Awal Juni lalu, untuk pertama kalinya pesanan majalah Mata Puisi sampai melalui surat elektronik. Di antara semua bahasan itu, perihal hari puisi nasional menjadi bagian yang saya baca dengan seksama. Intinya, harus ada hari untuk itu. Perserikatan Bangsa Bangsa pun, sejak 21 Maret 1999 menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Puisi Sedunia.

Bagi komunitas tertentu, penetapan hari-hari itu penting untuk dirayakan. Barangkali ada banyak pesan yang hendak disampaikan ketika sebuah hari perayaan ditetapkan.

Demikian juga dengan bersepeda. PBB, pun sudah menetapkan tanggal 3 Juni sebagai Hari Sepeda Sedunia. Masih terlalu muda memang usianya. Baru empat tahun. 2018 lalu ditetapkan lembaga dunia ini. Padahal sepeda mulai ditemukan sejak tahun 1800.

Banyak latar kenapa Hari Sepeda Sedunia ditetapkan. Dalam catatan PBB, sepeda disebut sebagai sarana transportasi berkelanjutan yang sederhana, terjangkau, andal, bersih dan ramah lingkungan.

Sepeda dapat berfungsi sebagai alat untuk pengembangan dan sebagai sarana tidak hanya transportasi tetapi juga akses ke pendidikan, perawatan kesehatan dan olahraga.

Sepeda adalah simbol transportasi berkelanjutan dan menyampaikan pesan positif untuk mendorong konsumsi dan produksi yang berkelanjutan, dan memiliki dampak positif pada iklim.

Sinergi antara sepeda dan pengguna memupuk kreativitas dan keterlibatan sosial dan memberi pengguna kesadaran langsung akan lingkungan setempat.

Di antara latar PBB itu, soal harga terjangkau sebaiknya tak usah diambil hati. Ukuran terjangkau saat ini entah pada harga berapa. Permintaan sempat banyak membuat harga sepeda meninggi. Bukan hanya yang utuh, part-part sepeda yang dijual terpisah juga meninggi. Berlipat-lipat.

Latar soal kreativitas ini cukup penting untuk dibincangkan. Mungkin tergantung komunitas masing-masing menerjemahnya. Apapun itu yang penting terus dan rajinlah mengayuh.

Karena seperti kata Jokowi, Presiden Indonesia, bersepeda itu adalah bekerja keras dan mandiri, melaju dalam harmoni dan keseimbangan. Kemajuan, kelajuan, juga kecepatan dihasilkan dari usaha sendiri, gerak tubuh sendiri, tanpa mesin atau dorongan tenaga orang lain. Seberapa cepat kita ingin sampai ke tujuan tergantung seberapa keras kita mengayuh.

Memang untuk melaju itu, keras kerja kita. Apalagi untuk jarak jauh. Pertanda pertanda semakin dekat selalu ditanya. Seperti bergerak dari Jembatan 1 menuju ujung pulau Galang Baru. Atau titik nol kilometer. Tercatat sejauh 55,7 kilometer.

Bagi atlit sepeda dan pesepeda rutin nan profesional mungkin itu bukan jarak yang jauh. Apalagi kalau pulang pergi hanya 100 kilometer. Tapi, buat pesepeda banyak gaya, terasa jauh. Ditambah pula dengan medan berbukit-bukit.

Saya mencoba menelusuri rute tersebut. Bersama teman teman di Komunitas Besok Gowes. Dengan sepeda lipat ukuran ban 16. Mungil memang untuk badan yang tak mungil.

Masa tempuh menjadi tujuh jam. Dari kebiasaan mereka yang hanya empat jam. Itu di luar berhenti sebanyak 14 kali. Dibantu hujan. Juga menemukan jalur bakwan untuk merecovery energi supaya bisa kembali ke titik awal bergerak.

Komunitas itu ingin bersama pergi dan sama kembali. Seperti kata Jokowi lagi bahwa bersepeda merupakan wujud dari kebersamaan.

Bagi kami itu kebersamaan rombongan. Yang bukan atlit. Seperti sekolah penderitaan untuk saya yang baru bersepeda sejak 15 September tahun lalu. Saat kemampuan mengayuh baru pada jarak 5,55 kilometer. Sekali jalan. Tapi jarak tempuh 111 kilometer itu bukan perayaan setahun saya bersepeda.

Hanya merayakan sepeda. Seperti yang sedang terjadi di seluruh dunia. Akibat pandemi corona. Pemandangan lalu lalang sepeda ada di mana-mana. Terlebih akhir pekan kalau di Batam.

Misalnya banyak orang dewasa di Prancis kembali belajar bersepeda. Atau warga Spanyol yang mengandalkan sepeda untuk beraktivitas di luar, baik ke pekerjaan maupun hangout. Atau seperti studi Trek Bicycle bahwa 85 persen warga Amerika percaya bahwa di masa pandemi ini bersepeda lebih aman daripada menggunakan transportasi umum.

Banyak muncul kota-kota baru seperti Amsterdam Belanda yang memang penuh sepeda. Yang menggunakan sepeda sebagai alat transportasi. Booming sepeda itu terlihat New York, Berlin, Brussels, Seattle, Lima, Mexico City, Vancouver, Budapest, dan Dublin.

Permintaan sepeda pun meninggi. Bahkan di Broklin permintaan melonjak hingga 650 persen. Wakil Gubernur Jakarta Ahmad Riza menyebutkan penjualan yang meningkat luar biasa. Seribu persen. Di Batam pun sempat meninggi.

Kalau melihat data BPS, selama Januari-Juni 2020, total nilai impor sepeda Indonesia mencapai 39,02 juta dolar AS. Meningkat 24,82 persen dari periode yang sama di tahun 2019 dengan kisaran 31,26 juta dolar AS. Demikian juga dengan impor komponen sepeda selama Januari-Juni 2020 mencapai 109,94 juta dolar AS. Nilainya naik 35,68 persen dari periode yang sama di 2019 dengan kisaran 81,03 juta dolar AS. Negara pemasok impor terbesar, masih Tiongkok. Lebih 90 persen.

Tak heran kalau dalam banyak kesempatan muncul penawaran sepeda berbagai merek. Dari Tiongkok. Karena permintaan masih tinggi.

Tapi tak tahu setelah pandemi berakhir, apakah aktivitas itu masih ramai. Apalagi mulai ada Permenhub mengatur keselamatan pesepeda. Dengan banyak larangan.

Mungkin ini sejalan dengan alasan PBB menetapkan Hari Bersepeda. Bahwa mereka juga mendorong para pemangku kepentingan untuk menekankan dan memajukan penggunaan sepeda sebagai sarana membina pembangunan berkelanjutan, penguatan pendidikan, termasuk pendidikan jasmani, untuk anak-anak dan orang muda, meningkatkan kesehatan, mencegah penyakit, mempromosikan toleransi, saling pengertian dan menghormati dan memfasilitasi inklusi sosial dan budaya damai.

Bagi saya, merayakan sepeda adalah dengan selalu menggowesnya. Tetap dengan tujuan mencari bakwan. Yang enak.

Write A Comment