Teman itu sudah berubah. Penampilannya. Tidak lagi ransel besar. Yang digendongnya ke sana-sini. Hanya sesekali. Kalau pulang dari luar kota. Ketika langsung berkumpul buat nyeruput secangkir kopi.

Di kedai kopi, atau cafe atau sebutan lainnya kisah-kisah itu bermula. Untuk berbagi cerita gembira. Atau kisah politik yang mengada-ada. Semuanya harus membuat tawa.

Temannya teman sudah berkumpul. Dia yang baru datang langsung disambut kegembiraan. Salaman. Cipika cipiki. Atau berantuk kepala. Kadang juga berupa sentuhan-sentuhan keakraban lainnya.

Penghujung tahun itu, terasa nikmat tiap tegukan kopi di salah satu cafe di Batam center. Beberapa teman memang menjanjikan untuk melepas cerita 2019 di sana. Beberapa lagi sibuk dengan agenda yang tidak bisa dijelaskan.

Semakin bertambah usia, ketika makin menua, rasanya teman akrab semakin berkurang. Mungkin mulai terseleksi dengan sendirinya. Karena hobi atau alasan lainnya.

Sesekali, pernah juga merenung soal pertemanan. Kalau mengingat ini, saya selalu terkenang dengan twit mantan Menteri Agama RI Lukman Saifuddin. Tentang teman.

Salah satu kicauannya yang pernah terbaca tentang manfaat teman. Seburuk apapun dia.

Tak ada teman yang tak berguna. Setiap teman, apapun sikapnya, semua datangkan manfaat buat kita. Teman baik akan hadirkan kebahagiaan. Teman tak baik akan perkaya pengalaman. Teman terbaik akan selalu jadi kenangan. Teman terburuk akan berikan pelajaran.

Apapun itu, tetaplah berteman. Dengan sesekali berkumpul (dan bersarikat). Dari (upaya) bersarikat itulah kadang-kadang muncul banyak panggilan buat teman dan teman.

Di suatu tempat, misalnya, kadang terdengar seseorang memanggil seseorang yang lainnya dengan sebutan Ketua. Pak Seks (sekretaris). Atau lain-lainnya. Tanda jabatan atau keakraban. Mungkin juga harapan. Bisa jadi di kedai itu sang Katua yang menyelesaikan masalah.

Tapi, panggilan-panggilan yang (tak) menyelesaikan masalah itu menjadi tali untuk semakin mengeratkan. Perhubungan pertemanannya. Walaupun tidak mengakrabkan. Atau dalam organisasi bisa makin membuat renggang. Apalagi kalau dalam grup media sosialnya selalu disebut: Katua, tolong masalah ini diselesaikan. Dan berulang ulang.

Kalau sudah begitu, ketika berkumpul bisa kaku. Panggilan, Katua, Pak Seks, dan lain lain jadi sekadar basa-basi. Tak mengakrabkan kadar pertemanan.

Tapi, entah sejak kapan panggilan kepada jabatan (di organisasi) mulai populer dan menular. Pun setelah “pensiun” dari organisasi itu kadang panggilan masih melekat. Atau karena panggilan itu apakah berbagai persoalan yang disampaikan bisa selesai?

Saat menuntaskan tulisan ini karena komitmen rajin menulis, sayup-sayup terdengan lirik lagu Kita Pasti Tua milik Fourtwnty. Berkisah tentang tulang mulai menua. Lemah dan tak bertenaga. Rentan berkelana. Mulai pelan dan pelupa.

Saat itu, teman akrab mungkin satu persatu sudah pergi dahulu. Atau kita yang mendahului. Untuk yang masih hidup, paling mendapat pesan, Katua kita dulu sudah pergi.

Tapi di antara perjalanan panjang hidup, tentang pertemanan, kembali saya teringat kicau Lukman.

Kata Lukman: Ada teman bak cermin; kita gembira dia gembira, kita sedih dia sedih. Ada juga bak lembar uang; di depan dan di belakang lain.

Kalau seperti lembaran uang, panggilan itu memang basa basi. Bau basinya pasti akan menyeruak.

Di lembaran itu, walaupun beda pasti ada angka-angka. Mungkin mereka berharap untung yang tak disangka. Walaupun temannya jadi sengsara.

Write A Comment