Barangkali bermula dari pandemi. Lalu ramai-ramai muncul pesepeda. Jalanan pun mulai diramaikan dengan aktivitas kereta angin ini. Terlebih tahun lalu, ketika kebijakan “merumahkan” pekerja lebih dikedepankan. Harga sepeda pun ikut menggila. Demikian juga sparepartnya. Sepeda jadi semacam harta yang paling berharga.

Harta, tahta dan sepeda. Sepeda seperti mulai mendapat tempat istimewa. Untuk olah raga, juga gaya menggaya. Namun ada juga yang memanfaatkannya untuk aktivitas kerja. Komunitas bike to work semakin tumbuh di berbagai daerah, tak terkecuali Batam yang memang sudah sejak lama ada.

Beberapa daerah menyambut baik kehadiran pesepeda ini. Jakarta langsung pasang target 578 kilometer membangun jalur sepeda hingga tahun 2030. Tahun ini diperkirakan memanjang menjadi 163 kilometer. Tahun 2022 sudah sepanjang 252 kilometer.

Kalau melihat kilometer yang akan dibangun, bahagialah pesepeda di Ibu Kota sana. Aktivitas bersepeda mereka, didukung dengan infrastruktur yang layak. Saat ini memang beberapa terlihat dengan jalur yang tercat warna hijau. Bersisian dengan trotoar. Juga ada yang permanen.

Saya pun pernah berkayuh di berbagai jalur sepeda di sejumlah kota. Terakhir di Pekanbaru, ibu kota Provinsi Riau. Seperti Jakarta, jalur sepeda di Jalan Diponegoro, salah satu pusat kota juga tersedia. Dengan garis cat berwarna putih. Tapi ketika menggunakannya selalu terhalang kendaraan yang berjualan. Yang memarkir melintang dan menutupi jalur sepeda itu. Pandai pandailah kelok berkelok supaya jalannya sepeda lancar.

Jalur bersepeda pun mulai tumbuh di Batam. Yang permanen. Di Batamcentre serta Sekupang. Sangat nyaman dan ramah. Barangkali akan muncul di kawasan lainnya di Batam.

Ini terwujud memang karena kebijakan pemimpinannya. Sebelum pandemi, Wali Kota Batam H Muhammad Rudi sudah menggelar Batam Bersepeda. Pada pekan ketiga Januari 2020 lalu.

Waktu itu Rudi menyampaikan, untuk kota modern, klasifikasi jalan itu terbagi. Dan memberi tempat untuk pesepeda. Rupanya, tidak hanya di perkataannya saja. Di tengah pengalokasian anggaran untuk penanganan pandemi, jalur sepeda dibangun.

Mungkin masyarakat Batam boleh berharap visi transportasi kota ini. Beberapa tahun ke depan. Akan semakin baik lagi dan ramah bagi pesepeda. Karena pembangunan infrastruktur jalannya mengakomodasi kepentingan penghuninya.

Tak hanya sepeda, pengguna jalan yang paling beresiko, yaitu pejalan kaki, kita sudah mendapat banyak “keistimewaan” berkilo-kilometer trotoar sudah selesai dibangun di Batam. Juga beberapa dalam proses. Ke depan akan lebih nyaman karena pepohonan yang ditanam. Mungkin masyarakat Batam bisa ikut merasakan pengalaman dengan pohon yang terus tumbuh. Di trotoar-trotoar itu.

Untuk jalur sepeda, Komunitas Bike To Work (B2W) Indonesia memasukkan Batam sebagai Kota Besar yang ramah sepeda. Yang disanding dengan kota besar lainnya seperti Yogyakarta, Denpasar, Solo atau Bogor.

Tentu dengan makin tersedianya jalur sepeda di Batam, orang yang beraktivitas dengan sepeda semakin banyak. Terutama untuk transportasi sehari-hari. Karena seperti kata CEO Volkswagen, Herbert Diess, bersepeda itu menyenangkan, sehat dan baik untuk lingkungan.

Ke depan, beberapa gedung pun diharapkan semakin ramah untuk pesepeda. Seperti disampaikan B2W Indonesia, kota ramah sepeda adaah kota yang konsep pembangunannya berbasis keamanan, keselamatan, kenyamanan bagi pengguna sepeda. Kondisi ini dicapai melalui kebijakan, program dan kegiatan yang mengintegrasikan komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat dan dunia usaha yang terencana, menyeluruh dan berkelanjutan.

Dalam banyak diskusi, saya selalu mengatakan, pentingnya pemimpin yang mengeksekusi. Tidak hanya mewacanakan. Seperti Wali Kota Rudi mengeksekusi jalur sepeda setelah dikatakannya di hadapan pesepeda di Dataran Engku Putri, tahun lalu.

Saya selalu mengutip Max DePree, seorang ahli kepemimpinan yang pernah berkata, tugas pertama pemimpin itu mendefinisikan realitas, dan tugas terakhir adalah berterima kasih. Di antara keduanya, dia adalah seorang pelayan.

Sekarang pengguna jalan yang paling bawah, pesepeda dan pejalan kaki semakin terlayanai dan diberi tempat di Batam. Tentu tak usah membanding-bandingkan dengan kota dunia yang semakin ramah buat pesepeda.

Seperti Paris yang mendeklarasikan diri sebagai ibu kota bersepeda dunia. Kota ini terus meningkatkan jalur pesepeda. Juga menambah ruang parkir bersepeda. Mengutip mainsepeda.com untuk mewujudkan ini, pemerintah sana menuangkannya dalam rencana bersepeda 2021-2026 yang diterbitkan pada 21 Oktober lalu. Judulnya ‘Plan Velo: Act 2’. Program ini menelan anggaran sebesar 174 juta dolar Amerika atau sekitar Rp2,4 triliun. Program ini dirancang untuk mengubah Paris menjadi ‘kota yang 100 persen bersepeda’ dalam empat tahun ke depan.

Plan Velo: Act 2 memprogramkan pembangunan 30.000 tempat parkir sepeda. Serta tambahan 1.000 ruang yang disediakan untuk sepeda kargo. Paris juga akan mendirikan 40.000 ruang parkir sepeda baru yang aman di dekat stasiun kereta api. Sektor swasta bakal memasang 50.000 ruang lagi.

Tapi tak dijelaskan pula dalam upaya mewujudkan visi Plan Velo: Act 2 itu dengan anggaran kota Paris atau melakukan peminjaman. Rasanya pesepeda pun tak memikirkan itu. Yang penting kota makin ramah sepeda.

Kehidupan pesepeda di Batam pun akan makin bahagia jika jembatan Batam Bintan menyediakan jalur sepeda. Seperti Jembatan Golden Gate yang legendaris di San Francisco menyediakan jalur khusus untuk pesepeda.

1 Comment

Write A Comment