketika dia ingin sekolah, harus disekolahkan. Termasuk ketika seseorang anak Kepri yang ingin sekolah di luar negeri dan mengabdi di sana. Di pulau-pulau, hal itu selalu disampaikan Pak Sani.

Tanda sayang kepada masyarakat, ditunjukkan dengan selalu menjejakkan kaki ke pulau-pulau. Pak Sani menjemput masalah dan segala keinginan masyarakat. Segala permintaan yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan masyarakat, berupaya dipenuhinya.

Bahasa kerennya, “kalau tak penuh ke atas, penuh ke bawah.” Bahwa bagaimana pun kondisi saat itu, masyarakat harus dibantu.

Pak Sani selalu berupaya memenuhi permintaan masyarakat. Permintaan yang membangun daerah-daerah. Karena, kata Pak Sani, pembangunan tak pernah berhenti.

Pak Sani, masih sanggup menjelajah sejumlah pulau di kawasan utara Kepri, kawasan Kepulauan Anambas dan Natuna. Berhari-hari, bermalam-malam, singgah dari satu pulau ke pulau lainnya. Total dalam suatu kali pelayaran, Sani pernah berada di laut selama lebih dari 27 jam. Dan itu bukan laut yang tenang. Dalam pelayaran kali itu, ditemukan gelombang antara tiga hingga enam meter. Belum lagi 18 jam bolak balik ke Tambelan. Juga berbagai pulau lainnya.

Mengunjungi masyarakat adalah berbagi kebahagiaan. Bahagia kehadirannya bisa memberi manfaat bagi masyarakat.

Bagi hati Pak Sani, hidup adalah memberi manfaat untuk orang lain. Pesan itu selalu disampaikannya, kepada siapa saja, terlebih orang-orang yang berada di sekitarnya. Teruslah bermanfaat pada semua makhluk cipta Allah.

Dia selalu berpesan, bagaimana keberadaan kita, bisa terus membahagiakan orang lain, tidak sombong dan tidak mengerdilkan orang lain. Yang paling penting, pesannya suatu kali, jangan menjadi ancaman untuk orang lain.

Apapun perlakuan orang terhadap dirinya, selalu dia balas dengan kebaikan. Pak Sani punya kata untuk ini: orang lempar dengan batu, kita balas dengan pisang.

Bahwa Pak Sani adalah kebahagiaan buat orang lain begitu terasa. Dalam suatu kesempatan, saat membantu menyelesaikan buku Untung Sabtu, teman-temannya tampak mengekspresikannya.

Seperti dikatakan Halim Syahir, Direktur APDN ketika pak Sani menjalani pendidikan di sana. “Saya melihat Sani ini rendah hati. Ia memang menghargai orang dan itu terbawa dari sikap tidak sombongnya itu. Orang-orang suka membantunya karena sikapnya itu.”

Dan lelaki kelahiran Parit Mangkil ini juga teladan dan kearifan. Seperti dikatakan Budayawan Tenas Effendi dalam Untung Sabut, “Pak Sani dibesarkan dalam keserdehanaan dengan semangat pantang menyerah sehingga selalu timbul seperti sabut. Bagaimanapun gelora dan ombak, ia akan selau terapung apung. Tak akan tenggelam. Sabut memiliki berbagai manfaat bagi kehidupan manusia. Menjadi simbol kearifan.”

Write A Comment