Sudah tahun keempat saya menjadi manajer. Di Liga Inggris. Tapi tidak bermukim di Inggris. Cukup di Batam. Kalau diadu dengan manajer dari seluruh dunia, peringkatnya lumayan (buruk). Ada di posisi 700 ribu dibanding enam juta para manajer.

Ini manajer fantasi. Premier League memang menyediakan permainan ini untuk penggemar mengandaikan diri sebagai seorang manajer klub. Di Fantasy Premier League.

Saya mulai jadi manajer pada musim 2017/2018. Kini, setiap musim mau digelar, mereka selalu mengingatkan melalui surat elektronik. Ayo jadi manajer lagi.

Bermodal 100 pounds, sebagai manager harus memilih pemain yang tepat. Tak bisa semua pemain hebat dipilih. Karena harga mereka yang tinggi. Harus mengkombinasikan dengan pemain yang sedang-sedang saja. Atau yang kurang populer, dengan harga yang lumayan murah.

Semoga peruntungan musim ini lebih baik. Pekan pertama sudah menunjukkan tanda perbaikan peringkat. SPE 86, nama klub saya, masuk peringkat di bawah sepuluh ribu. Ini rekor terbaik. Biasanya selalu peringkat satu jutaan. Dari enam juta manajer sedunia tiap musim.

Pertanda bahwa pemilihan pemain SPE 86 cukup baik. Insting sebagai manajer mengkombinasikan para pemain bolehlah disebut lihai untuk musim ini. Tapi perjalanan masih panjang. Ada 37 kali putaran permainan lagi.

Ada insting, dan peruntungan di setiap pekan. Seperti kata Steven Gerard, mantan Kapten Liverpool, takdir punya cara sendiri untuk ikut campur dalam sepak bola. Kisah takdir ini menjadi bagian dari buku biografi Gerard, My Story yang saya baca. Khususnya bab Terpeleset.

Keterpelesetan inilah yang membuat klub itu gagal menjadi juara para musim 2014. Saat itu, klub yang bertahun tahun tak pernah juara itu bertemu Chelsea. Kata Gerard, konsentrasinya entah kemana-mana. Untuk urusan umpan datar seperti dalam peristiwa itu, sudah ratusan ribu kali dia menerima. Tapi karena lebih memikirkan lawan, tiba-tiba dia terjatuh. Terpeleset.

Gerard mengaku, bahwa dia sering terpeleset dalam hidup. Tapi tak sesial itu terpelesetnya karena jika tiga poin diamankan merekalah juaranya. Untunglah rekornya cuma tiga puluh tahun tak pernah juara.

“Takdir dan keberuntungan kadang-kadang menyinari kemampuan dan kerja keras seseorang. Gelap dan terang, keriaan dan penderitaan, keduanya ditakdirkan bersama,” kata Gerard.

Takdir (baik) dan peruntungan juga mungkin sedang berupaya diraih kontestan pemilihan kepala daerah musim ini. Mengutip suara di masa wabah melanda. Untuk jadi pemenang dalam pilkada.

Para calon yang sudah mendaftar mungkin merasa mereka adalah pemenangannya. Keyakinan itu harus terus ditiup. Untuk memberi semangat agar bekerja semakin keras lagi.

Tapi, apapun itu, pesonanya tetap berada pada sang calon. Di era kontestasi saat ini, beberapa di antaranya mengandalkan survey. Untuk mengukur kemampuan dan melihat di mana titik lemah. Semoga ada garis lurus dalam persurveyan itu.

Dulu pernah aktif pada lembaga seperti ini. Pada tahun 2005. Menjadi orang yang berjalan ke sana kemari untuk mensurvey siapa yang menjadi pilihan. Belajar banyak hal. Demikian juga pada 2010.

Sememangnya kalau ingin ikut dalam kontestasi, survey awal itu sebenarnya cukup penting. Apakah nama seseorang masuk dalam top of mind masyarakat. Setelah itu semuanya berkembang, hingga survey pada kontestan yang punya nomor untuk dicoblos.

Suatu kali, dengan bekal ilmu yang ada, ingin juga mencoba-coba mensurvey diri sendiri, masukkah dalam top of mind masyarakat di kampung saya. Kalau masuk, bagaimana dengan persentasenya. Padahal memang tak akan pernah jadi perbincangan masyarakat dalam kontestasi kepemimpinan.

Jika masuk musim kontestasi seperti ini, saya selalu ingat kata-kata Andrea Pirlo, yang kini melatih Juventus. Saat menjadi pemain, kalimat yang saya ingat adalah tentang kekalahan.

“Aku tidak berani menatap cermin, berjaga-jaga jika ternyata bayangan di sana meludahiku.”

Itu selalu muncul saat dirinya kalah dalam pertandingan. Tapi itu untuk konteks sepak bola, bukan dalam kontestasi pengumpulan suara.

Untuk kontestasi pengumpulan suara, sepertinya perlu manajer kampanye yang hebat. Bukan seperti manajer “andai-andai” ala FPL. Walaupun perlu perencanaan dengan keterbatasan biaya.

Seperti kata Alex Ferguson, pelatih hebat Manchester United, manajemen sepak bola adalah tentang serangkaian tantangan yang tak pernah berakhir. Banyak kali tantangan itu disebabkan kerapuhan manusia.

Fergie selalu merasa bahwa saat-saat terbaik dia sebagai manajer adalah keputusan cepat berdasarkan fakta yang tak bisa dibantah, sangat meyakinkan. Karena itu, kata Fergie, paling penting dalam pekerjaan dia adalah kendali. Kalau mereka sudah mengancam kendalinya, dia akan singkirkan mereka.

Fergi bilang dia bisa mengamini kata kata Vince Lombardi, pelatih tim football Amerika Green Bay Packers: Kami tidak kalah dalam pertandingan, kami hanya kehabisan waktu.

Mungkin bisa dipinjam untuk musim pemungutan suara ini: Kami tidak kalah dalam kontetasi ini, kami hanya kekurangan suara.

Write A Comment