Ternyata kebencian itu merusak dan aku tak suka itu.

Itu kata Iron Man, dalam lakon di Avengers: End Game ketika nak berbaik-baik lagi dengan Capten America. Karena sebelumnya mereka berdua macam saling benci. Sampai menemukan musuh bersama: Om Thanos.

Walaupun merusak, pada beberapa manusia, kebencian itu dipelihara. Malah disemai kemana-mana. Untuk mencari teman agar benci dengan yang dikumandangkannya. Kalau tak dapat teman seirama, kemungkinan berjumpa lawan yang membenci kebencian itu. Perang pun bermula. Walau lewat kata-kata.

Media sosial, menjadi salah satu panggung kebencian itu ditebar. Walaupun tidak benar, selalu saja narasi yang dibuat para pembenci meyakinkan penerimanya.

Tak sedikit yang mudah percaya. Survey pun menguatkan itu. Dalam survey CIGI-Ipsos (2016) disebutkan bahwa 65 persen pengguna internet Indonesia percaya pada kebenaran informasi di dunia maya tanpa check and recheck.

Enam puluh lima persen.

Angka itu saya dapat saat berada dalam Festival Media Digital Pemerintah 2019, yang merupakan rangkaian acara dalam peringatan Hari Antikorupsi Sedunia 2019. Di Gedung Merah Putih, KPK akhir tahun lalu.

Festival ini sangat menarik. Terutama dari pematerinya. Ada pegiat medsos @ndorokakung alias Wicaksono. Ada tim dari narasitv yang memproduksi matanajwa. Yang paling menarik adalah sesi terakhir yang menghadirkan twitter, facebook (dan keluarganya baik WA, instagram dan masenger) serta youtube.

Sejatinya, tiap medsos itu adalah netral. Tergantung penggunanya mau membawa kemana. Menjadi sarana menebar kebaikan dan manfaat atau saluran menyemai kebencian dan kebohongan.

Yang ini, bisa mendorong seseorang ke tebing mudarat sosial. Malah ke ranah hukum. Apalagi kini sudah ada UU ITE. Tak sedikit yang sudah berurusan dengan undang-undang itu.

Apalagi mereka yang jempolnya “besar” dan ringan. Tanpa melakukan pemeriksaan terlebih dahulu. Langsung ditebar. Bahayanya, sebaran pertama yang hoaks dan menabur kebencian itu sangat cepat beredar.

Beberapa kasus, sebaran dan penyebarannya terpolarisasi dengan ranah politik yang masih belum juga hilang. Sampai hari ini. Sampai ke daerah-daerah.

Sebenarnya, tergantung individu seseorang, apakah dia ingin masuk ke ranah mana di media sosial. Tergantung yang diikutinya. Ada miliaran pengguna. Yang memberi pengaruh kalau kita ikuti.

Pengguna facebook saja mencapai angkat 2,41 miliar. IG mencapai miliar dan massenger 1,3 miliar. Pun bisa tersebar cepat lewat WA dengan 1,5 miliar. Belum lagi twiter dan youtube.

Dengan miliaran pengguna itu, kini media sosial mengubah cara orang berinteraksi. Kata Wicaksono, semua semua orang adalah media. Banyak yang lebih mendengar opini influencers (key opinion leaders), dan komunitas. Bahkan benar dan salah ditentukan oleh banyaknya pendapat.

Karena festival itu untuk humas pemerintah, ada pesan-pesan yang bisa dimanfaatkan pelaku humas. Misalnya, kata Wicaksono, Humas dapat memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan informasi: pengumuman penghargaan, peluncuran produk, atau kabar terbaru tentang lembaga. Dengan tautan dan visual, Humas dapat menjangkau khalayak lebih luas di media sosial daripada menggunakan media tradisional.

Orang-orang berpengaruh di media sosial (influencers) mempunyai banyak pengikut yang dapat dimanfaatkan untuk membantu promosi, membangun, dan melindungi reputasi. Influencers berpotensi mengamplifikasi suara pemerintah. Jika Humas berhasil membangun jembatan hubungan yang baik antara pemerintah dan influencer, berarti Humas telah ikut promosi dan membangun reputasi pemerintah.

Dalam sebaran yang disiar situs KPK, disebut bahwa dari diskusi itu para praktisi humas pemerintah mendapatkan informasi mengenai efektivitas platform media sosial yang dapat dipilih oleh humas pemerintah sesuai dengan karakteristik masing-masing platform. Tujuannya satu, yaitu bagaimana platform yang tersedia dapat menyampaikan informasi melalui konten yang dikemas secara kreatif, sehingga dapat meningkatkan engagement dengan audiens masing-masing.

“Konten tidak harus selalu infografis, sesekali suguhkan konten yang eksklusif. Selain itu jangan lupa untuk menambahkan ajakan atau call to action,” jelas Noudhy Valdryno dari Facebook Indonesia.

Tapi, apapun itu, terutama diluar pesan pesan untuk humas, peliharalah ranah medsos yang memberi kegembiraan dan pelajaran. Atau yang selalu menebar renungan.

Seperti yang pernah saya jumpa. Dalam banyak pembahasan itu, tiba-tiba muncul pesan dan renungan.

“Lalu, ada apa dengan jendela? Apa yang mengakibatkan dia begitu berbeda dengan pintu, ambang, lubang angin, liang, sehingga begitu banyak ungkapan yang menggunakan kata “jendela”? “Mata adalah jendela hati”, “buku adalah jendela dunia”, “jika Tuhan menutup pintu, Ia akan membuka jendela”. Bahkan Bill Gates memakai “jendela” jadi metafor, sekaligus merek dagang dan sistem operasi komputer yang paling banyak dipakai di muka bumi: Windows”. Begitu juga National Geographic, mengambil kerangka Jendela sebagai logo lembaga berwibawa ini.

Jadi, carilah kegembiraan. Jika belum berjumpa, bukalah jendela. Siapa tahu, datang segala kebaikan, walau entah dari mana.

Write A Comment