Selalu ada harapan terhadap Timnas Indonesia. Walaupun sudah lama tak mengangkat piala. Tiap ada turnamen, terutama untuk kawasan Asia Tenggara, harapan bakal juara selalu ada. Inilah saatnya. Semacam gairah football come home-nya Inggris.

Ketika Piala Suzuki AFF 2018 digelar, harapan itu membuncah tinggi. Pasukan Garuda bakal berjaya. Apalagi sudah 27 tahun Timnas senior tak mengangkat piala. Nyatanya, di kualifikasi grup, hanya sekali menang, sekali imbang dan dua kali terjungkal. Gagal.

Kegagalan demi kegagalan tak mengurangi semangat mendukung Timnas Indonesia. Dalam banyak kesempatan, dukungan itu bisa diberikan lewat doa. Karena berkali-kali hanya menikmati permainan Timnas di layar kaca. Padalah, selalu ingin berada di situ, saat Timnas membawa garuda terbang tinggi dengan kemenangan-kemenangan. Ataupun “melemah” karena kekalahan.

Siapa tahu kehadiran ini bisa membawa tuah. Tuah kemenangan. Apalagi ikut menjerit lantang memberi dukungan. Saat bermain kandang di Jakarta, selalu tak menemui agenda untuk ada di sana. Juga faktor biaya dan jadwal kerja.

Ketika jadwal Piala AFF 2018 menempatkan Indonesia satu grup dengan Singapura, muncul semangat untuk menyaksikan langsung di sana. Apalagi main pertama di akhir pekan, tepatnya Jumat (9/11) di National Stadium, Singapura.

 

Walaupun berniat, tapi tak langsung mencari tiket. Ragu tentang waktu dan teman-teman yang ingin ikut serta. Akhirnya, pada 8 November siang, sibuk berburu tiket untuk menonton.

Setelah menggunakan mesin pencari dan pertimbangan kanan kiri, didapatlah tiket melalui sportshubtix. Beberapa teman membeli lewat jejaring PSSI. Ada beda harga memang. Mereka lebih mahal, tapi mendapat jersey Timnas warna putih. Mungkin diharapkan digunakan di Singapura.

 

 

 

 

 

 

Hari pertandingan tiba. Bergerak ke Singapura melalui Pelabuhan Internasional Batam Centre. Satu jam perjalanan dilayari. Antri untuk checkpoint memakan waktu tiga puluh menit.

Sebelum bergerak kemana-mana, saya menikmati nasi ayam di Pelabuhan Harbourfront. Mungkin biar kuat. Menghadapi “kenyataan” hasil Timnas di kandang Singa.

Sememangnya, kenyataan pahit itu menjadi nyata. Setelah pada menit ke 37, Haris Harun membawa Singapura unggul. Skor 1-0 bertahan hingga peluit akhir untuk kemenangan Singapura.

Padahal, sepanjang 90 menit, Indonesia menguasai 62 persen bola, namun hanya sekali sepakan tepat ke gawang Singapura berhasil dilakukan. Selebihnya, berputar-putar di tengah lapangan.

Tanda tanda kegagalan di turnamen dua tahunan ini sepertinya mulai terlihat. Tapi, PSSI melalui situsnya hanya menyebut, “Indonesia dapat Pelajaran Berharga dari Singapura.”

Pelajaran berharga menjadi kata pelipur lara setiap kalah. Tentu ribuan suporter, yang datang jauh-jauh, kecewa. Niat hati nak bersenang-senang dengan kemenangan, ilang. Uang yang “terbuang” sepertinya menjadi tak imbang.

Meski begitu, sepanjang pertandingan mereka terus menyanyikan lagu untuk memberi dukungan. Tanda begitu sayang.

“Ku yakin kau bisa,” terus dilantunkan ribuan penyokong Timnas. Demikian juga dengan lagu-lagu penyemangat lainnya. Tapi, hari itu, keyakinan itu tak sampai. Meski kalah, dukungan dan harapan kepada Timnas tak pernah luntur. Protes lebih banyak dialamatkan kepada PSSI.

Pada turnamen tahun ini, Indonesia gagal dan hanya berada di posisi keempat dari lima negara. Di atas Timor Leste. Di bawah Thailand, Filipina dan Singapura.

