Banyak hal yang berubah. Setelah pandemi covid19 melanda dunia ini. Dalam Maret ini, tepat setahun wabah itu mulai melanda Kepulauan Riau.

Mulai ada yang mengubah haluan. Mencoba untuk bertahan. Juga perubahan kebijakan-kebijakan. Terutama di pemerintahan, yang berpengaruh pada jalan kehidupan.

Ketika kasus pertama terungkap di Jakarta pada awal Maret 2020, saya memang melihat kesiapsiagaan pada sektor kesehatan di Kepri. Mereka berkoordinasi dalam diam. Tak ingin menimbulkan kepanikan. Mengantisipasi jika tiba-tiba sampai ke Kepri.

Apalagi pintu Kepri terbuka untuk lalu lintas orang. Dari dalam dan luar negeri. Karena ada yang menganggap wabah ini “merbahaya”. Apalagi dengan sejumlah video hoax yang beredar tentang orang-orang yang dianggap kena. Tiba-tiba terkapar di jalanan. Atau lainnya. Banyak yang cemas.

Namun selalu ada yang menganggap sepele. Terlebih waktu flu burung dan flu babi melanda dunia, tak tanpak dampak signifikan di negeri ini.

Tepat 17 Maret 2020, seorang warga Bukit Bestari Tanjungpinang yang berusia 71 tahun terkonfirmasi positif. Kerisauan melanda. Terutama di ibukota Provinsi Kepri itu.

Waktu itu, data yang diedarkan sengaja tidak lengkap. Selaksa tanya mengudara. Siapakah gerangan orangnya.

Ketika rasa penasaran masih mencuat, terkonfirmasi lagi pasein positif. Di Batam, di Karimun. Di tiga daerah ini pun mulai mencatatkan tambahan pasien terkonfirmasi. Empat daerah lain selalu hijau. Namun tiba-tiba hampir menjelang setahun seluruh kabupaten kota di Kepri dilanda wabah ini.

Bertambah dan bertambah. Hingga setahun jumlah yang terkonfirmasi hampir sembilan ribu. Di Kepri, tingkat kesembuhan menyentuh angka hampir 96 persen.

Setahun lalu, semacam kesunyian di sejumlah tempat. Ada kebijakan yang membuat sunyi itu. Kebijakan kerja dari rumah. Sekolah diliburkan. Ibadah pun tidak lagi di rumah ibadah seperti masjid.

Pada Maret itu, ketika kebijakan itu dijalankan, jalanan terasa sepi. Sebagai orang yang menggemari sepeda sejak 2019, jalanan sepi suatu menikmati. Saban pagi terus mengayuh.

Olah raga dan sinar matahari menjadi sangat penting. Sepeda mulai laris. Semakin laris dan banyak peminatnya. Tumbuh hingga seribu persen. Harga pun tiba-tiba menggila. Termasuk spare partnya. Pesepeda produk pandemi mendominasi.

Beberapa kebutuhan untuk menangkal penularan virus corona menjadi langka. Handsanitizer payah ditemui. Harga pun menggila. Demikian juga masker. Payah dicari, harga meninggi. Terjadi penimbunan.

Kemudian Ramadhan tiba. Namun tak bisa beribadah berjamaah di masjid dan mushola. Muncul imam-imam baru di rumah-rumah. Termasuk joke seseorang menjalankan ibadah shalat tarawih.

Lebaran tiba, virus masih tetap ada. Tidak ada mudik yang selalu semarak. Shalat Ied pun dilakukan di rumah masing-masing.

Istilah New Normal semakin semarak. Semua harus bersiap-siap dengan normal yang baru. Namun, ledakan pasien positif makin banyak.

Pergerakan dibatasi. Untuk terbang harus membawa surat rapid tes. Kemudian menjadi rapid antigen. Saat awal-awal pandemi, ketika mau masuk ke pelabuhan antri panjang. Diminta berjarak. Suara pemandu dari toa berulang-ulang terdengar: jaga jarak, gunakan masker dan cuci tangan.

Di berbagai tempat keramaian dan perkantoran kini selalu disambut dengan wastapel untuk mencuci tangan. Masker sudah menjadi gaya hidup.

Virus pun menjadi “objek survey”. Mulai keluar prediksi kapan berakhir. Nyatanya hari ini masih mendominasi.

Syukurlah menjelang setahun sudah mulai dilakukan vaksinasi. Seluruh negara berebut dengan vaksin. Indonesia beruntung karena sudah mem-booking duluan banyak vaksin.

Saya pun sudah divaksin. Dua kali sesuai ketentuan. Vaksin ini halal dan aman. Sebagai salah satu jalan memutuskan mata rantai sebaran virus ini. Tentu dengan selalu patuh dengan protokol kesehatan: jaga jarak, hindari kerumunan, gunakan masker, selalu mencuci tangan.

Ini sekadar catatan untuk mengenang pandemi ini begitu dahsyat. Mengubah tatanan kehidupan.

Write A Comment