Puas sudah ku menghimpun doa
Agar kau berubah
Berpaling membentuk
Impian hidup kita
Namun tiada oh kudratku
Untuk halang keinginan
Suaraku tak berdaya
Menentang kemahuanmu
Sia-sia belaka aku
Berkorban kasih…

Lelaki itu menikmati betul lengkingan suara Ziana Zein yang membawakan lagu Putus Terpaksa yang keluar dari ponselnya. Lagu lawas milik penyanyi Malaysia yang populer di tahun 90-an ini sepertinya bukan mengisi suasana hati sang lelaki.

Dia sedang duduk berdua dengan teman wanitanya yang juga sibuk memainkan ponsel pintar. Tak ada perbincangan intens yang terlihat sekitar 60 menit di pelataran Alif Stone.

Petang di Alif Stone Park, yang terletak di Tanjungsulai Sepempang Natuna sedang memerah. Tapi tidak semerona suasana hati pasangan itu. Mereka sibuk dengan aktivitas masing-masing dalam kediamannya. Dekat tapi menjauh dengan ponselnya.

Di tumpukan batu-batu yang lain, ada beberapa anak muda yang sedang mengabadikan matahari yang perlahan mulai pamit. Bentuk bulat sempurna yang menjingga sebentar lagi harus menyerahkan “kekuasaannya” kepada bulan.

Indah memang.

“Recomended,” kata Karin, seorang pengunjung dari Jakarta, yang sedang menunaikan tugasnya di Natuna.

Perempuan yang tiba di Natuna dengan penerbangan terakhir itu, memang bergegas ke Alif Stone setelah meletakkan perlengkapannya di penginapan. Di Senin yang cerah itu, dia berharap dapat menikmati perjalanan pamit matahari kepada siang yang selalu sedap dipandang.

Alif Stone memang salah satu titik tuju wisatawan yang ke Ranai, Natuna. Bebatuannya tersusun indah. Hembusan angin laut ikut membetahkan pengunjung berlama-lama di sini. Apalagi menjelang petang.

Petang itu saya sedang berada di situ. Bersama yang lain menikmati perpaduan keindahan laut, deburan ombak, bebatuan yang kokoh, serta permainan petang dan matahari.

Kalau ke Natuna, masukkanlah Alif Stone sebagai daerah persinggahan. Banyak jalan menuju Ranai, Natuna. Selalu ada penerbangan dari Batam ataupun Tanjungpinang, Ibu Kota Provinsi Kepulauan Riau. Atau ikut berlayar bersama kapal Pelni dari Tanjungpinang.

Pilih waktu sebelah petang. Manjakan mata dengan warna jingga yang mempesona. Kalau sudah begini, tak ingin dipaksa putus mata memandang. Sampai jingga benar-benar ilang. Atau segera bergegas ketika azan berkumandang.

Write A Comment