Karena memanjatkan doa doa negatif untuk saya, seorang teman minta maaf. Kata dia, maafkanlah dirinya karena tak ada doa positif buat saya. Dalam beberapa kesempatan doa negatif dia pohonkan kepada Yang Maha Menyehatkan.

Dia tahu saya menunggu. Menunggu hasil pengambilan sampel swab untuk pengecekan. Apakah saya terpapar hantu covid atau tidak. Hasil pemeriksaan swab itu hanya dua: positif atau negatif. Tak ada introgatif. Juga tak ada yang bisa disembunyikan. Kecuali niat.

Karena itu, doa doa negatif dilantunkan para sahabat. Agar hasilnya negatif. Dan saya masih menunggu. Bersamaan dengan 738 yang sudah diambil swabnya di RSUP Raja Ahmad Thabib, Tanjungpinang.

Paling tidak, hasil swab saya bersaing dengan 93 mereka yang selesai diambil hari Kamis, 30 Juli. Juga 124 orang pada Jumat 31 Juli. Untuk dikerjakan. Rupanya puncak pengambilan sampel terjadi Sabtu, hari pertama Agustus. Ada 373 sampel. Pada Ahad 2 Agustus sebanyak 148 sampel diambil lagi.

Ratusan orang itu berharap negatif. Negatif yang sungguh bernilai positif. Bagi kesehatan.

Banyak sahabat, kerabat dan kawan kawan dekat mendoakan. Ketika tahu saya melakukan pengambilan sampel swab. Karena ada persentuhan dengan rekan kerja yang sudah terpapar. Doa supaya negatif.

Hantu covid ini menyerang secepatnya. Penularan massal dan cepat inilah yang membuat kewalahan. Malah dalam “menghadapinya” lembaga kesehatan mengubah-ubah nama. Terutama untuk pasien.

Awalnya, kita dipahamkan dengan pasien yang terkonfirmasi postif, orang dalam pemantauan dan pasien dalam pengawasan. Itu semua terkait persentuhan mereka dengan pasien yang sudah positif. Close contact istilahnya. Untuk memudahkan tracking bin penelusuran.

Tak lama kemudian, muncul kategori orang tanpa gejala (OTG). Tak ada tanda-tanda seperti pertanda pasien lainnya. Tiba-tiba, ketika di-swab, mereka terkonfirmasi. Padahal sehat walafiat. Secara penampakan fisik.

Kali ini, istilah untuk pasien berubah lagi. Ada kasus suspect, suspect discarded alias selesai dan spesimen. Ada juga kasus konfirmasi: konfirmasi rawat/isolasi, konfirmasi discarded dan konfirmasi meninggal.

Yang istilah-istilah itu hanya mengubah disain tabel. Si hantu covid pasti tak terkecoh. Kasus terkonfirmasi positif pun terus meningkat. Termasuk Indonesia yang semalam naik ke posisi 23 dengan 111.455. Melengkapi 18 juta lebih jumlah di seluruh dunia.

Semua berharap angka-angka itu tidak meningkat tiap hari. Kita ingin cerita makin hari mereka yang sembuh semakin banyak.

Tapi vaksin dan obatnya masih belum ada. Mencegahnya baru dengan menjaga: jaga jarak, jaga masker tetap terpasang, jaga tangan dengan selalu dicuci. Juga jaga imun dengan makanan dan olah raga.

Barangkali, salah satu obat terbaik adalah semangat bahwa kita sehat. Masih bisa lebih hebat dari sang virus. Bukan dengan mengganti-ganti nama atau alis mata. Karena virus tak melihat itu.

Hujan semangat ini yang saya dapatkan. Selain doa-doa negatif dengan maksud positif. Banyak saran apa yang harus diminum dan dimakan. Untuk menangkis hantu covid ini.

Seorang teman melalui saluran telepon menjelaskan bahwa virus itu mengentalkan. Dijaga jangan sampai si virus sukses membuat kental. Sehingga terganggu saluran pernafasan. Karena itu salah satu gejalanya adalah sesak.

Kata dia, gunakan air panas, yang beruap. Pagi dan petang. Teteskan minyak kayu putih. Hirup sehingga tak ada pengentalan. Banyak juga yang mengantar vitamin dan herbal. Pokoknya mereka meyakini ini menyehatkan.

Mereka betul-betul mengantar. Bukan menjual.

Write A Comment