Game ini saya gunakan untuk menguji kekuatan signal di berbagai pulau di Kepri. Terlebih saat kunjungan ke Natuna, Anambas dan Lingga. Kalau pokemon go bisa dibuka, maka kirim pekerjaan berupa foto dan teks pasti lancar. Kalau tidak, berarti kirimannya akan mengalami proses yang lambat.

Kemajuan jaringan internet daerah-daerah tersebut memang terukur dari kelancaran bermain pokemon. Termasuk berapa banyak pokestop atau pokegym, tempat berperang. Itu dalam “kebiasaan” ponsel saya.

Sejak bermula 2016 lalu, game ini terus berkembang. Walaupun di Indonesia peminatnya terus menurun. Tapi fasilitas untuk bermain semakin mereka perbanyak. Di Batam, khususnya, pemain pokemon tahu banyaknya tambahan-tambahan itu.

Sarana permainan itu bertambah barangkali karena keuntungan yang terus meningkat. Saban tahun, pundi-pundi uang terus mengalir. Termasuk di masa pandemi ini.

Dalam catatan sensor tower, hingga semester pertama tahun 2020, para gamer sudah mengeluarkan 446,3 juta dolar AS. Kalau dirupiahkan berkisar Rp6,56 triliun. Kesuksesan angka tahun ini sepertinya bakal mendekati pendapatan tahun 2019.

Saat itu, para gamer pokemon go mengeluarkan 905 juta dolar US. Atau sebesar Rp13,3 triliun. Ini merupakan angka terbesar pengeluaran para gamer untuk pokemon go sejak pendapatan tahun pertama ketika game besutan Niantic ini meluncur tahun 2016 lalu.

Dalam catatatn sensor tower, 2016 ketika game ini pertama meluncur, puncak kegilaan sepertinya tercapai. Setelah peluncuran Juli 2016, para gamer seluruh dunia mengeluarakan 832,5 juta dolar AS. Setara dengan 12,26 triliun rupiah.

Dalam pendapatan mereka tahun 2016 itu, rasanya tercatat uang saya sebesar Rp5.000 (lima ribu rupiah). Saat itu saya membeli 100 koin untuk keperluan permainan.

Sampai tahun lalu, pokemon go sudah mendulang uang sampai Rp35 triliun. Karena itu mungkin game ini terus mengembangkan arena permainannya. Saat merayakan ulang tahun keempat pada Juli lalu, mereka mereguk pendapatan pemain secara global sebesar 3,6 miliar dolar. Lebih besar dari APBD seluruh Kepri.

Tentu uang terbesar mereka dapat dari Amerika. 1,3 miliar dolar AS, selama empat tahun masuk dari gamer di negeri Paman Sam itu. Secara persentase, AS menyumbang 35,4 persen uang masuk. Jepang mengikuti diurutan kedua. Lalu diikuti Jerman.

Pendapatan itu pun mengikuti jumlah pemain di negara-negara penginstal. Dari 576,7 juta unduhan sejak empat tahun lalu, memang AS mendapat mayoritas penginstalan, mencapai 105,2 juta. Diikuti Brasil dengan 63 juta unduhan dan Meksiko dengan 36 juta unduhan. Jepang dan Jerman tak masuk tiga besar, tapi pengeluaran uangnya cukup besar.

Masa pandemi itu pun membuat Niantic semakin memanjakan pemainnya. Dia tahu bahwa tak banyak yang keluar rumah, tapi duit yang masuk tetap berlimpah. Pokemon itu didatangkan ke rumah-rumah. Dekat dengan para pemain. Mungkin juga ditengah kebosanan gamer ini membuka pokemon sebagai salah satu pengisi kebosanannya. Niantic pun membuat para gamer bisa berperang dengan lawan di pokegym walaupun jauh. Tentu ada uang yang harus keluar. Tak heran kalau pada Mei dan Juni tahun ini, ketika pandemi, uang masuk mereka cukup tinggi.

Di Batam, jumlah pemain sepertinya terus menurun. Hal ini bisa saya lihat dari arena permainan di pokegym. Mereka yang bertarung hanya itu-itu saja namanya. Pun perubahan di pokegym cukup lama. Lawan sudah jarang lewat.

Paling hari Jumat dan di pasar terjadi pergantian yang cepat. Niantic sejak awal melepas pokemon go memang meletak pokestop dan pokegym di tempat-tempat ibadah. Juga kawasan perkantoran. Juga di pusat perbelanjaan. Kalau di Batam, Nagoya Hill menjadi arena yang besar untuk bermanja-manja dengan pokemon go. Kalau tempat ibadah, Masjid Raya Batam jadi arena juga buat bermanja-manja.

Karena sering memasang pokestop di tempat ibadah, saya pun selalu menemukan ini di Natuna Anambas dan Lingga. Di Ranai, sejak 2018 mulai ada pokestop di Masjid Jami dan Masjid Agung Ranai. Di Anambas juga mulai di tahun yang sama. Di Masjid Jami Baiturahim Tarempa. Tapi hanya di Tarempa, di Letung yang mulai tumbuh subuh wisatanya tidak ada lahan bermain pokemon. Demikian juga di Palmatak, kosong. Itu tanda-tanda signal di sini tidak kuat. Kalau di Dabo, hanya jumpa di Masjid Rayanya. Satu pokestop.

Itu tanda-tanda kalau mau mengirim file pekerjaan dengan kapasitas besar bisa lancar dari kawasan tersebut.

Sebenarnya hanya ingin memetakan kekuatan signal di berbagai kawasan utama di Kepri. Barangkali ini juga memudahkan belajar melalui jaringan saat ini. Ketika “pasukan negara api” covid19 menyerang dunia.

Walaupun terbaca keuntungan berlimpah Niantic. Menggosipkan keuntungan orang lain, ternyata tidak asik. Bisa bikin “sirik”.

Write A Comment