Menetes air mata ini mendengar suara itu. Seperti tak ada perbezaan.

Itu sepenggal kata diucap KH Windu Wijaya saat di Belakangpadang, Batam, akhir tahun lalu. KH Windu adalah orang yang terakhir tampil dalam acara keagamaan saat itu.

Dia tampil setelah, Isdianto, Plt Gubernur Kepri memberi sambutan. Menyampaikan tentang tekad-tekadnya untuk Negeri Segantang Lada ini.

KH Windu sepertinya merindu. Rindu dengan almarhum H Muhammad Sani. Perhubungan KH Windu dan almarhum berlangsung cukup baik. Mungkin banyak perbincangan spritual dan lainnya dalam perjumpaan itu.

Karena itu, ketika Isdianto bersuara, dia seperti mendengarkan intonasi dan lantunan yang sama dengan suara H Muhammad Sani. Tak heran kalimat pertama yang diucapkannya adalah tetesan air mata soal kerinduan dengan almarhum Ayah Sani.

Sememangnya, saat beberapa kali ditugaskan untuk berada di acara yang dihadiri Isdianto, suara kesamaan itu selalu terdengar. Jika bertugas, saya memang sering duduk di antara kerumunan masyarakat. Untuk mencatat. Apa saja yang disampaikan.

Sesekali terdengar celetukan, “Macam suara Ayah Sani. Intonasinya pun sama.” Suara dari masyarakat yang ada di acara-acara itu.

Bagaimana tak sama, Sani dan Isdianto terlahir dari rahim yang sama. Hj Tumirah, melahirkan dua lelaki ini di Parit Mangkil, Kundur, Karimun.

Sebuah rahim yang istimewa. Dari rahim ini, ada dua lelaki yang menakhodai Kepri. Untuk periode yang sama.

Tak heran kalau suara-suara kerinduan masih terdengar. Terutama mereka yang merasakan sentuhan almarhum H Muhammad Sani. Suara yang tiba-tiba terdengar dari lantunan Isdianto.

 

Kerja-kerja jurnalistik dan abdi negara yang saya jalani saat ini memang membuat ada persentuhan dengan dua lelaki dari rahim istimewa ini. Tentu yang paling lama dengan almarhum H Muhammad Sani.

Jam makan siang dan petang-petang sebelum pulang selalu menjadi waktu yang saya tunggu. Untuk bisa berbincangan dengan almarhum. Di jam-jam inilah banyak nasihat dan mimpi almarhum untuk Kepri. Yang saya dapatkan.

Banyak mimpi besar almarhum tentang Kepri. Sekali lagi, setiap orang yang berhubungan dengan almarhum punya kesan dan pengalaman yang beda. Kisah ini adalah tentang persentuhan dan pengalaman yang saya dapatkan.

Kesan-kesan tentang almarhum pun saya dapatkan dari puluhan temannya yang memberi testimoni dalam buku Untung Sabut. Karena, saya mendapat bagian untuk bertemu dengan rekan-rekan almarhum. Mencatat dan menulis apa yang mereka sampaikan.

Tentang keberuntungan. Tentang senandung silaturahmi almarhum Ayah Sani. Yang juga melekat dalam laku Isdianto. Ke Pekanbaru, biasanya menjadi laluan silaturahmi itu. Saya pun jadi tahu tokoh-tokoh Kepri di Negeri Lancang Kuning itu. Setelah ikut dalam persentuhan silaturahmi itu.

Suka bersembang, berjumpa teman-teman lama. Dengan masyarakat Kepri di mana saja. Berbagi cerita dan mimpi-mimpi. Tentang Kepri.

Saya selalu suka dengan tulisan pertama pada biografi Untung Sabut. Pada Sebatang Inai. Itu judulnya. Menceritakan tentang kesungguhan dan kerja keras.

Kalimat dibuka dengan peristiwa pada 19 Agustus 2010. Saat almarhum dilantik sebagai Gubernur Kepri.

“Tak pernah saya memimpikan peristiwa besar dalam hidup saya, seperti hari itu. Menjadi gubernur? Ini mimpi yang ‘’tak boleh’’ disemai bila melihat hari-hari saya di Parit Mangkil, Pulau Kundur.”

“Tak boleh disemai” mendapat penekanan khusus. Apalagi jika melihat jalan hidup almarhum.

Saya pernah melakukan tikam jejak ke tanah bertuah itu; Sungai Ungar Kundur. Tempat lahir berbagai tokoh besar di Negeri Segantang Lada ini. Lalu teringat pesan yang selalu disampaikan almarhum Ayah Sani: selalulah berbuat baik pada semua orang.

Pada Senin tanggal 27 Juli 2020, sepuluh tahun setelah H Muhammad Sani dilantik, adiknya H Isdianto, juga diamanahkan untuk menakhodai Kepri. Dilantik Presiden Joko Widodo di Istana Negara.

Istimewa betul rahim Hj Tumirah.

4 Comments

  1. Saya baru tahu kalau ternyata pak Isdianto saudara sekandung dengan almarhum Pak Sani dari tulisan bg Rizal ini.

    Diberkati benar seorang ibu, dimana dua anaknya diberi amanah pernah dan sedang memimpin Kepri. Tuhan sertai amanah ini.

  2. Ning Pwani Reply

    Kami sering memanggilnya dengan sebutan “Nyai”. Kopi pahit minuman favoritnya. Bicara dalam bahasa Jawa menjadi kesukaannya. Nginang/nyirih sudah menjadi kebiasaannya.

    Al-Fatihah teruntuk almh. Nyai Tumirah dan juga teruntuk anak kesayangannya alm. Bpk H. Muhammad Sani bin H. Subakir

    Selamat & sukses teruntuk H. Isdianto bin Subakir atas pelantikannya menjadi Gubernur Kepri ke 4

  3. Kerja Iklas yang tidakakan Menghianati hasil Amin selamat Menjalan Kan Tugas dan amanah yg sudah menanti .kami bangga sebagai Masarakat Kundur selalu menjadi Pemimpin di Negri Ini Amin

Write A Comment