Ini bukan bagian dari program menuju perut kempis. Belum juga menjadi hobi yang serius. Serius dengan menjaga makanan dan pola bermainnya.

Ini hanya bersenang-senang. Supaya gerak lebih banyak. Bergerak dengan mengayuh. Mungkin segala persendian dan otot mendapat pekerjaan baru.

Pesepeda dengan hobi serius, mungkin punya pola aturan makanan dan asupan gizi yang harus masuk. Demikian juga dengan jam latihannya setiap pekan. Tapi apapun olahraga yang dilakukan, semuanya baik.

Bermain sepeda, belum lama saya jalani. Dua purnama sebelum kisah Brompton dan pesawat itu heboh, saya sudah membeli sepeda yang bisa dilipat. Itu pun karena racun dari teman ngopi lewat sebuah aplikasi. Aplikasi yang membuka peluang jual beli barang bekas (dan baru) di Singapura.

Setiap hari, melihat-lihat berbagai jenis sepeda lipat. Dengan harga yang terjangkau walau sudah tak baru. Tentu dengan kondisi yang tetap baik. Sampai akhirnya membeli satu.

Sesekali terpandang juga Brompton. Tapi harga bekasnya selalu di atas belasan juta rupiah. Ini sepeda, kok harganya gak tanggung-tanggung. Membuat tersinggung Katana Sultan teman saya yang harganya lebih murah dari itu. Terlebih harga yang baru.

Dan banyak yang tahu kalau harganya imbang dengan beberapa mobil seken yang diperjualbelikan di Batam. Padahal tak hanya merek ini yang harganya melewati beberapa harga motor matic.

Ketika sebuah mobil SUV menabrak rangkaian pesepeda suatu pagi akhir tahun lalu, di Jakarta, mencuat juga harga sepeda yang tinggi itu. Jika mobil itu dijualpun, tak dapat mengganti sekitar tujuh sepeda yang patah-patah. Untuk yang baru, rerata harganya dari Rp15 juta hingga Rp110 juta. Demam.

Kisah Brompton dan pesawat itu semakin memasyarakatkan sepeda lipat. Termasuk harganya. Padahal banyak sepeda lipat yang harganya cukup murah.

Beberapa produsen jadi rajin mengiklankan jenis sepeda ini. Semoga penjualannya makin tinggi. Sepeda ini memang mudah dan praktis. Untuk dibawa kemana-mana. Bisa masuk ke moda transportasi seperti kereta atau mobil. Bagasi pesawat dan kapal untuk menyebrang ke manapun. Juga tidak berat, tergantung jenis bahannya. Yang berpengaruh pada harga.

Karena sudah punya, mulailah menjadi pesepeda yang banyak gaya. Memulai latihan dengan memilih tanjakan panjang. Dari jarak tempuh lima kilometer hingga empat puluh kilometer. Itupun hanya berani di jalur yang selalu belok kiri. Atau ketika hari yang jalanannya sepi.

Untuk menambah semangat, tetap juga mencari manfaat bersepeda lewat mbahgugel. Bahwa dengan bersepeda, banyak manfaat yang didapat. Tentu untuk sehat. Juga menambah daftar sahabat. Sahabat lewat kring kring ketika berpapasan.

Ini ditemukan saat mengikuti iven-iven. Dua kali baru ikut acara beramai-ramai. Pertama akhir tahun lalu lewat Last Sunday Ride. Dari situ tahu kalau di Batam sudah ada 68 komunitas sepeda. Dengan jenis sepeda masing-masing. Mungkin akan terus bertambah.

Batam Bersepeda 2020, Januari ini menjadi iven ramai-ramai saya ikuti. Ramai memang. Hampir 8.000 pesepeda. Kegiatan ini pun merupakan inisiasi petinggi negeri di Kepri.

Bolehlah berharap setelah iven ini, Batam seperti kota besar lainnya. Ada jalur jalan untuk berbagai moda. Seperti roda empat, roda dua dan sepeda serta pejalan kaki. Siapa tahu pelaku bike to work tumbuh subur. Jadi sepedanya tidak mengaspal ketika ada iven saja.

Saat iven itu, semangat untuk sehat memang berkumandang. Kata Wali Kota Batam, H Muhammad Rudi, bersepeda rutin tiga bulan, kebiasaan ke dokter bisa ditinggalkan.

Barangkali, ada pola tersendiri untuk mendapat formula pesanan Pak Wali itu. Bukan pesepeba banyak klik kamera ponsel untuk ditebar di medsos.

Sementara Kapolda Kepri Irjen Andap B Revianto mengatakan iven itu merupakan semangat bersatu untuk menjadi sehat. Ketika sehat, seseorang akan lebih produktif, fokus dan siap melaksanakan amanah apapun.

Dalam banyak kesempatan saya memang sering melihat aktivitas kerja Kapolda dan Wakapolda Brigjen Yan Fitri Halimansyah dengan menggunakan sepeda. Bahkan saat hujan waktu itu, sebagai upaya membuat masyarakat nyaman merayakan Natal dan Tahun Baru.

Plt Gubernur Kepri H Isdianto menyampaikan bahwa sehat adalah segala galanya. Dengan bersepeda, Isdianto ingin memperlihatkan ke masyarakat sehat itu penting.

Dalam Januari ini, Isdianto terlihat berkali-kali pulang kantor dari Dompak ke Gedung Daerah Tanjungpinang dengan besepeda. Malah dia sudah mencanangkan Kepri Bersepeda pada angka cantik 20022020.

Menjadi sehat memang penting. Yang bisa diraih dengan banyak cara. Entah lewat pola makan, gaya hidup dan olah raga lainnya.

Kalau pesepeda (pemula), rasanya tak perlulah menghitung jarak tempuh. Yang penting terus mengayuh. Kayuh, sampai lutut mengeluh.

Kalau tak kuat, pastikan check point terdekat tempat yang nikmat. Semisal kedai kopi. Apalagi yang tidak memiliki program menuju perut kempis.

Write A Comment