Menjelang Idul Fitri, masyarakat di Riau Kepulauan dan kawasan pesisir Provinsi Riau ikut disemarakkan dengan berbagai dendangan lagu-lagu hari raya. Terutama lagu-lagu yang dinyanyikan sejumlah penyanyi Malaysia. Berdenyar-denyar lagu itu lewat radio dan televisi.

Atau sekarang lewat aplikasi musik yang tersedia pada ponsel pintar. Pada spotify yang gratis di ponsel, saya pun membuat playlist tersendiri lagu-lagu hari raya. Memasuki Ramadhan, playlist ini langsung saya buat.

Lagu pertama yang saya cari adalah Sepasang Kurung Biru, nyanyian Khairil Johari Johan. Seorang Profesor Madya di Universiti Teknologi Mara, Malaysia. Saya begitu menikmati lirik-lirik lagu ini. Mengingat almarhum kedua orang tua. Bapak yang berpulang seusai sholat Id. Juga Emak yang berpulang pada beberapa tahun berikutnya.

Dulu-dulu, saat masih di perantauan, selalu mendendangkan Kupohon Restu Ayah dan Bonda-nya Al Jawaher dan Dendang Perantaunya P Ramle. Tak lupa dua lagu Sudirman H Arsyad, orang Riau, dari Kampar yang melejit di Semenanjung Malaysia, yaitu Dari Jauh Kupohon Maaf dan Balek Kampung. Dan banyak lagi.

Memang untuk urusan musik, kita agak susah berpaling dengan lagu-lagu yang kita dengar saat masih muda. Tumbuh di kawasan yang bertetangga dengan Malaysia dan Singapura, serta kemudahan mendapat siaran radio dan televisi mereka, mau tak mau persentuhan itu tetap terjadi.

Panduan kami untuk berbuka pun waktu itu adalah suara azan dari radio-radio di Singapura. Sebelum akhirnya rasa Indonesia masuk ke kawasan ini.

Musik, kata al-Farabi, yang bernama Abu Nashr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan dapat menciptakan ketenangan atau mengendalikan emosi. Bisa juga menjadi bahan terapi seperti yang dilakukan Al Kindi untuk mengobati pasien. Mungkin sekarang yang kita kenal sebagai terapi musik.

Atau menjadi jalan menuju filsafat seperti dikatakan Ibn Rusyd. Dalam buku Republik Plato ala Ibn Rusyd, dia mengatakan proses pengajaran dan pendidikan etik moril bagi para pelindung harus ditempuh melalui dua cara: olah raga dan musik. Olah raga bertujuan untuk membentuk tubuh agar menjadi kuat yang keutamaannya tidak lain adalah menjaga kebugaran dan kekuatan. Sedangkan musik bertujuan untuk melatih jiwa dan mencapai berbagai keutamaannya.

Yang jelas, dia menjadi ekspresi jiwa. Lewat lirik dan nanda yang dinyanyikan siapa pun. Ikut memberi spirit dalam kehidupan.

Tapi tentu selera musik setiap orang berbeda-beda. Tak pula kita bisa memaksa selera musik yang sama pada setiap orang. Karena perjalanan dan persentuhan mereka dengan musik berbeda dan mungkin sesuai eranya.

Ada yang sekadar dengar. Hanya menikmati musik atau ikut memahami dan menjiwai tiap lirik. Memberi semangat atau larut dalam kesedihan dan kegalauan yang dalam.

Tentu jangan seperti yang dicakapkan Socrates, sang filsuf itu, bahwa bila seorang membiarkan musik membuainya, kemudian meresapkan lagu-lagu yang manis, lembut, dan syahdu, ia akan menjadi orang yang lemah.

Nikmati saja setiap lirik. Seperti mendengarkan Sepasang Kurung Biru, yang kembali membawa kenangan masa lalu. Apalagi pas tiba di lirik: masih kurasakan hangat tanganmu, di pagi raya bersalam denganku.

Write A Comment