Usai bertemu setiap tanjakan selalu ada turunan. Itulah kebahagiaan. Jangan pernah berpikir di ujung tanjakan ada bakwan atau rumah makan. Bisa terhenti aktivitas, bersepeda misalnya.

Bagi pesepeda, tanjakan adalah tantangan. Apalagi yang kemiringannya semakin tinggi, akan semakin beratlah menanjak. Bersepeda tanpa menemukan tanjakan adalah kemustahilan. Kecuali memang niat mencari jalan datar. Di Batam rasanya sulit, pasti selalu bertemu tanjakan dengan kemiringan seminimal mungkin.

Kecuali berputar-putar di suatu kawasan yang memang lokasinya flat. Datar. Semacam kawasan Harbour Bay, yang sekali putar bisa mendapat 2,7 kilometer. Atau seputaran Dataran Engku Putri, Batamcentre yang juga cukup datar. Bisa menemukan tiga kilometer sekali putar. Atau ngeloop di Sekupang dari lampu merah ke pelabuhan internasional. Bisa jumpa 10 kilometer.

Di Pulau Batam, sebenarnya banyak tanjakan yang menantang. Dengan kemiringan bisa mencapai persenan tertinggi. Tidak berat kalau seorang pesepeda, cukup rutin latihan.

Kemiringan tanjakan biasanya diukur dalam bentuk persen. Dalam “ilmu miring-miringan jalan”, disebutkan bahwa kemiringan jalan satu persen, menyatakan adanya kenaikan satu meter dalam bentuk vertikal dalam jarak mendatar 100 meter (horisontal). Bahasa matematisnya 1:100, atau satu persen.

Karena itulah di berbagai alat ukur saat menanjak, gradien atau kemiringan langsung diperlihatkan. Pada beberapa perangkat tertentu sudah ditampakkan kemiringan sekian persen ada di depan mata.

Tentu kode itu sebagai ancang-ancang, bukan niat memutar lalu pulang.

Ketika memulai sepeda, dari titik kumpul misalnya, kita bisa menentukan tanjakan mana yang harus ditaklukkan. Cukup banyak tanjakan menantang di Batam untuk dilalui. Dalam sekali bersepeda.

Kalau sedang main-main ke arah Harbour Bay, sesekali bolehlah mencoba tanjakan ke Bukit Senyum. Yakinlah akan tersenyum manis ketika sampai di puncaknya. Ke Bukit Senyum, hanya sekali tanjakan dengan kemiringan tertinggi mencapai 12,5 persen. Cobalah.

Kalau mau bermain di tanjakan sederhana, cobalah menuju Sekupang. Ada empat tanjakan yang panjang dan panjang. Jika dari kawasan Batamcentre, tanjakan di Hotel Vista adalah tantang utama. Pesepeda di Batam biasa menyebut tanjakan vista. Cukup panjang dengan kemiringan tertinggi hampir 9 persen.

Dari sini, bertemu dengan tanjakan di Southlink. Kemudian bertemu tanjakan di Tiban Kampung dan Taman Sari. Kemiringannya di tiga daerah ini berkisar 7 persen. Setelah itu, dapat menikmati jalur datar hingga ke Pelabuhan Internasional.

Tapi kalau sudah di kawasan ini, cukup banyak laman bermain untuk menaklukkan tanjakan-tanjakan. Bisa dipilah tiap pekan. Kecuali terniat ingin menaklukkannya dalam seharian.

Bisa memilih ke Tanjungpinggir atau ke Tangga Seribu, kalau ke Tangga 1000, dapat kemiringan tanjakan tertinggi pada angka 20 persen. Jika kembali juga masih bertemu tanjakan kisaran 10 hinhha 12,2 persen.

Ke Tanjungpinggir, pun cukup tinggi. Juga landai. Jika sudah ke sini, cobalah bermain ke Tanjakan Radio Batam FM. Dari depan KTM. Pendek dan tanpa bonus. Karena langsung naik. Kemiringan? Coba lah sendiri kemudian cek di strava. Persentase kemiringan dalam tulisan ini memang saya lihat di strava melalui webnya.

