Buku-buku di rak itu mulai berserakan. Berserak itu bukan karena sering gonta ganti mengambil buku untuk dibaca. Lebih karena membeli beberapa buku, dan meletakkannya. Walau sesekali melihat judul dan terniat untuk menuntaskannya.

Saat jeda aktivitas ada, buku-buku itu mulai dirapikan. Ternyata, selama dua tahun, lebih banyak membeli buku yang berkaitan dengan sepakbola. Dua buku tentang Alex Ferguson, pelatih Manchester United yang hebat itu. Ada juga buku tentang Steven Gerard, legenda Liverpool, klub yang setelah 30 bisa juga juara. Juga Luis Suares, yang kini di Atletico Madrid dan sempat di Liverpool serta Barcelona. Satu lagi membaca arogansi Zlatan Ibrahimovic.

Sekali waktu, di awal pandemi corona ini langsung membeli belasan buku. Melalui marketplace dan ke penerbitnya langsung. Masih juga ada tentang sepak bola. Dengan judul Mengapa Sebelas Lawan Sebelas. Terselip juga buku tentang sepeda. Perjalanan seorang guru dari Inggris menuju India. Dengan bersepeda. Menyesuaikan hobi sejak dua tahun lalu.

Selebihnya buku-buku sastra dan bermacam-macam. Mungkin lapar judul. Beberapa tuntas, beberapa masih belum dikupas. Plastik pembukusnya. Dipilahlah mana yang belum tuntas dan mana yang masih bersampul rapi.

Di antara buku-buku itu, ternampak dua buku yang sudah tuntas. Untung Sabut; autobiografi almarhum H Muhammad Sani. Salah seorang putra terbaik Kepri. Gubernur Kepri dua periode. Yang dilantik lima tahun lalu di Istana Negara, Jakarta oleh Presiden Jokowi. Tepatnya 12 Februari 2016. Pelantikan perdana langsung oleh Presiden. Dengan prosesi nan megah.

Satu lagi buku mantan Presiden Korea Selatan, Lee Myung-Bak. Judulnya Gerobak Lee Myung-Bak. Kisah hidup Lee hingga sukses menjadi Presiden. Kisah perjuangan yang hebat. Kisah perjuangan dan hidup dari mendorong gerobak.

Untung Sabut termasuk yang cukup hafal isinya. Kisah-kisahnya. Termasuk tentang kesan-kesan teman almarhum tentang Ayah Sani. Semua tentang kebaikan-kebaikan.

Ketika membaca buku Lee, pada beberapa bagian, saya selalu terkenang kisah dan perbualan dengan Ayah Sani.

Satu kali, saya membaca pesan Lee tentang jalan mengenang bukan yang baik. Kata Lee, aku belajar dari kegagalan dan kesalahanku. Aku selalu menanamkan dalam hati bahwa lebih baik melupakan yang bagus-bagus dan justru mengingat yang buruk-buruk. Ini karena kesuksesanku akan dikenang orang-orang; aku tidak harus terus-menerus mengingatkan diri sendiri. Namun, aku harus selalu mengingat kegagalanku, karena kalau sampai lupa, aku cenderung akan mengulanginya.

Tentang kisah kebaikan ini, Ayah Sani selalu berpesan, yang harus selalu diingat adalah kebaikan orang lain kepada kita dan keburukan kita kepada orang lain. Ada dua hal juga yang perlu kita lupakan. Pertama, kebaikan kita kepada orang lain. Dan kedua, keburukan orang lain kepada kita.

Soal baik dan tidak baik ini adalah sebuah bisnis. Almarhum Ayah Sani selalu berpesan bahwa ada bisnis yang tidak pernah merugi: Bisnis Kebaikan.

Inti dari bisnis ini adalah terus berbuat baik kepada siapapun. Jangan berharap balasan dan lain sebagainya. Lakukan dengan ikhlas tanpa harus mempertimbangkan, dengan melakukan bisnis ini, kita akan mendapat imbalan itu.

Teruslah berbuat baik. Walaupun apa yang kita lakukan belum tentu baik menurut orang lain. Baik menurut kita belum tentu baik menurut orang lain. Semangat kebaikan itu harus terus ditularkan. Berlomba-lombalah berbuat kebaikan.

Itulah Ayah Sani. Terus saja berbuat. Tentu dengan semangat kebaikkan. Kebaikan untuk semua.

Atau seperti dikatakan Lee: Cepat atau lambat,  kalau pekerjaan kita baik akan selalu dikenang orang. Itulah harta yang terindah. Kita harus bekerja dengan ikhlas.

Write A Comment