Dulu, semasa di Pekanbaru, cukup akrab dengan GOR Tribuana. Beberapa kali menonton konser musik di sini. Dan hanya masuk untuk menonton konser. Tak pernah menyaksikan iven olah raga.

Ketika Stadion Sepakbola di Dompak, Tanjungpinang, Pusat Pemerintahan Provinsi Kepulauan Riau dinamai Gelora Sri Tri Buana, ingatan teralihkan ke Pekanbaru. Terkenang serunya konser-konser itu.

Sri Tri Buana, Biram Dewa dan Arung Birawa memang menjadi nama-nama yang diusulkan untuk stadion di Dompak. Arung Birawa menjadi pilihan dan sejak Agustus sudah terdengar nama itu untuk stadion. Dengan segala latarnya.

Ketika pilihan beralih ke nama Gelora Sri Tri Buana, segala latar belakang pun disampaikan. Nama ini mengingatkan pada cerita Sang Nila Utama.

Yang kisahnya bermula dari Bukit Siguntang, Palembang. Ingatan saya pun beralih kepada buku Sejarah Melayu. Sulalatus Salatin Sejarah Melayu yang diselenggarakan oleh A Samad Ahmad. Banyak versi terjemahan Sulalatus Salatin ini. Ada versi Abdullah Abdul Kadir Munshi atau WG Shellabear dan lainnya. Mungkin banyak kedangkalan ketika bercerita dari satu sumber buku.

Saya menikmati cerita di buku ini karena beberapa nama dan tempat cukup akrab. Ada Kuala Kuantan di Inderagiri, ada Gunung Lingga, juga Tanjung Bemban, tempat berkali-kali sarapan jika gowes ke arah Nongsa. Ada juga kisah Badang yang kini makamnya ada di Pulau Buru, Karimun. Sewaktu kecil pernah juga ke sana. Mengukur panjang nisan yang tak pernah sama.

Kisah Sri Tri Buana pun saya baca kembali. Mulai dari bagian Bukit Siguntang. Ketika tiga turunan Iskandar Zulkarnain “tiba” di sana. Dengan segala perhubungan kerajaan, tiga orang itu kemudian menyebar. Karena dijemput para raja. Sang Si Perba ke Minangkabau. Krisyna Pandita ke Tanjungpura. Tinggal Nila Utama di Palembang.

Nila Utama bergelar Seri Tri Buana. Kisah berjalan dengan kemegahan dan kejayaan. Sri Tri Buana pun menikah dengan anak Demang Lebar Daun. Lama di Palembang, Sri Tri Buana ingin mencari tempat membuat negeri. Dan ingin melihat laut.

Pelayaran bermula. Simak kemegahan pelayaran itu: maka Sri Tri Buana pun berangkatlah, berkenaikan telumba berdandankan emas bertatah permata, perbujangan lelayang berdandan perak bersendi tembaga suasa. Maka Demang Lebar Daun dengan segala menteri hulubalang masing-masing dengan perahunya, ada tongkang, ada ganting, ada kelulus. Maka rupa perahu mereka yang mengiring itu terlalu banyak, bagai tiada dapat dibilang rupanya penuh di laut: rupa tanggul panji-panji seperti awak berarak: rupa payung segala raja-raja dan catria seperti mega membangun; rupa tiang seperti pohon kayu. Setelah sampai ke kuala, lalu berlayar menyusul.

Dari pelayaran ini lah Sri Tri Buana mulai “menemukan” Bintan dan Temasek alias Singapura. Pertama mereka sampai ke kuala Inderagiri.

“Apa nama sungai ini?” Tanya Sri Tri Buana

“Kuala Kuantan tuanku, namanya,” kata mereka yang ikut dalam pelayaran

Ketika nampak gunung Daik, Sri Tri Buana, bertitah, “Gunung mana yang kelihatan dua itu?”

“Gunung Lingga, tuanku.”

Layar terus terkembang. Sri Tri Buana sampai di Selat Sambu.

Kabar ketibaan Sri Tri Buana di Selat Sambu sampailah ke penguasa Bintan, Wan Seri Beni. Mangkubumi yang bernama Aria Bupala dan Menteri Bupala yang mendengar kabar raja dari Bukit Siguntang sampai di Selat Sambu segera mempersembahkan kabar kepada Wan Seri Beni, penguasa Bintan.

