Kosa kata ini cukup sering kami guna kan. Sebagai sebutan untuk barang yang buruk bin jelek. Tidak baru. Atau sudah sangat lama. Penampakannya sudah tidak lagi gagah.

Misalnya ada seorang teman membawa barang, dah bertemu. Ternyata barang itu kayak dikomentari kurang cakep.

“Koro na. Dapat darimana?”

Untuk menjelaskan bahwa barang yang dibawa itu jelek. Tidak baru lagi. Darimana mendapatkan barang jelek ini.

Pokoknya segala sesuatu yang buruk selalu tersebut koro na. Dalam bahasa candaan. Bukan penekanan pada ejekan.

Itu kata yang biasa terucap anak-anak di rantau Kepulauan Riau ini. Termasuk saya dahulu di Karimun.

Tapi sejak melakukan perjalanan pendidikan dan aktivitas pekerjaan, kata ini sangat jarang terucap. Sesekali kalau pulang ke Karimun ikut terdengar. Kalau berkumpul dan ramai anak-anak.

Sampai awal tahun ini tiba-tiba kata itu menyeruak. Membawa “badai buruk” bagi segala sisi kehidupan. Sampai hari ini.

Kesehatan terganggu dengan sangat parah. Ekonomi terjun bebas. Kontraksi pertumbuhan pun dua kali minus. Kuartal kedua minus 5,3 persen dan kuartal ketiga ini minus 2,9 persen. Rumus resesi: dua kuartal berturut-turut pertumbuhan ekonomi minus, itulah tandanya.

Corona membawa badai buruk bagi dunia ini. Masyarakat dunia yang terinfeksi bergerak ke angka 45 juta. Indonesia bergerak ke angka 400 ribu. Sementara provinsi ini yang terkonfirmasi positif bergerak ke angka 4.000.

Kontraksi pertumbuhan ekonomi Kepri pun mencapai minus 6,6 persen. Pada kuartal ketiga ini. Semoga tidak menjadi tanda-tanda babak belur.

Sejak wabah ini melanda, kata corona pun semakin akrab. Untuk di Batam, sebenarnya corona sudah mewabah ketika mobil-mobil bekas dari Singapura bisa masuk. Ada Toyota Corona yang memenuhi jalanan Batam. Sampai sekarang pun masih ada.

Mobil ini diproduksi Toyota Motor Coorporation. Sejak 1957 hingga 2003. Setelah itu Corona tak diproduksi lagi oleh Toyota.

Tahu-tahu corona melanda dunia. Yang katanya dari Wuhan, China. Membawa keburukan bagi banyak sektor. Sempat “mati” banyak aktivitas. Sampai hari ini.

Saya pun mencoba mencari darimana kata koro na di kawasan ini muncul. Tapi tidak melakukan pencarian seperti dalam film The Professor anda Madman, tentang kisah misterius pada sejarah penyusunan Kamus Besar Bahasa Inggris Oxford pada abad ke-19.

Mereka mencari defenisi tiap kata. Asal usul dan penggunaannya.

Saya pun sempat berbincang dengan beberapa orang. Tentang kata korona. Dari mana. Dan apa artinya.

Baru tahu bahwa Koro itu dalam akar kata Melayu; biji zakar termasuk ke dalam. Sekaligus lambang dia tak jantan. Tekesup. Lau lalu masuk dlm percakapan sosial menjadi “terkesan buruk”.

Memang membawa kesan buruk corona itu. Buruk sekali.

Write A Comment