Selesai di kawasan selatan Batam ini, bermainlah ke arah Nongsa. Tanjakannya asik. Bermula dari Tanjakan di depan Perumahan Legenda Bali yang mulai menguras tenaga, dan menemui tanjakan-tanjakan sedang hingga ke Bundaran menuju Telaga Punggur. Di sini, panjang dan bisa bertemu di amgka 8 persen untuk kemiringan tertingginya. Lanjut bermain-main bak roller coster hingga ke perempatan Batu Besar.

Bersiaplah menuju Nongsa. Untuk menemukan spot terbaik berfoto ria. Banyak kawasan wisata juga di sini. Beberapa malah memilih untuk menikmati senja di beberapa pinggir hotel dengan gorengan penambah tenaga.

Di Nongsa, kota bisa memulai dengan jalur lurus atau belok kiri. Teman-teman pengguna road bike selalu ngeloop di sini. Karena sekali putar bisa dapat 12,4 meter. Cobalah dari kedua sisi.

Jika melalui sisi kiri, di tiga tanjakan terakhir akan bertemu kemiringan belasan persen. Kalau jalur lurus, pulannya cukup ringan. Di sini biasanya ada bonus karena banyak spot untuk foto. Atau bermain-main ke pantai-pantai kawasan sini.

Jika mau pulang, cobalah sarapan ke TanjungBemban. Jumpa satu tanjakan cukup menantang. Pas pergi, jalur pendek dan sekitar delapan persen kemiringannya. Tapi pas pulang, haru menaklukkan tanjakan hingga 12 persen. Biasanya setelah bertemu menu di Kedai Atoks, kemiringan tinggi itu mudah ditaklukkan. Jika pulang ke arah Nagoya, juga bertemu dengan tanjakan yang panjang. Kemiringannya sedang, tapi jalurnyabyang panjang membuat emergi bisa terkuras.

Selesai di jalur Nongsa bermain-mainlah di jalur Batuaji atau menuju Masjid Sultan Mahmud Riayatsyah. Hanya satu tanjakan sadis di sini. Bukit Daeng kalau pesepeda menyusurinya dari Batamcentre. Karena dapat kemiringan 8,7 persen dan cukup panjang. Sampai di puncak, bonus turunannya sedap untuk dinikmati. Tentu dengan hati-hati.

Ketika pulang dari jalur ini dapat kesadisan baru. Sudahlah panjang, kemiringan bisa hingga 14 persen. Sebenarnya jalur pulang kalau sudah bermain di Tanjunguncang, juga bisa melalui Sekupang. Hanya tanjakan-tanjakan kecil dengan kemiringan 4 persen hingga ke lampu merah Sei Harapan.

Tapi bisa juga menyusuri jalur Marina. Biaa bertemu dengan satu tanjakan panjang dengan kemiringan mencapai 6,8 di Tanjungriau. Ke depan, Tanjungriau akan menjadi spot baru kunjungan pesepeda, karena pengembangan kawasan ini menjadi sangat menarik.

Kalau ingin mencari tanjakan ringan, dan tak mau menaklukkan Bukit Daeng, bisa memilih ke Tanjungpiayu. Hingga ke kawasan restoran di sana. Tanjakan ekstremnya cuma satu dan mudah ditaklukkan. Tapi di ujungnya banyak restoran untuk energi baru.

Jalur Telagapunggur pun cukup menantan. Bisa bermain hingga ke pelabuhan domestik untuk ke kota-kota di Pulau Bintan. Kemiringannya tidak sadis. Di antara naik turun, di sekitar kantor camat Nongsa yang cukup tinggi.

Tapi jika ingin tantangan lebih, dan pernah melewati jalan melingkar di pelabuhan, cobalah menuju Tanjungpiayu. Masuk melalui kawasan Bumi Perkemahan kemudian ke Dam Duriangkang yang sempat dihebohkan dengan “uang tol” dua ribu perak. Ada beberapa tanjakan dengan kemiringan 8,8 dan hingga 11,3 persen.

Dulu spot fotonya sangat menarik. Tapi demi keselamatan, saat ini proses pemagarannya sudah mencapai bagian akhir.

Di Pulau Batam, untuk latihan-latihan Tanjakan bisa mencoba di jalur Edukit atau Golden Land depan perumahan Plamo Garden. Juga coba menyusuri Bengkong melalui tanjakan setelah lampu merah kawasan Indomobil. Cukup panjang untuk ke Bengkong. Atau berlatih di tanjakan kawasan Pelita yang cukup panjang. Menyusuri kawasan SeiPanas. Juga bisa bermain-main hingga ke Simpang Frenki atau Pollux.

