PIANTAN

Banyak hal yang berubah. Setelah pandemi covid19 melanda dunia ini. Dalam Maret ini, tepat setahun wabah itu mulai melanda Kepulauan Riau. Mulai ada yang mengubah haluan. Mencoba untuk bertahan. Juga perubahan kebijakan-kebijakan. Terutama di pemerintahan, yang berpengaruh pada jalan kehidupan. Ketika kasus pertama terungkap di Jakarta pada awal Maret 2020, saya memang melihat kesiapsiagaan pada

SEKETIP

Artinya patah. Kalau tahu panjang dan terus meningginya tanjakkan itu, barangkali membuat patah. Mungkin bisa patah semangat. Atau patah haluan, lalu mencari jalur lain untuk sampai ke titik terakhir. Patah, itu arti untuk Tugel. Gunung Tugel menjadi jalur yang pedas untuk peserta Jambore Sepeda Lipat Nasional (Jamselinas) Purwokerto agar sampai ke Andang Pangrenan. Ini adalah

WARITA

Barangkali bermula dari pandemi. Lalu ramai-ramai muncul pesepeda. Jalanan pun mulai diramaikan dengan aktivitas kereta angin ini. Terlebih tahun lalu, ketika kebijakan “merumahkan” pekerja lebih dikedepankan. Harga sepeda pun ikut menggila. Demikian juga sparepartnya. Sepeda jadi semacam harta yang paling berharga. Harta, tahta dan sepeda. Sepeda seperti mulai mendapat tempat istimewa. Untuk olah raga, juga

NURAGA

Nonton Dewa jangan bawa Dewi. Itu senda gurau kami-kami dahulu. Puluhan tahun lalu. Waktu masih menuntut ilmu di kampus biru. Universitas Riau, Pekanbaru. Persembahan Dewa waktu itu, menjadi konser pertama kali yang saya tonton. Yang ketika tiketnya dibeli, dapat bonus sebungkus rokok. Yang rokoknya sudah ditunggu teman-teman. Setelah itu, dalam pertengahan tahun 90-an itu, larut

PADUK

Awal Juni lalu, untuk pertama kalinya pesanan majalah Mata Puisi sampai melalui surat elektronik. Di antara semua bahasan itu, perihal hari puisi nasional menjadi bagian yang saya baca dengan seksama. Intinya, harus ada hari untuk itu. Perserikatan Bangsa Bangsa pun, sejak 21 Maret 1999 menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Puisi Sedunia. Bagi komunitas tertentu, penetapan

BOSETA

Setiap dia berkata, pecah menjadi tawa. Siapapun lawan bicaranya. Dia menjadi pesona (bagi saya) untuk hadir menonton pentas Indonesia Kita. Dalam ibadah kebudayaan dengan semangat untuk terus menumbuhkan kecintaan terhadap kekayaan dan keberagaman budaya negeri ini. Pekan lalu, hadir dalam lakon terakhir pentas mereka untuk tahun ini. Mengusung lakon Orang-orang Berbahaya. Ini lakon pertama bisa