Sudah kotor lagi. Tapi ini lebih kepada kampanye untuk mengajak orang banyak peduli. Peduli bahwa semua harus bersama untuk menjaga lingkungan tetap bersih. Terutama laut.

Ini perbincangan saya dengan seorang teman ketika dia mengirim prestasi Indonesia dalam aksi World Clean Up Day (WCD), bulan lalu. Tahun lalu, WCD digelar serentak pada 15 September. Indonesia mendapat apresiasi dari dunia. Sebanyak 7,6 juta warga Indonesia terlibat dalam aksi bersih-bersih itu.

Kepri ikut menyumbang peran dalam aksi ini. Ada 36.917 relawan yang ikut dalam aksi-aksi itu. Dari aksi di 106 lokasi di seluruh Kepri, sebanyak 64.769 kilogram sampah terangkut.

Sebanyak itu dalam sehari. Terangkut dari titik gotong royong di pantai, laut, dermaga, sungai, pemukiman, jalan, sekolah dan lainnya. Hari itu, foto pembanding sebelum dan sesudah aksi bersih-bersih itu menyebar. Kontras, antara yang sampahnya menumpuk dan yang bersih.

Tapi hari ini, di sejumlah lokasi, kondisinya kembali seperti sebelum WCD 15 September itu. Perlahan-lahan sampahnya terus menumpuk.

Perbincangan saya dengan Renald Yude, rekan yang peduli lingkungan ini lebih banyak tentang WCD tahun ini. Yang recananya akan dilaksanakan pada 21 September 2019. Ada mimpi besar agar gerakan ini diikuti jumlah yang lebih banyak.

Tentu kesadaran-kesadaran setelah hari itu. Jadi, lokasi yang sudah bersih, akan tetap bersih sepanjang tahun. Berlanjut tahun-tahun berikutnya.

Untuk daerah-daerah yang bersih selalu ada pembanding. Ketika seseorang dari suatu kota atau negara yang bersih kembali ke daerah asalahbya setelah “melancong”, seperti itu juga cita-citanya dengan daerah ini.

“Kita selalu ingin sama dengan Singapura, dan negara maju lainnya. Tapi kita lupa, mereka semakin maju dan bersih, kita semakin kumuh. Nah itulah tugas gubernur dan wali kota untuk membenahi. Agar dapat sama dengan Singapura,” kata Wapres HM Jusuf Kalla suatu kali.

Di pemerintahan, tentu membenahinya dengan aturan-aturan. Yang dijalankan. Terutama hukuman ketika aturan itu dilanggar. Banyak negara yang sudah menbuat aturan tentang sampah. Juga sampah plastik sekali pakai.

Di Indonesia pun ada yang demikian. Teman saya, Renal itu, mengirim Peraturan Gubernur Bali Nomor 97 tahun 2018. Itu Pergub tentang Pembatasan Timbulan Sampah Plastik Sekali Pakai.

Di Pergub itu, jenis plastik sekali pakai (PSP) yang dibatasi berupa kantong plastik, polysterina (styrofoam) dan sedotan plastik disarankan dihilangkan. Jenis PSP itu kegunaannya dapat diganti dengan bahan lain atau dihilangkan. Di beberapa cafe di Jakarta pun, mereka sudah menyediakan sedotan kertas.

Banyak hal lain dalam pasal pasal dari Pergub itu untuk merealisasikan bebas sampah plastik sekali pakai. Kepri, dan kabupaten kotanya pasti bisa.

Sekali waktu, teman saya itu mengirim “monster plastik” di Jembatan Dompak, Tanjungpinang. Bersama monster itu, mereka melakukan aksi bersih-bersih. Juga kampanye meningkatkan kesadaran masyarakat tentang dampak lingkungan dan bahaya plastik sekali pakai. Tentu perlu dukungan semua pihak.

Memang, yang paling penting adalah kesadaran kita semua. Untuk tidak menyampah. Tidak jadi sampah yang menyampah. Jadilah teman untuk lingkungan.

Write A Comment