Saat pergantian tahun, sebagian orang selalu memasang tekad masing-masing. Membuat resolusi apa saja yang akan dilakukan tahun berikutnya. Walaupun ada yang semacam ikut arus memasang resolusi pergantian angka. Terlaksana atau tidak, tunggulah 52 pekan berikutnya. Kalau tidak, munculkan lagi resolusi baru di penghujung tahun. Atau niatkan menuntaskan resolusi yang seolah-olah keren itu.

Kadang, saya pun berada di siklus itu. Ingin ada resolusi untuk diri sendiri. Tapi bolehlah memasang resolusi dengan menertawakan diri sendiri. Untuk lebih sehat. Sehat lahir. Juga batin.

Menjalani hidup dengan gaya hidup sehat, entah bisa atau tidak. Tapi kalau dalam perjalanan hidup ini banyak gaya, saya dan sebagian orang pasti punya.

Untuk mencoba tahu sehat atau tidak, pernah juga melakukan general check up. Di negara tetangga. Tiga tahun lalu. Hasilnya, lumayan menjanjikan. Cukup sehat. Meski kadar kolestrol sudah di ambang batas, tak ada larangan memakan apapun yang memicu peningkatan kolestrol.

Aman. Berarti boleh banyak gaya dan agak terlupa gaya hidup sehat. Februari tahun lalu, untuk ketiga kali sepanjang hidup mendonorkan darah. Selain donor, ingin mengecek kadar-kadar yang mempengaruhi di dalam darah. Namun, semua sudah habis. Hanya bisa cek tambahan dengan mengukur lingkar perut.

Dari pengukuran itu, didapat lingkar perut melebihi batas normal lelaki gagah dan penuh pesona. Sejak itu semakin bersemangat untuk membuatnya kempis.

Beberapa kali, pernah membuat tagar #menujuperutkempis. Juga pernah menekadkannya untuk setiap pergantian tahun. Dan selalu gagal. Selalu juga diulangi untuk dilaksanakan. Sampai belum berhasil juga.

Kapan mengempis? Entahlah. Tidak bisa ditusuk dengan jarum supaya mengempis seperti gelembung balon. Tapi karena itu hanya niat buat bahagia, jalani dengan penuh tawa.

Ingin menjalani rutinitas di gym, tapi seolah berada di siklus yang sok sibuk. Beberapa iklan pembuang lemak dan koleganya, selalu menarik perhatian. Tapi tak pernah ingin dicoba.

Banyak juga jenis olahraga yang membuat tubuh berdaya dan penuh pesona. Tapi, entah mengapa semacam sulit untuk memulainya. Seperti jalan dan lari.

Keakraban dengan sepakbola coba disalurkan dengan bermain futsal. Dua tiga menit di lapangan, selebihnya minta diganti. Kalau teman-teman yang ikut tidak mencukupi, ada derita di sini. Sepertinya, bisa dialihkan di sektor komentator. Untuk cabang sepakbola. Padahal, mengomentari orang lain tak membuat tubuh ini lebih sehat.

Karena kalimatnya menuju sepertinya tak akan sampai-sampai. Seperti saya pernah iseng ke petinggi Kota Batam beberapa tahun lalu.

Saat itu, saya tanya, kalau visinya dengan kata menuju kapan akan sampai. Menuju Bandar Dunia Madani. Barangkali dengan berbagai perencanaan yang dibuat serta eksekusi di lapangan, yang dituju akan sampai.

Tenang, ketika ditanya kapan sampai, akan mudah menjawabnya: kan masih menuju. Sedang ke arah yang dituju. Walaupun tak tahu makin mendekat atau malah menjauh.

Lingkarnya makin membesar.

Write A Comment