Padahal sudah dua jembatan penghubungnya. Antara Pulau Pinang (Penang) dengan Semenanjung Malaysia. Masih juga terdengar rencana pembuatan tunel. Tol bawah laut yang menghubungkan dua wilayah ini.

Jembatan pertama, selesai tahun 1985. Diresmikan tepat pada 14 September 1985. Bekas Presiden Korea Selatan, Lee Myung Bak, dengan perusahaan Hyundai Construction yang mengerjakaannya.

Lee mulai mendengar rencana pembangunan Jembatan Penang, di akhir tahun 1960-an. Saat itu, Lee sedang di Thailand, untuk sebuah proyek infrastruktur yang dimenangkan perusahaannya, Hyundai Construction. Lee, sebelum jadi Presiden Korsel antara 2008-2013 memang menghabiskan waktu di perusahaan tersebut.

Lee, dalam bukunya Gerobak Lee Myung Bak, menuturkan beberapa alasan Malaysia menganggap proyek pembuatan jembatan ini begitu penting. Pertama, kebutuhan untuk mengendalikan Pulau Penang yang kaya raya dan menghubungkannya dengan ekonomi di Semenanjung.

Alasan lain, menurut Lee, karena Penang sangat berharga bagi basis industri. Nilainya begitu tinggi, sehingga begitu Singapura memisahkan diri, penduduk Cina awalnya lebih menginginkan Penang dari apa yang sekarang menjadi Singapura.

Penang adalah negara bagian, tetapi pengaruh ekonominya menyaingi Singapura. Jika dihubungkan dengan Semenanjung, Malaysia tidak hanya diuntungkan secara ekonomi, tetapi juga dapat mempengaruhi komunitas Cina yang sangat kuat.

Maka dikerjakanlah jembatan pertama itu. Tender Jembatan Penang dimulai pada awal 1981. Kata Lee, Hyundai mencurahkan banyak waktu dan energi untuk tender itu. Empat puluh satu perusahaan dari 17 negara terlibar proses tender. Hampir semua perusahaan konstruksi hebat dunia ikut. Lee menganggap Jembatan Penang sebagai salah satu prestasinya sebagai pengusaha.

Ternyata Malaysia tak mau berhenti mengikat Penang dengan satu jembatan. Pada tahun 2008, jembatan kedua dikerjakan. Secara konstruksi, jembatan yang diberi nama Jambatan Sultan Abdul Halim Mu’adzam ini mencapai 23,5 Km. Akan tetapi, bentang jembatan yang berada di atas laut cuma sepanjang 16,9 Km.

Jembatan yang memakan biaya 1,7 miliar dolar Amerika ini dikerjakan sepanjang lima tahun. Pada hari Ahad, tanggal 2 Maret 2014, rakyat Malaysia mulai melaju di jembatan yang lebih sering disebut Second Bridge ini.

Jembatan adalah kebanggaan. Itu juga yang diinginkan Kepri. Di Kepulauan Riau, rencana pembangunan jembatan yang menghubungkan Pulau Batam dan Bintan mulai terdengar sejak awal tahun 2000-an. Kerap berdentang keras ketika musim pemilihan kepala daerah tiba. Redup lagi dan kembali berbunyi ketika musimnya tiba.

Mimpi untuk itu tak pernah berhenti. Ketika kanar itu muncul, saat itu juga perkiraan biayanya mengemuka. Dari biaya sebesar empat triliun rupiah, tujuh triliun rupiah hingga angka yang melebihi anggaran belanja Pemprov Kepri lebih dari tiga tahun.

Berkali-kali juga perusahaan dari China dan Korea datang. Ingin terlibat menghubungkan Batam dan Bintan. Berkali-kali juga upaya itu gagal.

Tak sekali pula Gubernur Kepri H Nurdin Basirun menerima calon-calon investor itu. Di Jakarta juga di Kepri. Meski tetap berunding dengan banyak “investor” luar negeri, Nurdin kerap mengadu ke Presiden Joko Widodo.

Seperti anak minta kepada bapak, tiap jumpa Presiden, Nurdin selalu menyampaikan soal jembatan. Agaknya, ketika bersua, Nurdin selalu cakap, “Pak, bangunlah Jembatan Batam-Bintan.”

Berkali-kali. Termasuk juga ke Menteri PU dan Kepala Bappenas. Sampai akhirnya pada awal April tahun ini Presiden Jokowi melepas janji: kami akan bangun jembatan.

Malah janji itu dipertegas dalam status facebook sang Presiden. Jejak digitalnya menjadi janji yang tertulis. Jokowi menulis bahwa Kota Batam di Kepulauan Riau ini adalah salah satu etalase Indonesia. Kotanya bahkan beradu pandang dengan Singapura di seberang selat. Tidak salah kiranya, rakyat di sana berharap banyak agar daerahnya lebih maju. Mereka meminta pemerintah membangun jembatan dari Batam ke Pulau Bintan. Di pulau ini terletak Kota Tanjungpinang, ibu kota Provinsi Kepulauan Riau.

Dan Jokowi dalam janjinya menegaskan akan dibangun. Tanda tanda itu sudah tampak. Pertama, proyek itu dimasukkan dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2020-2024. Pembangunan itu menjadi prioritas nasional dengan semangat mengembangkan wilayah untuk mengurangi kesenjangan dan menjamin pemerataan.

Dia dijadikan major project berupa integrasi pembangunan wilayah Batam-Bintan. Diuraikanlah sedikit manfaat proyek ini, dengan harapan pengembangan Kawasan Batam Bintan dapat bermanfaat dalam mendorong pertumbuhan industri dan pariwisata guna meningkatkan daya saing wilayah.

Malah kalau melihat Permen Perencanaan Pembangunan Nasional Nomor 2 Tahun 2019, tentang Rencana Kerja Pemerintah Tahun 2020, pada Bab Tema dan Sasaran Pembangunan, disitu dicantumkan RPJM dan Janji Presiden.

Kalau melihat durasinya, pembangunan tersebut berada antara Jembatan Penang dan Second Bridge yang memakan waktu lima tahun. Sebelum empat tahun, kalau dimulai tahun depan, selesailah.

Informasi dari Jakarta, perintah pembangunan jembatan sudah disampaikan Presiden ke Menteri PU. Pak Menteri pun sudah memerintahkan ke Dirjen terkait. Malah, sang Dirjen sudah dua kali ke lokasi. Direktur yang menangani sudah tiga kali.

Seorang pejabat Dinas Pekerjaan Umum Kepri mengisahkan itu. Bahkan katanya, Jakarta sudah melangkah jauh. Hingga model pendanaan. Dia pun ikut mendampingi tim Jakarta ke lokasi. Ke titik-titik yang akan menjadi tiang jembatan.

Ketika ditanya apakah seperti Jembatan Penang yang bisa berhenti, atau Second Bridge tanpa perhentian, dia menyebut tanpa tempat perhentian. Kecuali di aebuah pulau penghubung antara Bintan dan Batam.

Penang terkenal dengan sangat indah. Mereka pun bangga dengan jembatannya. Apalagi jika tunel sudah terhubung. Mereka pun senang dengan warga Indonesia. Yang semakin banyak datang ke sana. Baik berwisata, maupun berobat.

Tapi, ketika batu pertama belum diletakkan, semua itu masih seutas janji. Tentang kebanggan dan martabat bangsa dengan gagahnya jembatan itu, masih jadi bahan perbualan. Untuk berbual-bual saja.

Write A Comment