Nama ini selalu terdengar ketika saya masih berseragam putih merah dan putih biru. Sesekali melalui suara radio. Juga dalam percakapan orang-orang dewasa. Termasuk guru-guru di sekolah.

Murwanto; nama itu. Bupati Kepulauan Riau. Untuk masa jabatan 10 tahun dari 1980-1990. Karena berada di tanah yang beda, hanya sebutan nama itu yang kerap terdengar. Saya di Karimun. Sebuah pulau yang berjarak lima-tujuh jam perjalanan kapal saat itu. Dari Tanjungpinang.

Waktu terus berlalu. Tiba-tiba saya harus berinteraksi dengan Murwanto. Di awal 2011. Ini semua karena almarhum H Muhammad Sani. Gubernur Kepulauan Riau yang saat itu sedang menuntaskan biografinya; Untung Sabut.

Saya ikut dilibatkan dalam penyelesaian buku ini. Terutama menjalin komunikasi dengan sahabat, rekan kerja, mantan atasan, saat almarhum memulai aktivitas di dunia birokrasi. Salah seorang yang harus dihubungi untuk menyumbang tulisan dalam buku Untung Sabut adalah Murwanto.

Saya tak punya akses khusus untuk sampai ke tempat Murwanto. Semuanya melalui kontak yang dilakukan oleh Dani Rezki, ajudan HM Sani. Setelah dapat berkomunikasi, perjanjian untuk bertemu disepakati.

Tapi, sebelum bertemu, dan melakukan perbincangan, catatan HM Sani tentang interaksinya dengan Murwanto saya simak. Waktu itu, Sani yang ditempatkan di Bintan Timur, tepatnya Kijang, mulai menarik perhatian Murwanto.

Tak lama di Kijang, Sani diperintahkan Murwanto untuk bergabung di Kabupaten Kepri. Dia diletakkan sebagai staf di bidang perekonomian. Tak lama, Hanya dua bulan.

Setelah itu, Sani dilantik Murwanto sebagai Kepala Bagian Pemerintahan. Ini bagian yang memang langsung bersentuhan dengan Murwanto, sebagai Bupati. Sani berkata, setelah diamanahkan jabatan itu, ia semakin sering membaca, menelaah peraturan-peraturan, atau ketentuan di bidang kemasyarakatan dan lainnya.

“Ini harus dilakukan supaya bisa memberikan saran, telaahan staf dan pidato kepada Bupati. Tanpa belajar kembali, kita tidak bisa memberikan kontribusi kepada pimpinan,” tulis Sani.

Bekal kisah-kisah itu saya bawa dalam pertemuan dengan Murwanto. Perbualan santai. Tapi saya rekam. Hasil perbualan ini yang disalin ulang untuk dimuat dalam buku Untung Sabut.

Murwanto memulai kisahnya tentang Kepulauan Riau. Tentang setuhannya dengan kawasan yang memiliki lebih dari dua ribu pulau ini. Murwanto sudah akrab dengan Kepri sebelum diamanahkan jabatan Bupati.

Tahun 1975, dia menjabat sebagai Komandan Kodim. Sebelumnya, sekitar tahun 1971, Murwanto di Kepri untuk melatih sukarelawan. Termasuk menyusun  titik titik kuat daerah perbatasan. Apalagi saat itu habis konfrontasi dengan Malaysia. Pergerakannya mengelilingi Kepulauan Riau dibantu kapal-kapal Bea Cukai.

Malah ketika merangkap sebagai Asisten Teritorial Operasi Halilintar, Murwanto semakin tahu dengan Kepulauan Riau. Karena bergerak sampai ke pelosok-pelosok pulau. Termasuk sampai di Riau, karena operasinya hingga kawasan Sumatera.

Karena itu Murwanto sangat kenal dengan Kepri. Mulai isinya, manusianya, budayanya. Tahun 1980, dia diamanahkan menjabat Bupati Kepulauan Riau. Amanah diberikan kepadanya hingga tahun 1990.

Menurut Murwanto, TNI itu wawasannya luas. Dia pun betul-betul terjun di bidang kemasyarakatan. Dia memegang teguh ajaran-ajaran sewaktu di TNI; prinsip kita harus dekat dengan rakyat. Ketika Kepulauan Riau menjadi provinsi, Murwanto mengaku senang.

“Selesai menjadi bupati, saya lega. Riau Kepulauan bisa berdiri sendiri. Dan kini melihat kemajuan-kemajuannya. Intinya, kita harus bekerja keras, bersatu padu dengan masyarakat,” kata Murwanto.

Karena itu, Murwanto mengajak masyarakat untuk membangun negeri Segantang Lada ini dengan bersatu padu.

Dalam menjalankan kehidupan, diperlukan teladan yang baik. Kata Murwanto, kalau dia tidak berbuat yang macam-macam, anak buah tidak akan macam-macam. Harus menauladaninya. Amanah masyarakat jangan disalahgunakan. Jangan digunakan untuk kepentingan pribadi.

Perbualan itu memang lebih banyak kenangannya tentang Sani. Tapi tetap berisi pesan-pesan kepemimpinan. Menurut Murwanto, Sani seorang yang disiplin, pejuang, dan pekerja keras. Sani banyak membantu dirinya pada waktu menjadi Bupati Kepri. Kerjanya selalu selesai dengan baik.

Penggambaran Murwanto tentang Sani sangat baik untuk dijadikan acuan. Sani meneladani, mengambil contoh-contoh yang baik. Tidak hanya dari Murwanto. Dari banyak orang, dia ambil yang baik-baik. Untuk diimplementasikan, diterjemahkan, dimodifikasi. Semua untuk rakyat.

Rabu, 9 Januari 2019, sebuah berita tentang kepulangan Murwanto ke Rahmatullah sampai ke saya. Selamat jalan Pak. Terima kasih perbualan waktu itu.

Write A Comment