Kekalahan, kata Gary Nevile, bintang Manchester United, seperti persimpangan jalan bagi pemain. Mereka berpikir para penggemar akan meninggalkannnya waktu itu.

Begitulah penggemar. Kecintaannya sangat tinggi. Mereka selalu setia, walau harapannya selalu disia-sia. Singapura, yang selalu bermandikan cahaya, seperti redup malam itu.

Hanya kata-kata hiburan yang terdengar di penghujung kualifikasi grup. Seperti yang disampaikan pelatih Filipina, Sven-Goran Eriksson, usai menahan imbang Indonesia di Stadion Nasional Gelora Bung Karno, Jakarta. Mantan pelatih Timnas Inggris ini berujar bahwa Indonesia punya masa depan cerah dan sangat baik ke depannya. Indonesia bermain bagus melawan Filipina.

Entah kapan masa depan cerah itu diraih. Timnas senior sepertinya selalu nyaris jadi juara. Seperti di Piala Suzuki AFF tahun 2010. Nyaris juara.

Di National Stadium Singapura ini, kali kedua saya hadir memberi dukungan untuk Timnas di Piala AFF. Sebelumnya, tahun 2010, pernah juga ikut mendukung Timnas di Stadion Nasional Bukit Jalil, Kuala Lumpur Malaysia.

Waktu itu, Indonesia punya peluang besar untuk juara. Menghadapi Malaysia dan partai final, dalam sistem kandang dan tandang, Indonesia disebut-sebut berada di atas angin.

Betapa tidak, pada pembukaan Piala Suzuki AFF 2010 di Jakarta, Timnas membantai Malaysia dengan skor telak 5-1. Setelah itu, Malaysia tertatih-tatih sepanjang kualifikasi grup, namun bisa lolos sebagai runner-up di bawah Indonesia.

Di babak final, Indonesia dan Malaysia bertemu lagi. Karena pernah membantai dengan skor telak, aroma kemenangan berpihak ke Indonesia.

Dengan kondisi itu, pendukung Timnas yakin Piala AFF akan diraih. Saya pun bersemangat untuk ikut menyaksikan “kehebatan” pasukan Garuda ini. Sampai di Bukit Jalil, pada 26 Desember 2010, agak sombonglah sikit diri ini.

Pendukung Harimau Malaya juga demikian. Yakin bisa mematahkan kepal Garuda. Kekalahan 5-1, dianggap sebagai pelajaran. Ternyata, memang benar-benar menjadi pelajaran untuk kesebalasan Malaysia.

Di Bukit Jalil, Indonesia pula yang dibantai dengan skor 3-0. Remuk redam hati ini. Seperti lirik Patahnya Sayap Malam, sebuah lagu Malaysia: tersimpan kenangan bersama malam kecundang.

Harapan selalu muncul. Di Jakarta, keadaan diyakini bakal berbalik. Indonesia pasti bisa membalas dengan skor lebih besar. Seperti pertandingan pembuka dengan selisih empat gol. Indonesia memang menang. Tapi skornya tipis. 2-1. Secara agregat kalah 4-2. Tak dapat lagi piala untuk koleksi di lemari PSSI.

Kecewa. Harapan tetaplah sebuah pengharapan. Lautan kuning di Bukit Jalil tampak gelap. Apalagi ketika mendengar gemuruh suporter Malaysia.

Memang seperti dikatakan Alex Ferguson, dalam perjalanan hidup di dunia sepakbola, seseorang akan merasakan keterpurukan, kejatuhan, kekalahan dan kekecewaan.

Tapi sudah terlalu lama pendukung Timnas merasakan kekecewaan itu. Entahlah PSSI, merasakan atau tidak. Mungkin mereka menikmati perjalanan hidup di dunia sepak bola seperti diperkatakan mantan pelatih Manchester United itu. Selalu bahagia memberi rasa kecewa untuk pendukung Timnas. Tak heran kalau dalam banyak kesempatan, protes lebih banyak mengarah ke pengurus PSSI.

Entah sampai kapan pendukung sepakbola nasional merasakan malam-malam yang tak sedap setelah peluit panjang berbunyi. Apalagi sepakbola tak hanya 90 menit di atas lapangan. Selalu ada cerita panjang setelah dan sebelum pertandingan.

Saat menyaksikan pertandingan di stadion, tentu kita ingin bersenang-senang. Juga pulang dengan kegembiraan.

Write A Comment