Kehadirannya tak disadari. Walaupun selalu bercermin di pagi hari. Sekali dua sisir digerakkan dan terlihat rapi, cermin pun ditinggal. Bergegas menekan gas untuk sampai di tempat tugas.

Biasanya orang-orang dekat dan terdekat dengan kita yang tahu terlebih dahulu. Pun kalau diperhatikan betul lewat cermin, tak tampak sangat.

Apalagi munculnya dari pinggiran. Dari bagian cambang. Daerah yang tidak diperhatikan dengan detail kalau bercermin. Bagian yang juga jarang disisir kecuali oleh tukang potong rambut.

“Kalau sudah semua makin berwibawa Bang,” kata seorang rekan kerja, ketika saya masuk ke ruangannya.

Saya pun bertanya tentang apa. Apakah soal produksi pekerjaan atau lainnya.

“Dah mulai tumbuh uban,” kata dia disambut tawa rekan yang lain.

Baru sadar bahwa helaian-helaian putih mulai bermuncul. Dari bagian yang tak berjauhan dengan telinga. Bagian yang kurang terperhatikan.

Rasa penasaran langsung timbul. Karena tak mau mencari cermin, swafoto dilakukan. Ke bagian cambang. Tampaklah tiga helai rambut putih sudah tumbuh. Kiri dan kanan. Sama-sama tiga.

Ketika menemukan uban mulai ada pertama kali itu, tawa pun terdengar pelan. Ini berarti pertanda-pertanda.

Mulai menua. Melanin atau pigmen pewarna pada rambut mulai habis. Mungkin juga ini pengingat untuk semakin taat.

Mesin pencari google menjadi “sahabat”. Ketika mengetik tentang uban, langsung muncul banyak “cabang” perubanan yang harus dipilih. Ada tentang uban rambut, tentang uban dalam Alquran, tentang uban di usia muda dan dalil tentang uban.

Pilihan pertama langsung ke tentang uban dalam Alquran.

Pertama tulisan Ahmad Ansori di muslim.or.id. Kedua tulisan Muhammad Ishom, dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta di laman nu.or.id.

Dari tulisan pertama yang saya baca, banyak pesan dan pertanda yang harus dijadikan renungan. Pertama, uban mengingatkan seseorang akan dekatnya ajal. Kedua, uban menjadikan seseorang tak lagi rakus kepada dunia.

Pertanda ketiga disebutkan bahwa uban akan menjadi cahaya di hari kiamat. Pesan keempat menyebutkan bahwa munculnya uban akan mendorong seseorang untuk giat beramal. Dan terakhir, uban memancarkan sikap tabah dan wibawa.

Agaknya, kewibawaan sekejab lagi menyeruak. Kalau sudah ramai helaian-helaian memutih yang muncul. Tapi ini baru tiga dan tiga. Pesan empat yang pertama harus diperhatikan betul untuk diri sendiri.

Dari tulisan kedua, Muhammad Ishom menarik kesimpulan bahwa berubannya rambut seorang secara normal ketika sudah mencapai usia tertentu memiliki makna teologis sebagai pengingat bahwa saat ajal sesungguhnya sudah bergerak mendekat. Rambut putih itu sekaligus merupakan cahaya yang diharapkan akan menjadi obor dalam perjalanan pulang kepada Sang Pencipta. Tidak selayaknya cahaya itu dipadamkan untuk tujuan-tujuan duniawi. Maka siapa pun ketika rambutnya telah memutih sebaiknya mulai menata dan memantapkan diri secara istiqamah meraih cita-cita luhur akhir hidup yang husnul khotimah.

Dalam baca membaca mengenai per-uban-an, banyak pembicaraan sebab-sebab kehadirannya. Juga upaya-upaya menyembunyikannya. Seperti dikaitkan dengan merokok, dikelindankan dengan stres. Juga larangan mencabut, yang dari sisi agama dimakruhkan dan dari sisi kesehatan merusak folikel, saraf-saraf dan juga akar rambut yang bisa memicu terjadinya infeksi.

Soal menyembunyikannya, saya teringat kisah seorang teman. Tentang upaya menyembunyikan uban. Dengan melakukan penyemiran. Berkali-kali upaya itu berhasil.

Tapi lama-lama saat berbincang sana sini penat juga menghadapi serbuan uban itu. Kemunculan uban pun dibandingkan dengan bintang-bintang di langit.

Malam tak akan indah kalau bintang tidak hadir. Begitu juga rambut, kalau hitam semua, tak tampak pesonanya. Ibaratkan sahaja kehadiran helaian yang memutih itu seperti kerlipan bintang di langit. Memancarkan kemilau.

Jadi nikmatilah kehadirannya. Sebagai pengingat, sebagai pertanda. Akan sampai pada batas waktu yang ditentukan.

1 Comment

  1. Uban tak selalu menandakan sudah mulai tua… Hihihi makin beruban makin matang (cari positif nya aje..) kami pun sudah beruban, kadang anak gadis kami yg menemukannya… Hahaha

Reply To Sri Murni Cancel Reply