Ada juga tanjakan pendek dengan kemiringan cukup tinggi untuk berlatih. Di depan kantor camat Lubukbaja, ketika ingin ke Batamcentre bisa bertemu dengan tanjakan pendek berkemiringan 8 persenan.

Selesai bermain-main dengan tanjakan di Pulau Batam, cobalah berroler coster ke kawasan Barelang. Ada tiga pilihan daerah taklukkan di kawasan ini.

Pilihan pertama bisa ke Setokok. Menjelang memasuki Pulau Stokok, pesepeda langsung disambut dengan kemiringan 7 persen pada tanjakan pertama. Setelah itu kemiringan sekita 6 tanjakan lagi di bawah 10 persen. Tapi pulau dari kawasan ini, silakan taklukkan tanjakan dengan kemiringan 11,8, 12 persen dan tertinggi 16,3 persen. Dua kali beradadisitu, ada dua teman juga yang menggunakan tenaga dorongan di kemiringan 16 persen tersebut. Katanya karena ada pasir di rantai sepeda.

Selesai Setokok, taklukkan Sembulang. Saya lebih memilih bergerak dari kawasan jembatan satu untuk di Sembulang. Bisa menuntaskan grand fondo 100 kilometer.

Ke ujung Sembulangnya cukup asyik. Ada 14 tanjakan yang harus ditaklukkan. Di tanjakan ke delapan dan sebelas bisa membuat lutut memelas. Bisa bertemu dengan kemiringan 7,1 atau 8,7 hingga 11,6.

Ketika pulang, kemiringannya pun menggoda. Di empat tanjakan dari 14 itu ada kemiringan 9,7 persen. Juga 10,2 dan 13,1. Serta satu tanjakan dengan kemiringan 16 persen.

Kalau sudah ke Sembulang, jangan lupa menikmati hindangan di restoran Cita Rasa. Bukan karena menu yang enak di sini serta kelapa pandannya, tapi ada satu tanjakan yang juga harus ditaklukkan. Menjelang ke restoran taklukkanlah kemiringan 1,1 persen. Jika sudah kenyang, kemiringan 11,5 sudah menunggu.

Satu rute tanjakan terakhir yang menantan adalah ke titik 0 Kilometer. Di Pulau Galang Baru. Ada yang menyebutnya gowes ke Cangkang. Bisa dipilih untuk rute sekali jalur dengan loading di tiap ujung atau pulang pergi.

Jika memilih dari kawasan jembatan satu, akan dapat 111 kilometer pulang pergi. Jika sekali jalan, angka 55,7 kilometer rasanya sudah juara. Karena tanjakan-tanjakannya yang menggoda.

Saya sekali baru menaklukkan kawasan ini. Pulau pergi. Untuk mendapatkan 11,4 kilometer. Menggunakan sepeda lipat. Karena pertama kali, butuh waktu hingga 7 jam. Memilih banyak berhenti, sambil mencari energi baru.

Penaklukkan ini adalah kebetulan. Karena teman-teman di Komunitas Besok Gowes Batam ingin bermain-main di sana. Ditelusurilah pelan-pelan. Hingga sampai dan kembali lagi.

Tahun ini, Besok Gowes Batam ingin menaklukkan lagi. Pulang pergi.

Bagi seorang pesepeda, waktu adalah musuh terbesar. Makanya waktu-waktu yang dilalui ingin ditaklukkan lagi. Baik sebagai personal rekor, maupun bisa melewati rekor-rekor lainnya.

Sebenarnya cukup mudah menaklukkan tanjakan itu. Di kemiringan tertinggi, saya biasanya adalah tim gigi satu dengan sepeda lipat. Sambil melihat-lihat detak jantung. Tentu dengan agak rajin latihan.

Sebab, semahal apapun sepeda, kalau tak pernah digunakan, tak pernah berlatih bersama, kemiringan rendah pun tak bisa dilewati.

Bersepeda adalah menemukan kebahagiaan. Dengan penaklukkan terhadap rute-rute yang tersedia. Kita bisa memilih rute yang menyenangkan atau penderitaan. Juga dengan siapa teman bersepeda. Karena teman bersepeda bisa menyenangkan, atau barangkali sebaliknya.

Apapun itu mengayuhlah.

Write A Comment