Banyak cara menikmati pisang goreng. Ketika di Manado dalam suatu rangkaian Hari Pers Nasional beberapa tahun silam, saya menikmati betul sambal roa nya. Iya, pisang goreng dicoletkan ke sambal roa. Sedap memang.

Bagi sebagian masyarakat Kepulauan Riau, menikmati pisang goreng selain ditemani teh atau kopi adalah gula. Gula yang diletakkan di piring. Pisang yang masih hangat dicecahkan ke gula. Kemudian; ngam.

Sampai saat ini, ada teman saya yang masih melakukan ritual itu. Setiap saya memesan pisang goreng, dia selalu mengingatkan agar dibawakan juga gula pasir di dalam piring.

Ketika pisang dan gula bertemu, entah kenikmatan apa yang dirasakannya.

Tapi ketika menikmati pisang dan sambal roa, ada sensasi sendiri di lidah ini. Demikian juga ketika menu itu diganti dengan sambal ikan teri manado.

Kita kadang terbiasa dengan nikmatnya menu yang ditemui di sekitar saban harinya. Tapi tiap daerah punya cara sendiri dengan menu makanannya. Selalulah mencoba menu-menu tradisional kalau sedang berkelana.

Sensasi yang baru saya rasakan adalah perpaduan pisang goreng dan tempong. Masyarakat Letung, Kabupaten Anambas menyebut olahan nira yang tidak mengeras ini sebagai tempong.

Jika ke Letung, jangan lupa minta sajikan pisang goreng. Tentu dengan lelehan tempong. Saya berada di situ ketika menu tersebut pertama kali saya temui.

Hari itu, saya memang baru tiba dari Batam untuk urusan pekerjaan. Penerbangan yang hanya tiga kali sepekan itu membuat penumpangnya sampai ketika jam makan siang tiba. Itu kalau tidak delay.

Pertama dihidang sambil menunggu menu utama saya hanya memandang. Segarnya ikan laut dengan beragam olahan begitu menggoda.

Sebelum menu utama tiba, karena mereka harus memasak dulu, disajikanlah pisang goreng. Ada semacam cairan coklat mengental di piring yang berbeda.

“Apa ni,” saya bertanya.

“Buat makan dengan pisang,” kata yang menghidang. Dia segera berlalu.

Saya pun mencecah. Luar biasa nikmatnya. Sebelum asam pedas dan olahan ikan lainnya datang, tempong dulu yang diminta lagi.

Ternyata, kehadiran tempong ini membuat lidah jadi rempong. Ingin terus. Sensasi gula niranya terasa.

Sebelum kembali, saya memutuskan mencari tempat pengolahannya. Tentu untuk dibawa pulang. Kali ini, uang kita tak perlu rempong. Harganya sehat di kantong.

Write A Comment