Dulu itu hanya membantu membuang-buang air yang masuk ke sampan. Sampan layar ditambah mesin. Supaya cepat sampai. Dari Pulau Babi, ke Meral, Pulau Karimun.

Namanya memang Pulau Babi. Terletak di belakang Pulau Merak yang berdepan-depan dengan Kecamatan Meral Kabupaten Karimun. Entah mengapa dinamakan Pulau Babi. Padahal tak ada babi di situ. Kereta, sebutan kami untuk gurita kecil, cukup banyak. Dan sedap disantap.

Tiga kali saya berada di situ. Menemani almarhum Bapak berkelana di sekitar pulau itu. Dia bersama temannya. Pergi pagi. Pulang ketika bulan mulai mengambang. Hari itu, ketika masih berseragam putih biru, saya diajak.

Suatu kali, di tengah perjalanan ketika berlayar malam, mesinnya berulah. Seketika itu layar dikembang. Hujan mulai membesar. Tapi anak SMP selalu menikmati hujan.

Kini, kalau berlayar selalu dijalani. Rutinitas tugas dan pekerjaan membuat harus menjelajahi lautan.

Saya selalu bercanda dengan teman-teman yang agak risau ketika naik kapal: kalau takut dilambung ombak, janganlah tinggal di Kepri. Sekali dua, tentulah mengarungi lautan. Tak terpesonakah mereka dengan keindahan sejumlah daerah di Kepri. Juga nikmatnya kuliner dengan ciri olahan tiap pulau. Tentu harus dijelajah dengan mengarungi lautan.

Ketika sering ikut belayar itulah saya pernah berada di pulau-pulau yang penuh pesona. Di Pulau Bawah misalnya. Pernah ke sana bersama almarhum Gubernur H Muhammad Sani. Waktu itu dalam proses penyiapan. Setelah mulai beroperasi, CNN pernah mendaulat pulau ini sebagai yang terbaik di dunia

Kini setelah makin populer, tak mungkin menikmati pesonanya. Kabarnya, semalam bisa mencapai angka 35 juta rupiah. Nikmatnya mungkin sesuai harga.

Penjelajah lautan punya cara tersendiri menikmatinya. Nelayan-nelayan dengan tujuannya. Pemancing dengan hobi, rencana dan kesabarannya. Banyak lagi dengan cara masing-masing.

Ketika menuntut ilmu di Riau, KM Jelatik, yang bergerak dari Selatpanjang ke Pekanbaru dan sebaliknya merupakan sarana angkut yang tak terlupakan. Sebagian orang Kepri, agaknya berutang jasa kepada kapal kayu ini. Tapi karena berlayar malam dan tak menemui laut lepas, naik kapal ini seperti pindah tidur. Berangkat pukul lima petang, pukul lima subuh sudah sampai di lokasi.

Banyak yang punya nostalgia di pelayaran ini. Dari Tanjungpinang, Batam atau Tanjungbalai Karimun, semua bergerak ke Selatpanjang untuk kemudian menikmati perjalanan semalaman dengan Jelatik.

Ketika ekonomi terus tumbuh dan pembangunan infrastruktur dibuka di beberapa wilayah, perjalanan pun mengalami perubahan. Kapal-kapal cepat mulai bermunculan. Jelatik tidak lagi menjadi pilihan utama. Kapal langsung ke Tanjungbuton, Bengkalis, Riau menjadi pilihan. Dari Tanjungbuton, angkutan darat sudah menunggu. Ke Pekanbaru atau daerah Sumatera lainnya. Sampai hari ini. Demikian juga dengan pilihan pelayaran ke Dumai, Riau.

Tapi di antara perjalanan yang dilalui, menjelajah ke pulau-pulau di Kepri adalah suatu kenikmatan. Ada 2.408 pulau dalam catatan resmi untuk jumlah pulau di Kepri. Tak semua berpenghuni. Tentu tak semua bisa dijelajahi.

Karena bukan dokumenter yang baik, saya tak pernah mencatat pulau-pulau apa saja yang pernah dikunjungi. Semua pulau itu saya singgahi karena aktivitas pekerjaan.

Pernah berlayar hingga 27 jam untuk singgah di pulau-pulau yang ada di Kabupaten Natuna. Waktu itu, ikut mendampingi perjalanan kerja almarhum H Muhammad Sani. Juga pernah singgah ke empat pulau dalam semalam untuk aktivitas selama Ramadhan. Juga karena tugas.

Perlayaran malam kadang “mencekam”. Pernah berlayar dengan kapal kecil di antara laut di Kepulauan Anambas. Ketika angin kecang dan gelombang cukup tinggi. Ketika sampai di tujuan, beberapa penumpang baru mengabari mereka basah kuyup terkena tempias air laut.

Yang jelas pelaut dan pelayar punya kisah sendiri. Dan kadang penuh misteri. Terlibih para nakhoda.

Di antara kisah pelaut, cerita Pakcik saya tentang almarhum Bapak bergitu melekat. Almarhum Bapak yang tamat Sekolah Rakyat berdinas di Bea Cukai Karimun. Mendapat tugas di kapal-kapal BT (Bea Tjukai) yang menjelajahi lautan se Indonesia.

Di antara panjang kisahnya, yang selalu saya ingat adalah pelaut seperti Bapak, selalu berada di antara pusat kegerunan manusia, di tengah samudera yang tak berhingga. Mereka harus belajar dan melakukan tindakan dalam kumpulan manusia yang serba terbatas; dikepung air ombak dan taufan serba tak terduga. Di atas bilah yang terombang ambing di tengah bentang alam yang tak berkaki.

Para pelaut, pelayar, adalah seorang spiritualis sejati. Mandiri dan tak pernah menyusahkan orang-orang lain. Mereka mampu meringankan diri sendiri dalam kondisi apapun.

Walau bukan pelayar, saya harus seperti itu.

Write A Comment