Belum jauh membuka lembaran buku ini, saya langsung tergoda dengan salah satu pengantarnya. Terutama tentang manusia yang bahagia. Tentu semua ingin bahagia.

Kata Chen Wei, hanya ada dua jenis manusia yang bahagia di dunia ini. Pertama, manusia-manusia yang suka membual. Dan kedua, manusia-manusia yang senang mendengarkan “para pembual.”

Maka, jadilah pembual. Barangkali kelaku macam gitu membuat anda terkenal. Tapi hanya membual untuk bersenang-senang. Bukan berbohong untuk mendapatkan keuntungan.

Kata Chen Wei dalam buku ini proses seorang manusia biasa menjadi seorang tokoh terkenal adalah proses membual tanpa henti kepada berbagai macam orang. Mengubah isi bualan, mengubah topik-topik bualan.

Ini buku berjudul Jack Ma; Sisi-sisi Tak Terduga Sang Godfather Bisnis China. Banyak buku tentang Jack Ma. Tapi ini hasil karya sahabat sekaligus asistennya. Orang yang “paling dekat”. Agak tahu banyak aktivitas Jack Ma yang tak terpublikasikan.

Chen Wei mengenal Jack Ma saat mengikuti Klub Bahasa Inggris Hangzhou. Jack Ma adalah gurunya. Dia mulai bergabung dengan Jack Ma di Alibaba pada 2008 dan menjadi asistennya.

Tapi, Chen Wei mengaku tidak memastikan diri mengenal Jack Ma luar dalam. Dia hanya mencatat hal-hal biasa tentang orang-orang luar biasa.

Proses mencatat ini sebenarnya sangat penting. Oleh siapapun. Terutama yang dekat dengan orang-orang luar biasa. Di segala sektor.

Sisi lain seseorang selalu menarik. Dengan segala prosesnya. Saya selalu ingin berada di situ. Di posisi yang bisa tahu banyak sisi lain seseorang yang tak terpublikasikan secara meluas.

Membaca buku ini, banyak kisah menarik yang didapat. Tentang budaya Alibaba, tentang hobi-hobi “aneh” Jack Ma. Tentang mimpi-mimpinya. Juga khayalannya. Yang semuanya hampir terwujudkan.

Juga tentang kepedulian sosial. Ada kisah tentang bagaimana kepedulian mereka terhadap korban gempa yang terjadi pada 2008. Tentang kebijakan-kebijakan cepat.

Saat membantu suatu daerah bencana, salah satu pesan Jack Ma adalah; Jangan pamer.

Ketika naskah buku ini dikirim, Jack Ma mengaku sangat terkejut. Dalam banyak perjalanan, Chen Wei, biasa mengirim lelucon-lelucon buat bahan “membual” Jack Ma.

Tapi, ketika di Maladewa, malah Jack Ma mendapatkan bahan buku ini. Jack Ma pun terkesima. Karena mengulang kejadian-kejadian dan detail-detail yang bahkan hampir terlupakan.

Jangan pernah menyerah. Ini inti budaya bisnis Alibaba. Dan Jack Ma hampir dalam posisi ini dalam suatu waktu. Saat kunjungan ke Amerika, Jack Ma berada pilihan sulit, berada di persimpangan jalan antara melanjutkan atau menyerah.

Dalam kondisi depresi dan patah semangat, dia mendapat petuah dari pidato Winston Churcill yang diucap saat Perang Dunia II yang disampaikan pengkhutbah:

“Kalian bertanya apa target kita? Saya akan menjawabnya dengan satu kata: Kemenangan. Kemenangan berapapun yang harus dibayarkan. Terlepas dari seberapa banyak kemenangan yang diraih seluruh teror, terlepas dari seberapa panjang dan sulit jalan yang harus ditempuh. Karena tanpa kemenangan tak mungkin kita bisa bertahan.”

Sejak itu, Jack Ma tak pernah berpikir untuk menyerah lagi.

Tapi, dalam catatan Chen Wei, bukan khutbah itu yang membuat Jack Ma “bangkit”. Tapi apa yang dikatakan Jack Ma pada suatu waktu: Dibandingkan dengan apa yang dikatakan pembicara, apa yang didengar audienslah yang lebih penting.

Mungkin dalam banyak membual, tak semuanya suka mendengar. Tapi, dengarlah apa yang ingin kita dengar. Barangkali jadi bahan untuk membual pada lain kesempatan.

Kini Jack Ma bersiap mengundurkan diri. Dari posisi Chairman of the Board Alibaba Group. Dia akan kembali ke dunia pendidikan, dunia yang selalu memberikan dirinya kebahagiaan karena dia mencintai apa yang dilakukannya.

Tentang pendidikan, di buku ini Jack Ma pernah bercakap; Pendidikan bukanlah sebuah indoktrinasi, melainkan sebuah cara untuk mendapat pencerahan.

Barangkali kini dia ingin menebar pencerahan dengan mimpi barunya. Seperti dicatatkannya di penghujung tulisan peletakan jabatan chairman itu;
“Dunia ini sangat besar dan saya masih muda, maka saya akan terus mencoba hal baru – saya bisa mewujudkan mimpi baru, bukan?”

Saya pun harus terus mewujudkan mimpi baru. Paling tidak, nak jadi pembual. Dan melatih diri untuk menulis.

Write A Comment