Telepon yang tak diangkat begitu banyak. Saya tersadar pukul satu dini hari pada 1 Agustus 2020. Melihat ponsel yang baterinya sudah 100 persen. Penuh miscall dan pesan wa.

Karena terbangun pukul 01.00 malam, entah mengapa saya teringat film Pendekar Bujang Lapoknya P Ramle. Ketika dia dan dua rekannya disebutkan boleh bertemu dengan anak perempuan dari guru silatnya pada pukul satu malam.

“Pukul satu malam,” mereka serentak menjawab dengan ekspresi wajah masing-masing. Rekan-rekan di Kepulauan Riau dan Riau paham dengan film ini. Karena memang sejak dulu sering diputar televisi negara tetangga.

Semua punya niat bertemu dan berupaya saling jegal. Juga saling melancarkan trik untuk bisa keluar pada pukul satu malam. Yang semuanya memancing tawa. Alhasil, tak ada yang sukses bertemu.

Tapi pada pukul satu malam itu saya bertemu banyak pertanyaan tentang kabar dan kesehatan. Melalui pesan wa. Juga link berita tentang Gubernur Kepri Pak Isdianto yang sudah terkonfirmasi positif covid19.

Saya selalu menjawab dalam kondisi sehat. Seperti terlihat pada Gubernur Isdianto. Sehat dan sehat.

Pertanyaan dan telepon masih berdering hingga tanggal 2 Agustus. Banyak yang memberi semangat dan mendoakan. Doa-doa terbaik. Sehingga saya bisa beraktivitas seperti semula dengan protokol kesehatan, tentunya.

Agar bisa bersepeda dengan jarak tak seberapa. Sendirian di jalur yang sama. Ngopi membahas kerja dan cerita-cerita pilkada. Juga aktivitas perkantoran lainnya.

Klaster di perkantoran tempat saya bekerja memang menyebabkan banyak orang harus diambil sampelnya. Ini penting untuk memutuskan mata rantai sebaran wabah covid19. Agar tak semakin meluas.

Walaupun semuanya tampak sehat. Tapi, kategori orang tanpa gejala (OTG) sangat banyak. Tiba-tiba ketika swab, bisa saja hasilnya terkonfirmasi positif. Saat ini, sesuai perkembangan, istilah OTG sudah tiada. Istilah-istilah itu telah berganti.

Sejak era kelaziman baru diberlakukan, klaster perkantoran memang membludak. Di Jakarta, ada hampir lima ratus pasien terkonfirmasi positif dari kawasan perkantoran. Baik di pemerintahan maupun swasta.

Si covid memang tak sedang bercanda. Dia akan masuk kemana saja. Sebisanya mungkin, secepat mungkin, atau sekejam mungkin. Bahkan saat yang sudah terinfeksi pun tak menyadarinya: kondisi sehat sangat.

Mereka yang sudah diambil sampelnya selalu berharap keluar kata: negatif. Negatif yang sangat ditunggu.

Kata negatif kali ini bermakna sangat positif. Negatif itu membuat bahagia. Belakangan itu, negatif itu menjadi baik. Baik untuk kesehatan.

Hasil negatif itu yang ditunggu ratusan orang. Yang sudah diambil sampel swabnya sejak tanggal 30 Juli lalu. Sampai 1 Agustus, dari RSUP Raja Ahmad Tabib Tanjungpinang, sudah sampai 590 sampel. Mungkin itu dari berbagai klaster. Sampai tanggal 2 Agustus 2020 pun masih ada pengambilan sampel.

Saya bersama sembilan orang lainnya, melakukan pengambilan sampel di RS Embung Fatimah, Batam. Pada 31 Juli, tepat di Hari Raya Kurban. Tentang hasil, semua masih menunggu.

Hasil-hasil yang beredar, sampai 1 Agustus terlihat pengambilan sampel swab pada 28 dan 29 Juli.

Dengan sampel ratusan, saya berharap reagentnya tersedia. Karena dari dengar-dengar, perangkat untuk pengecekan ini harganya tidak murah. Dulu itu, saat mendengarnya pada bulan Maret, berkisar satu juta rupiah. Entah sekarang. Semoga semakin murah dengan asumsi semakin banyak diproduksi.

Tapi semua negara mungkin lagi berebut-rebut. Karena mereka mau melakukan tracking. Untuk tracking, yang paling akurat memang dengan swab. Bukan rapid test.

Kalau rapid test, tentu saya akan berbahagia. Sudah lima kali melakukannya, semua non reaktif.

Menunggu hasil swab kali ini harus dengan kesabaran. Sebar dengan kesendirian.

Tentu kata negatif akan menjadi kabar sangat positif.

Kalau positif? Janganlah berpikir negatif.

Write A Comment