Dian Sastro bilang dia harus ke sana. Karena hanya ada di situ. Jadi sayang kalau sudah sampai ke Pontianak, Kalimantan Barat tidak sampai ke situ.

Saya juga. Harus ke tempat yang ingin dituju Dian Sastro. Di situ mulai ada persamaan, saya dan Dian. Untuk menikmati Pengkang. Maka, pencarian Pondok Pengkang pun teragenda. Ketika ke Pontianak.

Dian, dalam film Aruna dan Lidahnya, memang memiliki skenario beraktivitas ke Pontianak. Di sela-sela aktivitasnya menginvestigasi wabah flu burung, Dian mengagendakan safari kuliner. Memanjakan lidah dengan aneka ragam masakan nusantara.

Karena itu, ketika sampai di suatu daerah, terkadang mbahgugel menjadi tempat saya bertanya. Yang selalu saya cari adalah makanan khas daerah tersebut. Terlebih makan enak nan murah.

Saat berada di Pontianak beberapa purnama dulu, selain menikmati kopi yang begitu populer karena peraciknya “malas” menggunakan baju, saya juga ingin berada di Pondok Pengkang.

Sekitar 60 menit perjalanan dari Pontianak, saya pun sampai di sana. Tentu pengkang menjadi pilihan utama. Kekhasan tampak pada kemasan makanan ini.

Dijepit dengan bambu, pengkang dibalut daun pisang dalam bentuk segitiga. Sama kaki. Di dalamnya, ketan atau pulut dicampur dengan ebi atau udang kering.

Pulut yang sudah dibilas dengan santan, tambah udang kering yang gurih, dilapisi daun pisang dan dibakar. Aroma dan cita rasanya memang menggoda.

Ditambah lawan sambal kepah. Kerang-kerangan dari sungai Kalimantan dicampur saos olahan Pondok Pengkang. Yang akan enak dimakan ketika panas.

Sama juga seperti lempar, yang banyak ditemui di Kepri, sangat sedap disantap saat panas. Pengkang memang mengingatkan dengan lempar yang mudah ditemui di sini. Cuma beda sajian, isi dan sambalnya.

Pada makanan seperti ini, saya hanya mengambil batas pada kata sedap, tak sedap atau lumayan. Bukan seperti Nicolas Saputra, seorang chef rekan Dian Sastro dalam film Aruna dan Lidahnya. Kalau Nico bilang ada kejeniusan di makanan ini. Perpaduan ketan dan ebi dengan sambal kerangnya itu luar biasa.

Pada saya, pengkang tu sedap. Mungkin karena harus berjuang ke sana karena jarak yang jauh, makanya menjadi sedap. Atau pas sampai di sana sedang posisi lapar.

Nampaknya harus diulang.

Write A Comment