Ketika beraktivitas di Karimun, saya selalu menyempatkan diri berziarah. Ke makam kedua orang tua. Di pemakaman tak jauh dari rumah. Tempat yang dulu selalu dilewati ketika hendak bermain sepak bola.

http://beradadisitu.com/2018/10/09/sepatu-bola-itu/

Agak berbeda pada ziarah kali ini. Banyak anak-anak juga beraktivitas di kawasan tersebut. Mereka bermain. Bergembira dengan layang-layang. Menunggu siapa yang ngajak beradu. Atau mengejar layang-layang putus. Hari itu arah angin sedang ke kuburan itu. Seorang anak pun baru memenangi pertarungan mendapatkan layang-layang.

Suara keriuhan merekalah yang mengalihkan perhatian. Tentang layang-layang yang baru didapat. Semua bercerita tentang “aku nyaris dapat”. Mereka tertawa, karena yang mendapatkan seorang anak yang posturnya lebih tinggi.

Mereka bertarung. Tapi tidak larut dengan bertengkar. Mereka bergembira dan menikmati pertarungan itu. Setelah selesai, hanya cerita-cerita bahagia yang dilepas.

“Kedewasaan membuat negeri ini bubar.” Demikian penggal cuplikan pementasan teater Indonesia Kita “Kanjeng Sepuh” yang sempat saya tonton awal tahun ini.

Sepertinya semua harus memelihara jiwa kanak-kanaknya. Mereka bertengkar pagi, siangnya sudah akrab kembali. Tak ada dendam. Hidup ini dijalani dengan kegembiraan.

Soal kuburan juga muncul dalam pementasan ini. Lakon dibuka dengan anak-anak yang bermain di kuburan. Mereka tidak takut. Di mana pun bisa meluahkan kegembiraan mereka lakukan. Sama seperti anak-anak yang saya temui di kuburan Sei Pasir, Karimun itu. Seperti tak ada ketakutan lagi bermain di area itu.

Tidak seharusnya sebuah perbedaan menjadi awal mulai pertengkaran. Tapi kadang hal itu tak berlaku dalam kontestasi pemilihan calon pemimpin yang melibatkan rakyat.

Kadang, ketika kontetasi pemilihan bermula, saat itu juga bibit pertelagahan orang dewasa mulai bersemi. Dalam kontestasi pilpres lalu, misalnya, seperti tak ada lelah pendukung dua kubu berada di antara pertengkaran itu. Caci maki dan hasut hasutan seolah menjadi surplus. Macam tak ada celah canda dalam pertarungan antara pendukung pasangan calon yang sedang mengikuti kontestasi.

Padahal, seperti dikatakan sutradara “Kanjeng Sepuh”, Sudjiwotejo, dunia ini termasuk pilpres cuma main main. Tapi kuburan ini serius, Cuk. Yang terpenting dari menjadi tua dan tumbuh dewasa ialah tetap memelihara jiwa kanak-kanak.

“Menjadi tua itu memang kepastian, tetapi yang terpenting ialah tetap harus memelihara jiwa kanak-kanak. Perdamaian dan kerukunan itu akan memungkinkan, kalau kita memiliki jiwa kanak-kanak,” kata Sudjiwotejo.

Di sini, sekejab lagi kontestasi antara calon bermula. Saat ini pun, sudah nampak nama-nama bakal calon yang akan bertarung. Poros-poros sudah mulai disebut. Yang riuh rendah, tentu pendukung tiap poros.

Media sosial menjadi laman mereka untuk menunjukkan eksistensi calon yang didukung. Tentu banyak yang berharap kontestasi di Kepri adalah kegembiraan. Tak berlarut-larut dengan dendam dan sakit hati.

Karena, dalam beberapa tahun ini, kontestasi pemilihan diwarnai perang antara pendukung calon. Yang bermula dari ibu kota negara ini. Terlebih perang informasi yang begitu sengit. Semua berupaya membuat narasi untuk menguasai persepsi publik. Memanfaatkan kabar hoax sekalipun.

Mereka menjadi pendengung untuk mendapat pendukung. Di banyak ruang. Sampai hari ini. Seperti ada saja musuh bersama mereka. Atau pujaan bersama untuk terus dibela.

Padahal, yang ikut kontestasi sudah berangkulan. Juga berbagi semacam kekuasaan. Yang pendukung entah level berapa ini terus bertelagah.

Kita yang berada di sini, marilah bergembira menghadapi musim kontestasi tahun 2020 ini. Kalau sudah bertengkar dan tak memiliki jiwa kanak-kanak, macam sulit meredakannya.

Akh, serius kali tulisan ini. Macam betol aja.

Write A Comment