Azan Ashar selesai berkumandang. Sepuluh menit setelah itu, beberapa teman dengan langkah lari yang kecil-kecil lewat di depan rumah. Seperti biasa, ini saatnya mencari tempat untuk berbagi lapangan dengan orang-orang dewasa.

Kami, anak-anak yang masih berseragam putih biru memang sedang mendemam dengan sepakbola. Ketika petang menjelang, ketika itu juga harus “menguasai” lapangan.

Berkhayal tentang Maradona, Marco Van Basten atau Andreas Brehme. Kadang tentang Fandi Ahmad pemain terbaik Singapura, atau kiper Malaysia Arumugam yang namanya cukup lekat di kepala teman-teman. Seorang senior, di kampung kami, yang berbadan tegap, gelap dan berprofesi sebagai kiper sampai hari ini masih dipanggil Mugem.

Siaran televisi Malaysia dan Singapura yang lebih mudah ditangkap di Karimun, pulau yang berjarak satu jam perlayaran dari dua negara itu menjadi salah satu penyebabnya. Kami lebih akrab dengan program televisi negara serumpun itu, termasuk pelakon, penyanyi dan pelawaknya.

Siaran-siaran sepakbola dari televisi mereka ikut mengenalkan saya pada pemain dunia. Piala Dunia 86 dan Piala Eropa 88 yang mengawali kegemaran saya pada olah raga ini. Maradona yang membawa Argentina juara serta van Basten yang memotori Belanda yang juara di Piala Eropa 88 menjadi “tokoh” khayalan.

Semangat bermain bola ikut bertambah-tambah. Lapangan yang hanya satu, digunakan orang-orang dewasa di kampung dengan kehebatannya masing-masing. Kampung kami punya klub. SPE 86 namanya. Sungai Pasir Emas 86. Mungkin tahun itu menandakan mulai bangkitnya sepak bola di sana. Sama seperti era Maradona membawa Argentina juara.

Selalu ada mimpi untuk menjadi bagian pada tim itu ketika besar kelak. Karenanya, ketika masih berseragam putih biru, berlatih rutin adalah pilihan terbaik.

Setelah Ashar sebelum Maghrib adalah waktu terbaik buat berlatih. Itupun kalau sekolah masuk pagi. Kalau masuk pada shift kedua, makanya tiba di rumah selalu menjelang beduk maghrib.

Hari ini, sudah lama sekali saya tidak bermain sepak bola. Terlebih di lapangan besar seperti dahulu. Padahal sepatu untuk lapangan besar dan futsal selalu memanggil.

Kadang, ketika memandang sepatu bola yang tersimpan rapi di rak, selalu terkenang dengan masa-masa tiga puluh tahun dahulu. Masa ketika ada cita-cita menjadi pesepak bola. Meliuk-liuk di Delle Alpinya Juventus atau San Sironya Milan. Liga Italia memang sangat populer di zaman itu.

Sepatu-sepatu itu tiba-tiba juga membawa ke kenangan masa lalu. Saat itulah, sepatu sekolah adalah sepatu bola. Selalu disayang-sayang. Jangan sampai sepatu itu cedera alias koyak. Bisa kacau rutinitas di sekolah.

Kini, saya hanya penikmat pertandingan-pertandingan sepak bola. Terutama di Liga-liga Eropa. Sesekali liga dalam negeri. Juga pertandingan timnas negeri ini.

Pernah berkali-kali ikut menonton kesebelasan 757 Kepri Jaya, baik tandang maupun kandang. Baru tau rasanya degup jatung ini jika kita memiliki sebuah kesebelasan. Jika bola mengarah ke gawang, tak tenang hati ini. Takut kebobolan. Jantung berdetak kencang.

Tapi kaki ini ingin selalu menendang. Membangkitkan kenangan. Walau setelah lima menit beristirahat di tiang gawang. Agar yang lain tidak tahu kadang mata seperti berkunang-kunang.

Write A Comment