Ketika membaca ada survey tentang waktu wabah covid19 berakhir di negeri ini, imajinasi saya langsung beralih ke politik kontestasi. Karena, di kalangan awam, survey-survey dilakukan terkait dengan kandidat yang ingin berkontes, baik pilkada maupun pilpres.

Terlebih di Kepri tahun ini ada jadwal kontestasi untuk pemilihan kepala daerah. Di Provinsi, dan semua kabupaten kota kecuali Tanjungpinang.

Sebelum hiruk pikuk covid19 melanda negeri ini, banyak hasil survey dipublikasikan. Tentu untuk meyakinkan pemilih sejak awal lagi soal kelayakan siapa yang memimpin.

Dulu-dulu, saya pernah juga terlibat dalam survey terkait kontestasi. Dan itu masa dulu. Saat ini, hanya menikmati persepsi-persepsi melalui survey yang dijalankan.

Sebenarnya, survey awal itu sangat penting dilakukan. Karena, dari sinilah akan diambil langkah apa perlu melanjutkan survey untuk salah seorang calon.

Dari survey awal, top of mind yang paling penting. Biasanya pengambil keputusan paling utama melihat ini. Baru kemudian dilakukan survey dengan berbagai simulasi, bisa dengan semi terbuka atau berpasang-pasangan. Nama-nama itu kemudian mengerucut.

Dari sini akan tahu siapa lawan tangguh dan dimana daerah yang mereka lemah atau mereka kuat. Semuanya memberi masukan untuk membuat strategi lanjutan. Tentu supaya menang.

Persepsi survey terhadap pandemi covid19 tentu menjadi harapan agar menang terhadap virus ini. Berdasarkan data yang dioleh lembaga survey, ada perkiraan-perkiraan kapan akan berakhir. Tapi karena persepsi berdasarkan data, tentu harapan itu menjadi penyemangat.

Dalam situasi wabah seperti ini, banyak imbauan yang diedarkan untuk mencegah dan memutuskan mata rantai sebaran virus. Dalam pantauan saya, imbauan itu tampak efektif di empat belas hari pertama saat corona terkonfirmasi di Kepri, pada 17 Maret 2020. Setelah itu, seperti tak ada “ketakutan” terhadap musuh yang tak nampak ini.

Selain survey, pemodelan matematika juga dilakukan untuk memprediksi kapan corona berakhir di Indonesia. Sejumlah perguruan tinggi pun mengeluarkan prediksi dengan pemodelan mereka. Bahkan sejumlah kepala daerah ada yang menggunakan masukan para ahli dari kampus-kampus di daerah mereka.

Sebenarnya saya berharap kampus-kampus di Kepri melakukan pemodelan dan simulasi terhadap sebaran covid19 dan upaya memutuskan matarantainya dengan cepat. Data sangat terbuka. Saban petang, Tim Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid19 Provinsi menebar data itu. Demikian juga dengan daerah-daerah.

Karena, seperti ditulis Rektor IPB, Arif Satria di Majalah Tempo, dalam pandemi covid19 ini, kebijakan politik minimal dan sains maksimal sangat penting dalam suasana darurat penuh ketidakpastian yang mengancam keselamatan manusia. Saat ini yang terjadi adalah ketidakpastian dan sains semestinya menjadi tumpuan dalam kebijakan intervensi menuju kepastian.

Barangkali kampus-kampus di Kepri sudah melakukan itu dan saya tidak membacanya. Paling tidak dari angka yang tersajikan tiap hari, ada harapan wabah ini berakhir, di Kepri. Setelah itu, kita semua menjalani kehidupan normal yang baru seperti disampaikan Presiden Jokowi dan Badan Kesehatan Dunia WHO.

Sebelum ada ledakan dari kasus Klaster Bengkong dan Jamaah Tabligh India di Batam, saya sangat percaya, saat Idul Fitri, Kepri sedang memasuki detik-detik kemenangan terhadap wabah ini. Tren kesembuhan meningkat. Bahkan menjadi yang tertinggi persentasenya di Indonesia. Begitu semua “berbunga-bunga” dengan kondisi ini, dua klaster itu memberi ledakan dan membuat persepsi saya terhadap akhir wabah di Kepri ini menghilang.

Di Kepri, sejak pasien terkonfirmasi positif pada 17 Maret lalu, sampai 17 Mei ada 116 kasus yang positif. Dengan 11 klaster. Dari 116 kasus, 82 sudah sembuh, 11 meninggal dan kini 23 masih menjalani perawatan serta karantina. Mereka 18 di Batam, empat di Tanjungpinang dan satu pasien di Karimun.

