Waktu itu, memang dilarang memakannya. Takut cepat lupa. Apalagi kalau dah belajar dan menghafal, nanti kelupaan kalau termakan makanan ini.

Kami menyebutnya lupa ikan. Istilah populernya adalah gelembung ikan atau fish maw. Di antara jeroan ikan lainnya, lupa ikan ini selalu disertakan saat dimasak. Terlebih ketika digulai lemak atau asam pedas.

Tapi, yang boleh makan adalah orang-orang tua. Budak-budak dilarang. Ada efek bisa menyebabkan kelupaan. Karena itu di rantau Riau dan Kepulauan Riau, fish maw ini disebut lupa ikan. Rupanya, kalau sudah memakan gelembung ikan ini, mungkin kita bisa lupa dengan kenikmatan lainnya.

Beberapa kali ke pasar di Batam, seorang penjual ikan langganan ketika membersihkan ikan selalu bilang, “wah abang beruntung gelembungnya masih ada. Kalau nelayan pancing tahu, sudah habis ini. Terbelah semua perutnya.”

Pada nelayan tertentu, gelembung udara adalah lumbung uang. Awal-awal tahun 2000-an, pencarian akan lupa ikan menjadi salah satu pilihan.

Entah bagaimana bermula, tapi sejumlah toke ikan sepertinya mendapat orderan gelembung ikan ini. Dalam jumlah yang terus meningkat. Dalam banyak catatan, fish maw ini banyak digunakan untuk sektor kesehatan dan kecantikan, seperti benang operasi. Ada juga yang menyebut sebagai sumber kolagen dan alat pemurni minuman beralkohol. Tapi, dibuat sup pun kelezatannya tak ada lawan.

Banyak daerah di Indonesia yang nelayannya juga mencari “sampingan” memburu ikan-ikan yang gelembungnya bernilai jual tinggi. Di Batam pun ada.

Saya berbincang dengan seorang teman. Sebelum Idul Fitri lalu. Karena ternampak dia memposting ikan temereh. Di berbagai tempat, dia lebih populer dengan sebutan ikan gulama.

Mereka memang sedang berburu lupa ikan. Apalagi di masa pandemi ini, banyak aktivitas terhenti. Terlebih sektor pariwisata. Karena itu, perburuan terhadap gulama dilakukan. Saban malam. Dengan umpan sotong. Sekali pernah dapat 19,8 kilogram. Dari ikan inilah gelembung udaranya diambil. Harganya lumayan.

“Gelembungnya kalau sudah kering, bisa sampai 18 juta perkilo, Bang,” kata teman saya itu.

Tapi perlu beberapa ekor ikan untuk mendapatkan fish maw berharap jutaan itu. Pun potongannya harus rapi. Jangan ada yang terbuang atau tersayat. Bisa rusak harga.

Di Batam, perburuan biasa dilakukan sepanjang April hingga Juli. Empat bulan yang mendebarkan mungkin. Itu juga yang dilakukan pemburu lupa di kawasan Kepri.

Sebenarnya tak hanya gulama yang gelembung bernilai jutaan. Beberapa ikan juga punya nilai menjanjikan. Dan cukup akrab dengan makanan kita sehari-hari.

Ikan otek, duri atau di sini kadang disebut jahan juga menghasilkan lupa ikan yang berharga. Saya pun baru tahu karena membaca kisah-kisah harganya di web kementerian terkait. Harganya memang tak mahal. Tapi dengan 150 ribu perkilo, lumayan juga untuk ikan yang sukan makan pancing ini.

Liatlah daftar harga dari berita di web kementerian perikanan dan kelautan ini. Daftar Harga gelembung ikan yang sudah dikeringkan, yang diperoleh dari informasi para pengumpul di Kabupaten Merauke, untuk ikan Duri/Ote seharga Rp.150.000/kg, ikan Kuro mulai dari kategori dengan berat dibawah 10 gram seharga Rp.500.000/kg hingga yang kategori berat 100 gram keatas seharga Rp.2.200.000, ikan Kakap Putih mulai dari kategori dengan berat dibawah 10 gram seharga Rp.650.000/kg hingga yang kategori berat lebih dari 100 gram seharga Rp.4.300.000/kg.

Ikan kakap Cina/Angkui yang berjenis kelamin betina mulai dari kategori dengan berat dibawah 30 gram seharga Rp.1.000.000/kg hingga yang kategori berat lebih dari 200 gram seharga Rp.18.000.000/kg sedangkan ikan Kakap Cina/Angkui yang berjenis kelamin jantan mulai dari kategori dengan berat 50 gram seharga Rp.11.000.000/kg hingga yang kategori berat lebih dari 200 gram seharga Rp.28.000.000/kg.

Dan ikan Gulama yang memiliki nilai jual paling tinggi memiliki harga dimulai dari kategori dengan berat 10 gram seharga Rp.20.000.000/kg hingga yang kategori berat lebih dari 40 gram seharga Rp.50.000.000/kg. Harga-harga tersebut merupakan perkiraan dari pengumpul dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung kondisi di pasaran

Sebenarnya ada juga ikan malong. Di perairan Riau, perburuan malong juga cukup banyak. Tidak mahal. Tidak lebih dari tiga juta rupiahlah harganya. Kalau di pasar-pasar Batam, saya selalu menemukan malong yang sudah terpotong. Kalau ditanya mana lupanya, selalu dijawab, kena kebaslah.

“Mana ada lagi, habislah,” kata seorang pedagang yang selalu menyediakan malong di Pasar Mitra Raya, Batam.

Terniat juga ingin berburu lupa ikan. Tapi sepertinya dah lupa cara memancing. Di musim ini, rasanya temereh dan malong tak bermain lain di perairan Kepri.

Mungkin juga beralih ke pemancingan yang lain. Sesuai musim. Musim pilkada. Nak memancing banyak suara lah. Mungkin lebih untung dari lupa ikan. Walaupun dah terpilih pemilik suara dilupakan.

SUMBER FOTO : www.mancingarena.com

Write A Comment