Kabar diterima, Aria Bupala dan Menteri Bupala diminta “menjemput” Sri Tri Buana dan pasukannya.

“Jikalau ia tua katakan adinda empunya sembah dan jikalau ia muda katakan bonda empunya salam,” kata Wan Seri Beni.

Penjemputan pun dilakukan ke Selat Sambu. Ketibaan Aria Bupala disambut Demang Lebar Daun. Setelah perbincangan disampaikan, Aria pun dibawa menghadap Sri Tri Buana. Aria Bupala pun tercengang, dipandangnya Sri Tri Buana yang muda teruna.

“Tuanku, paduka bonda empunya salam, tuanku dipersilakan paduka bonda masuk ke negeri, itupun jikalau ada dengan tulus ikhlas duli tuanku.”

Sri Tri Buana pun bertitah,”Katakan sembah kita kepada paduka bonda, esoklah kita menghadap paduka bonda.”

Dalam Sulalatus Sulatin, Sri Tri Buana jadi anak angkat Raja Perempuan Bintan. Sri Tri Buana pun menghadap Paduka Bonda. Maka titah Wan Seri Beni, “Ya anakku tuan, santaplah sirih bonda yang tiada dengan sepertinya. Besarnya untung Bonda, tuan datang ke negeri ini dan kerajaanlah tuan di sini.”

Beberapa waktu kemudian, setelah menetap di Bintan, Sri Tri Buana pun hendak bermain jauh dari Bintan. Hendak berlayar mencari tanah baru. Keinginan ini pun disampaikan kepada Wan Seri Beni. Sempat menolak, akhirnya perjalanan itu direstui.

Perlayaran pun berlangsung dengan armada yang besar. Dalam catatan Sejarah Melayu, disebutkan bahwa perahu dari Teluk Bintan ke Lobam tiadalah berputusan. Sebegitu banyaknya.

Sri Tri Buana hendak bermain-main ke Bengkilau. Ia pun turun. Bersama sang istri memetik kemunting. Ramai yang mengiringi. Dari kesibukan itu, ternampaklah suatu daratan.

“Tanjung mana yang di seberang itu?” Sri Tri Buana bertanya.

“Tanjung Bemban Tuanku, namanya,” kata Menteri Bupala.

Sri Tri Buana pun menuju daerah yang kini masuk Kecamatan Nongsa Kota Batam itu. Semua turun. Bermain di pasir pantai. Mengambil remis dan kerang-kerang. Lazimnya jika kita ke pantai hari ini.

Juga dikisahkan perburuan yang dilakukan dari Tanjung Bemban ke Tanjung Sengkuang. Kisah “penemuan” Singapura bermula dari sini. Saya kutip sebagaimana aslinya.

Maka berburu itu sampai kepada bukit. Maka anjing baginda terjun dihambat seekor pelanduk putih. (Dalam bahasa sini, dihambat itu berarti dikejar).

Maka titah baginda, “Baiklah tempat ini dijadikan negeri, anjing kalah oleh pelanduk, jika manusia betapa lagi?”

Maka perintah baginda kepada Demang Lebar Daun, “Paman kerahkan orang menebas tempat ini, kita perbuat negeri,” seraya Baginda naik ke atas bukit itu.

Serta Baginda memandang ke seberang, maka terlihatlah pasir merentang terlalu putih.

Maka Baginda bertanya kepada Menteri Bupala, “Tanah mana pasirnya yang merentang putih di seberang itu?”

Maka sembah Menteri Bupala, “Pasir di sebelah tanah besar tuanku, Temasek namanya.”

Dari Tanjung Bemban, ternampak Singapura. Kisah Sri Tri Buana dalam Sulalatus Salatin ini masih panjang. Termasuk perlayarannya ke Temasek dan kemudian menyebutnya menjadi Singapura. Biarlah kisah itu terhenti di sini, karena kalau berkisah soal Singapura, ingin pula rasanya ke sana. Tapi wabah ini memutuskan perhubungan ke sana.

Kini, Gelora Sri Tri Buana sudah diresmikan sempetan Hari Jadi Kepri yang ke-18 pada 24 September 2020. Barangkali, banyak kisah yang harusnya memotivasi dari nama itu. Untuk melahirkan kehebatan dan kejayaan. Barangkali lagi, di dinding Gelora itu ada catatan tentang kehebatan Sri Tri Buana.

Biar generasi yang akan datang tahu dengan “nenek moyangnya”.

Write A Comment