Kubilai, kau kutip apapun perkataan Tuhan yang kau anggap cocok.

Ini perbualan Kubilai Khan dengan Permaisuri Chabi. Chabi menyindir suaminya, Kubilai, cucu Jenghis Khan. Yang hanya mengambil potongan ayat untuk membenarkan kebijakannya. Untuk memperluas daerah taklukkan dan keinginan lainnya.

Kutipan itu saya nikmati ketika menuntaskan serial Marco Polo. Untuk mencari jalan cerita Penjelajah yang hebat itu. Yang sampai juga ke kawasan Kepulauan Riau ini. Dalam catatan The Travels of Marcopolo.

Tentu tak dapat kisahnya di situ. Serial ini lebih banyak tentang “permagangannya” di Mongolia bersama Kubilai Khan. Karena itu ternikmatilah penggalan kalimat-kalimat dari serial itu.

Seperti: aku tak pernah menikah karena mencoba sebaik mungkin menghindari kekecewaan.

Khan seperti tahu kalau Marco Polo seorang pendiskripsi yang baik. Mampu mengingat apa yang dipandangnya, untuk kemudian menjadi catatan-catatan. Yang mungkin juga menjadi dasar beberapa keputusan Khan.

Laporan yang diskriptip itu barangkali menjadikan dia salah seorang pembisik Khan.

Khan yang suka mencatat, misalnya terlihat sepanjang sepuluh tahun penjelajahannya pada abad ke-13 di berbagai belahan dunia. Catatan itu kemudian terpublikasikan menjadi buku perjalanan yang terkenal: The Travels of Marco Polo.

Dari sinilah sebutan-sebutan tentang berbagai daerah disampaikan. Terutama saat berada di Sumatera. Penggalan catatan Marco Polo pun sempat saya baca dalam buku Sumatera Tempo Doeloe; dari Marco Polo hingga Tan Malaka. Buku ini disusun oleh Anthony Ried, seorang yang tunak dengan sejarah Sumatera.

Dalam catatn itu, Marco Polo mengisahkan tentang sejumlah raja di Sumatera menurut pandangannya. Sejumlah perilaku. Juga tentang hewan di sana.

Yang selalu menjadi penggalan sejumlah orang adalah perbandingan badak dan unicorn; hewan yang selalu digambarkan sebagai kuda bersayap dan bertanduk.

Di Sumatera, Marco Polo mencatatkan bahwa dia menemukan banyak unicorn yang mempunyai bulu seperti kerbau dan kaki seperti gajah. Mereka mempuyai tanduk hitam besar di tengah-tengah kening. Mereka mempunyai kepala seperti babi hutan dan selalu menunduk ke tanah. Mereka lebih suka menghabiskan waktu dengan berkubang dalam lumpur dan lendir.

Karena itu Marco Polo menyimpulkan bahwa badak unicorn ini merupakan makhluk kasar dan buruk rupa yang tidak enak dipandang. Tidak seperti yang digambarkan selama ini.

Dalam catatan itulah tampak Marco Polo menjadikan Bintan sebagai titik pembacanya untuk melihat Sumatera. Mungkinkan pada abad ke-13 itu Bintan lebih hebat dari Sumater kalau melihat catatan Marco Polo? Karena dia menulis dengan kalimat: Sekitar 100 mil di tenggara Bintan. Pembacanya zaman itu seolah paham dengan Bintan untuk tahu di mana pulau Sumatera.

Lihat paragraf pertamanya menggambarkan Sumatera yang termuat dalam buku Sumatera Tempo Doeloe terbitan Komunitas Bambu ini:

Sekitar 100 mil di tenggara Bintan terdapat Pulau Jawa Kecil (bagian utara Sumatera). Anda mungkin paham bahwa pulau tersebut tidak terlalu kecil: lingkar luarnya merentang hingga 2.000 mil. Kami akan memberikan laporan lengkap dan benar mengenai pulau ini kepada Anda.

Itu adalah penggalan dari Travels of Marco Polo. Yang ingin menggambarkan rincian rute untuk mencapai Asia. Yang menjelaskan banyak tentang China dan negeri-negeri yang dilewatinya. Termasuk beberapa pulau di Kepulauan Riau.

Mungkin karena literasi yang rendah, saya belum menemukan kisah-kisahnya saat singgah di kawasan ini. Dalam wikipedia yang saya baca, selain menyebutkan soal Jawa dan Sumatera, Marco Polo juga berkisah tetang Kota Malaiur yang diyakini sebutan untuk Melayu atau Palembang karena juga bercerita tentang Paramsura.

Sebutan Bintan saat awal dia menggambarkan Sumatera sememangnya sangat menarik. Marco Polo menulisnya sebagai Pulau Pertam dan diyakini Bintan karena disebutkan letak pulau ini dari Singapura. Belum ada yang menyakinkan apakah Pertam itu Batam.

Yang juga menarik dalam catatan itu adalah sebutan tentang pulau-pulau kecil di Laut Cina Selagan. Marco Polo menulisnya sebagai Pulau-pulau Sondur atau Condur. Sampai kini masih belum jelas. Bukankah di hampar Laut Cina Selata terdapat pulau-pulau hebat yang dulu lebih dikebal sebagi Pulau Tujuh?

Pulau-pulau ini pernah digunakan sebagai patokan pelayaran Marco Polo. Tak mungkin Pulau Kundur, karena dia lebih berdepan dengan laman Selat Malaka.

Mungkin misteri ini bakal ditemukan. Seperti bingungnya Kubilai Khan dengan encok yang selalu dideritanya saat bersama Marco Polo.

Kata Kunilai Khan: panah dan pedang bisa kutahan, tapi encok, itu kutukan dari Langit Biru Abadi.

Write A Comment