Awal-awal bermain sepak bola di kampung sepertinya sama dengan zaman di Inggris dulu. Terutama kita tidak bermain di lapangan resmi. Dilarang, tiada gawang dan waktu bermain yang tak jelas. Bahkan permainan bisa berakhir jika sebuah tim bisa menyarangkan gol.

Tentu larangannya tidak se-ekstrim ketika olah raga paling populer ini mulai tumbuh di Inggris. Ketika Wali Kota London, tahun 1314 melarang pertandingan karena dianggap membuat keonaran. Bahkan mereka yang tertangkap basah memainkannya bakal masuk penjara.

Seri penolakan ini terus berlanjut. Saat zaman Raja Edward III sepak bola disebut permainan konyol yang tak ada gunanya. Ada tiga puluh hukuman kerajaan dan daerah yang melarang meluasnya permainan ini. Semacam Perda barangkali.

Kini, mereka yang tak gemar sepak bola pun menganggap permainan ini entah apa-apa. Bola sebiji dikejar 22 orang.

Larangan-larangan itu ternyata membuat permainan ini terus berkembang. Tidak surut. Giliran Raja Henry IV yang berkuasa tahun 1410 membuat aturan denda bagi mereka yang tertangkap melakukan permainan ini.

Malah beberapa abad setelah larangan itu dicabut, di Kota Manchester, masih melarang permainan ini di dalam kota. Karena menyebabkan banyak jendela yang pecah.

Kaca jendela pecah inilah yang dulu beberapa kali terjadi saat bermain-main bola di kampung. Saat mulai ada pemanasan hendak bermain bola, selalu dihalau untuk pergi ke tempat jauh. Lapangan atau kawasan yang tak ada rumahnya.

Tapi itu tak menyurutkan semangat untuk bermain. Berlatih tanpa mimpi menjadi pesepak bola. Sama juga di Inggris dahulu itu, ketika dilarang, permainan ini malah tumbuh di sekolah-sekolah dan kampus.

Dari sinilah aturan-aturan itu banyak berkembang. Jumlah pemain saat itu sesuka kapten. Malah bisa 25 melawan 25. Yang penting main.

Sama seperti di kampung dulu, berapa pun jumlah yang ada, bisa bermain. Asal dibagi dua dan sama rata. Malah ada semacam aturan tak tertulis. Mereka yang kelihatan jago tidak boleh satu tim. Harus memisah. Biar berimbang. Yang badan besar selalu mendapat jatah sebagai penjaga gawang.

Mungkin seperti ini juga kisah permainan sebelas melawan sebelas itu. Disebut-sebut, jumlah ini bermula dari kampus atau sekolah-sekolah. Pertandingan selalu diselenggarakan dengan 10 anak dalam kamar asrama ditambah guru mereka. Tapi ada juga catatan sejarah jumlah itu mengikuti permainan kriket, yang tumbuh subur terlebih dahulu di Inggris dan dimainkan sebelas orang.

Dari anak-anak kampus inilah banyak aturan terbuat. Misalnya soal gawang. Zaman itu, gawang sepak bola bentuknya bermacam-macam. Bisa pintu, lengkung koridor di sekolah atau celah di antara dua pohon.

Celah antara dua pohon ini, agaknya masih ditemui di beberapa kampung di negeri ini. Terutama yang tanah lapangnya masih banyak.

Tapi, sejarah perkembangan tiang gawang di Inggris tak mencatat seperti yang dilakukan di negeri ini. Tiang itu bisa dari susunan batu, atau sandal para pemain, atau apapun yang bisa digeser-geser. Yang untuk ukurannya harus dihitung berdasarkan langkah kaki anak yang sama. Di sini kejujuran sang anak diuji. Apakah dia melebarkan langkah untuk gawang lawan atau tidak.

Soal gawang, peraturan resmi pertama pada tahun 1863. Saat itu hanya ada dua tiang vertikal. Tanpa mistar. Jika bola melewati di antara tiang itu, makanya dinyatakan gol. Tak perduli seberapa tinggi tendangannya. Mungkin seperti Rugby.

Tapi itu tidak berlaku ketika kami bermain-main di kampung dulu. Walaupun tiang dari batu atau dua pohon, jika tidak terjangkau kiper, berarti tidak gol. Dan urusan bisa panjang. Malah bubar permainan.

Baru pada tahun 1872/1873, FA, PSSI-nya Inggris, menghubungkan kedua tiang dengan tali. Ketinggiannya mencapai 2,44 meter. Setinggi inilah tiang gawang sekarang.

Karena tali, tentu membuat kelahi. Bayangkan bola mengenai tali, bisa putus atau berbelok. Tak ada pula catatan sejarah perkelahian akibat mistar tali ini. Catatan dari buku Mengapa Sebelas Lawan Sebelas tulisan Luciano Wernicke menyebutkan tali itu bukan jaminan keadilan. Baru pada tahun 1882 FA memutuskan untuk sepenuhnya menggantikan tali dengan kayu.

Demikian juga soal waktu permainan sepak bola. Dulu itu masih suka-suka. Malah ada aturan bahwa permainan dihentikan jika sebuah tim membuat dua buah gol. Bisa dibayangkan jika ada 25 pemain dengan gawang yang tak jelas, berapa lama pula bisa mencetak gol. Bisa-bisa dari siang tak selesai.

Kalau saya dulu, peluit terakhir berhentinya segala aktivitas olah raga adalah bunyi kentung dan beduk azan maghrib berkumandang. Tak kira berapa serunya permainan, ketika kentung dan beduk berbunyi, semua harus berhenti.

Beberapa siswa akhirnya menyepakati bahwa mereka bermain selama dua kali 45 menit. Pertandingan pertama yang memakai waktu selama 90 menit terjadi tahun 1862. Di lapangan Universitas Cambridge, atara tim sekolah Eton dan Harrow. Ini sekolah elit pada zaman itu.

Tapi laga resmi di FA yang memakai waktu dua babak yang masing-masing 45 menit berlangsung pada 32 Maret 1866. Salah satu alasannya karena keseimbangan dan kepraktisan.

Tapi, saya kini kehilangan momen-momen indah sepak bola. Selalunya, tiap akhir pekan, menikmati beragam pertandingan. Atau menikmati berbagai drama dari pertandingan-pertandingan yang tak sempat ditonton.

Terutama Liga Inggris. Yang seharusnya pertengahan bulan lalu sudah tahu siapa juaranya. Mungkin juga klub itu akan juara, baik liga dilanjutkan atau tidak. Karena wabah virus corona menyerang seluruh dunia. Semua sektor termasuk sepak bola.

Wabah itu pun membuat saya berada di rumah untuk waktu yang panjang. Dari membaca-baca, dicoba menjahit cerita. Karena, kata pakcik saya, kehidupan ini adalah sejumlah penceritaan yang dijahit-jahit, disulam dan dianyam dari waktu ke waktu. Akan banyak cerita yang terjahit dari wabah ini.

Hari ini, terjahit kisah sepak bola. Yang di Inggris dahulu dilarang-larang. Kini menjadi tambang uang.

Write A Comment