Padahal sedang menikmati deburan ombak. Deruannya di petang hari begitu sedap untuk dinikmati. Meskipun matahari petang tak datang. Karena langit Natuna sedang berawan.

Tetiba, lelaki separuh baya datang. Menenteng saksofon, lelaki itu memilih duduk di pojok hamparan papan di atas Alif Stone, Natuna. Perpaduan bunyi saksofon dan instrumen lagu Memories milik Maroon 5 mengalih perhatian.

and the memories bring back/memories bring back you.

Memang ada semacam kenangan yang datang. Tentang seseorang. Di antara bebatuan dan lagu itu.

Batu-batu di hamparan bibir laut Natuna menjadi pembuat rindu. Rindu untuk dinikmati keindahannya.

Berwisata ke Natuna adalah melepas rindu dengan batu-batu. Di antara beragam objek wisata, hamparan granit raksasa memiliki pesona sendiri. Perpaduan bebatuan raksana, deburan ombak, gunung ranai nan gagah serta matahari petang, seperti tiada bandingnya.

Jika ke Natuna, khususnya Bunguran, agendakan memadu rindu dengan batu-batu itu. Telusuri semuanya. Satu persatu.

Bisa dimulai dengan Batu Alif. Penamaan ini lebih karena di antara tumpukan batu-batu raksasa itu, ada satu batu tegak seperti huruf Alif.

Pemuja foto-foto instagramable menemukan banyak titik nan indah di sini. Apalagi jika berjumpa matahari petang. Yang menabur jingga ketika hendak berganti peran dengan rembulan.

Bisa juga ke Batu Kasah. Agak jauh dari pusat kota Ranai memang. Ke Desa Cemaga. Memilih pagi ke kawasan ini ada baiknya. Di sini ada perpaduan granit yang besar dan pantai yang landai. Beberapa pondok juga tersedia.

Singgah juga ke Batu Rusia. Batu ini terletak di pinggir jalan. Rekam juga sejenak. Mungkin akan mendapat kisah kenapa disebut Batu Rusia. Tentang peristiwa saat perang dunia kedua bermula. Ketika empat puluh orang awak yang harus menyelamatkan diri karena kapal mereka kandas dan pecah di depan Pulau Senoa.

Di batu itu, ada pahatan tulisan USSR (Union of Soviet Socialist Republic) dan lambang jangkar. Mungkin karena lebih fasih menyebut Rusia daripada Uni Soviet, makanya batu itu dinamakan Batu Rusia.

Saat berupaya memugar, teman di Dinas Pariwisata bercerita mereka menghabiskan waktu hanpir seminggu untuk membersihkan kawasan itu. Pandan laut yang keras dan berduri berdiri kokoh memagari kawasan itu.

Meski berbau sejarah, orang Rusia yang secara khusus datang tidak pernah ada. Suatu kali, saat ada festival yatch, adalah orang Rusia sebagai salah satu pesertanya. Dia dibawa ke batu itu.

Panorama indah lainnya bisa ditemukan di Batu Sindu. Kawasan ini terletak di Senubing tak jauh dari Bandara Ranai. Batu Sindu adalah keindahan, legenda dan pesan-kesan penuh tauladan.

Dari atas bukit, hamparan batunya yang berbagai bentuk, cukup indah untuk dinikmati. Saat matahari terbit, keindahan-keindahan semakin terpancar.

Legenda Sindu pun dibuat lagu. Suatu kali, saya pernah mendengarkannya di SLB Natuna. Saat itu, seorang siswanya, yang punya keahlian bermusik mendendangkannya. Lagunya bagus, suara si anak memang enak, sampailah pesan-pesan dari lagu itu: kata orang tua jangan ditentang, balak dijauh petuah dipegang.

Batu dan lagu pun menjadi keindahan Natuna ketika mendapat spot besar dalam sebuah video klip. Menunggu Kamu, soundtrack yang dilantunkan Anji untuk film Jelita Sejuba mengambarkan pesona itu.

Jelita Sejuba pun dijadikan nama untuk spot kawasan wisata. Tanpa nama depan batu, kawasan ini pun dipenuhi bebatuan. Disambung dengan papan antara satu batu ke batu lainnya.

Kawasan ini sejajar dengan Batu Alif. Senja dan jingga bisa ditemukan untuk menambah keindahan. Lewat klip Menunggu Kamu-nya Anji, ratusan juta kali pesona batu-batu ini dipandang. Semoga saja yang memandang lewat klip segera ingin datang.

Batu itu akan kokoh di situ. Seperti lirik lagu Anji: aku takkan pergi menunggu kamu di sini. Di Natuna.

Write A Comment