Pada 11 klaster inilah transmisi lokal mulai menunjukkan eksistensinya. Yang juara sampai bulan kedua ini adalah klaster Pemberdayaan Perempuan Batam (PPB). Ada 18 masyarakat terkonfirmasi positif dari klaster ini. Kita bersyukur klaster ini sepertinya sudah selesai.

Tentu tak ada yang berharap klaster PPB ada yang melewati. Walaupun saya sangat cemas melihat pergerakan klaster Bengkong. Sudah 11 orang terkonfirmasi positif. Ini klaster baru (ketahuan). Dan masih dalam proses penelusuran.

Dua klaster berikutnya ada di Tanjungpinang. Yaitu klaster Petaling dengan jumlah delapan pasien dan klaster Sei Ladi sebanyak tujuh pasien. Ada dua klaster yang terkonfirmasi dengan lima pasien yaitu klaster Charitas dan Jamaah Tabligh India di Batam. Namun yang India ini baru mulai dan doakanlah supaya terhenti pada lima orang itu saja.

Di Karimun, ada klaster Simpang Sungai Lakam. Empat orang terkonfirmasi positif. Kemudian diikuti dengan klaster Stukpa Polri Batam dan Kepodang Tanjungpinang. Di sini ada tiga pasien tiap-tiap klaster. Klaster di Kepri berikutnya adalah klaster Kijang Kencana, dengan dua pasien.

Di RSKI Galang, terdata Klaster KM Kelud berjumlah 29 orang yang kini semua sudah sembuh. Selain itu ada 21 orang klaster tunggal. Mereka terkonfirmasi dan tidak menularkan kemana-mana lagi.

Membaca angka-angka itu, muncul harapan dan kerisauan. Harapan muncul ketika tidak ada lagi pasien-pasien terkonfirmasi positif. Apalagi diikuti dengan tingkat kesembuhan yang terus bertambah. Namun, harapan akan meredup ketika tambahan pasien positif muncul lagi.

Tambahan pasien positif ini ikut menambah pula potensi sebaran virus ini. Karena, akan ada kelompok-kelompok lain yang muncul. Yaitu orang dalam pemantauan (ODP), pasien dalam pengawasan (PDP) dan yang paling berbahaya adalah orang tanpa gejala (OTG).

Di Kepri, sejak dua bulan lalu, ada 466 PDP. Saat ini yang diawasi masih 87 orang dan 379 selesai pengawasannya. Demikian juga ODP, saat ini yang dipantau sebanyak 756 orang dari 4.128. 3.374 sudah selesai pemantauannya.

Yang paling merisaukan adalah 778 OTG dalam pemantauan. Bersyukur 3.891 OTG sudah selesai pemantauannya. Semoga mereka semakin sehat.

Bagi saya, angka-angka itu adalah kerisauan. Risau karena potensi menularkan ke orang lain, termasuk saya masih ada. Apalagi jika melihat kemampuan untuk melakukan tes terkendala pada ketersediaan bahan pendukungnya. Yang harganya sangat tidak murah.

Setelah dua bulan, untuk pemeriksaan swab di Kepri baru pada 961 orang. Sebenarnya, untuk pasien yang terkonfirmasi positif, penggunaan swab tesnya dilakukan berkali-kali. Minimal dua kali lagi untuk bisa dinyatakan sembuh. Sementara rapid tes, yang akurasinya disebut-sebut hanya 30 persen sudah dilakukan pada 6.797 orang.

Sekali lagi, sepertinya data yang tersaji itu bisa disimulasikan untuk melihat persepsi kapan wabah ini mereda. Tentu dengan pendekatan sains untuk memberi masukkan pada pengambilan keputusan politik. Khususnya di Kepri.

Kita berharap angka-angka itu tidak meningkat lagi. Di luar pengambilan langkah-langkah kebijakan berdasarkan sains, ada baiknya semua mengikuti imbauan pemerintah. Menggunakan masker, menjaga jarak dan mencuci tangan serajin mungkin setelah beraktivitas.

Soal imbauan tetap di rumah, tidak baik dikomentari. Apalagi jika melihat jalanan dan sejumlah titik keramaian. Di kota-kota di Kepri.

Kitalah yang berperan memutus mata rantai itu. Jangan sampai tiap hari kita membaca angka-angka yang bertambah. Ingin semuanya mereda.

Lawan kita ini tak nampak. Hadapi dengan bijak. Jangan bagak.

Write A Comment