Perwira Belanda yang mengajarkannya. Saat itu, Sang Paman bekerja sebagai tukang masak di Kapal Belanda. Karena harus makan roti, berbagai olah diajarkan kepada Sang Paman.

Indonesia merdeka, kapal-kapal Belanda pun mulai tak beredar di perairan Nusantara. Keahlian memasak Sang Paman tentu harus terwarisi.

Kebetulan, pada tahun 1947, orang tua Dudi Hartono, kakak beradik Sang Paman mulai membuka kedai kopi di pusat kota Pulau Karimun, Provinsi Kepri. Di perempatan strategis di Tanjungbalai, kedai kopi itu diberi nama Nam A.

Sang Paman pun mewariskan olahan roti untuk kedai kopi Nam A. Hingga kini, masih ada. Terutama roti kukus, roti bakar dan roti gorengnya. Roti kukus dan goreng ini termasuk yang paling banyak dipesan.

Botan. Itu nama yang populer untuk kedai kopi ini. Padahal, sejak tahun 1963, ketika nama-nama berbau Tiongkon mulai dilarang, Nam A berubah menjadi kedai kopi Sejahtera. Beberapa purnama kemudian, kedai kopi ini menggunakan nama Simpang Jaya. Sampai saat ini.

Tetap nama Botan yang lebih populer. Apalagi ada operator seluler memasang spanduk di dekat perabung atap dengan nama Kedai Kopi Botan.

Botan adalah panggilan seorang teman kepada Dudi Hartono. Dudi yang kini mewarisi kedai kopi itu. Kedai kopi Nam A dibuka oleh orang tua Dudi. Setelah ayahnya meninggal, ibunya yang mengurus kedai kopi ini. Dudi meneruskannya setelah sang ibu berpulang.

Sampai hari ini, Botan terus menyapa pelanggan yang datang. Sesekali dia memanggil dan menyebut nama meja ketika ada pelanggan yang duduk. Agar pelayan segera datang.

Layanan di sini termasuk cepat. Tak lama menunggu pesanan segera datang. Walaupun selalu penuh. Terutama di pagi hari menjelang jam kantor. Atau masyarakat yang ingin berangkat ke pelabuhan dengan kapal pagi hari.

“Pukul 04.40,” kata Botan ditanya jam berapa mulai beroperasi.

Saban hari, kedai ini tutup pada pukul 13.00 WIB. Kecuali Ahad, mereka menutup operasi pada pukul 12.00 WIB.

Beberapa masyarakat selepas Shalat Subuh memilih ngopi di sini. Botan tahu pelanggannya kebanyakan menghindari kalau ada unsur haram.

Karena itu, kehalalan produk sangat dijaga. Termasuk sarikaya teman makan roti. Jadi semacam saos untuk roti goreng telur. Atau penyedap roti kukus dan roti bakar

Olahan membuat selai begitu lama. Delapan jam. Botan tidak mau membuat selai sarikaya yang tak tahan lama. Ia ingin awet tanpa bahan pengawet.

“Entah apa namanya, tapi bukan dikukus,” kata Botan tentang olahan pembuatan sarikayanya.

Campuran santan gula dan telur diletakkan di dalam satu wadah. Wadah ini diletak di tengah air yang terus mendidih. Sesekali diaduk agar tidak kental. Proses ini yang harus memakan waktu delapan jam.

“Kalau buat yang 20 menit pun bisa, tapi cepat basi,” kata Botan.

Botan pun bercerita tentang pembuatan roti goreng telur dan roti kukus. Dia selalu menjaga bahan yang berkualitas tinggi. Termasuk minyak gorengnya.

Demikian juga untuk roti kukus. Stabiltas suhu untuk pengukusan selalu dijaga. Sampai saat ini dia masih menggunakan arang untuk pemanas. Perangkat mengukus pun dibagi dua. Air panas untuk membuat minuman dan untuk mengukus roti.

Tak hanya olahan roti yang dinikmati pelanggan. Lontong sayur menjadi yang favorit. Lontong ini mulai jualan di Botan sejak tahun 1992. Jadi buruan utama masyarakat untuk sarapan pagi.

Selain kuah sayur nan kental, potongan ayam gulai selalu menjadi pelengkap lontong. Banyak yang memilih lontong sayur dengan ayam ketimbang telur. Juga racikan kentang dan teri yang akan menggugah selera.

Botan terus menyapa pelanggannya. Di kedai kopi yang berumur lebih dari 70 tahun ini, penikmatnya pun dari beragam generasi.

Sesekali jika berada di Karimun, singgahlah.

Write A Comment