Kadang bikin rindu, kadang juga buat kesal. Apalagi kalau sudah membahas calon presiden. Macam nak perang.

Ada kegembiraan mengenyek calon lawan. Bahagianya terkira ketika memuji calon yang dia sukai. Tak terpikir dia kalau tiap awal bulan bayar beragam tagihan. Calon-calon yang dihina dan dipujinya pun, rasanya, tak menyelesaikan tagihan bulanannya.

Tapi itulah yang terjadi di beragam laman media sosial. Kadang kita berada di situ. Di lalu lintas perpolitikan yang tanpa sadar memecahbelahkan.

Terlebih di WhatsApp Grup (WAG). Ada beberapa grup WA yang kadang membuat tak nyaman. Saya punya 20 lebih WAG. Ada teman yang WAG-nya lebih dari 40. Beberapa hari ini dia mulai keluar. Malas menikmati kebisingan politik.

Dari jumlah itu, yang benar-benar aktif dalam pembicaraan hanya di lima grup saja. Selebihnya kadang mengikuti, menikmati atau membiarkan pembicaraan di WAG itu berlalu begitu saja.

Tapi dalam dua bulan terakhir ini, beberapa grup dengan kebisingan politik saya ikuti. Bukan ikut terlibat dalam pembicaraan, tapi mengikuti keriuhannya pada kehebohan perbedaan pilihan.

Perbedaan pada pilihan Jokowi dan Prabowo. Kemudian meluas ke Jokowi-Ma’ruf Amin dan Prabowo-Sandiaga. Perbedaan itu ikut mengalir ke turunan yang terkait dengan pasangan itu.

Ada satu grup yang berdiskusi dengan elegan soal perbedaan pilihan para anggotanya. Ini saya nikmati betul analisa tiap “fans” para calon itu.

Namun lebih banyak grup yang ada saja fansnya sibuk mengangkat pujaan dan “menghina” lawan pujaannya.

Atau kadang memancing lawan bicaranya untuk menanggapi postingannya. Setelah itu; kelahi di dalam grup. Ada pula grup yang punya aturan meng-skor anggota yang kelewat batas. Setelah tiga hari diundang kembali bergabung.

Tak sedikit yang menjadi aktivis WA Grup. Apalagi yang ada pejabat di dalamnya. Tiap hari ada saja persoalan bangsa negara yang dibincangkannya. Seolah dialah yang mampu menyelesaikan persoalan itu.

Tak sedikit yang pasif di grup-grup itu. Mau tahu kapan mereka aktif? Ketika tiba-tiba ada postingan ucapan ulang tahun, yang berpulang ke Rahmatullah, atau bencana-bencana besar di negeri ini.

Tiap orang barangkali punya dan mengikuti tipikal grup mereka masing-masing. Ada teman, yang mengikuti grup yang semuanya ke Prabowo dan yang semuanya ke Jokowi.

Kata dia, ingin dia memindahkan pembicaraan itu dari satu grup ke grup lainnya. Ingin menikmati perang yang tak menyelesaikan persoalan tagihan bulanan mereka. Tapi dia takut. Karena persepsi tiap orang selalu beda. Sesuai dengan tafsirnya sendiri.

Kalau diikuti, saya tahulah pemenang pilpres dari grup yang saya terikuti. Tapi pilpresnya kan tidak di grup itu. Tak bisa pula mengabaikan 31 juta pemilih di Jawa Barat, 30 juta di Jawa Timur dan 27 juta pemilih di Jawa Tengah.

Pun, yang bertengkar dengan calon-calon belum tentu menggunakan hak suaranya. Di bilik suara, siapa tau ada bisikan gaib yang mengalihkan coblosan mereka.

Yang sebenarnya “menyedihkan” bisa-bisanya mereka yang jauh dari lingkaran dua calon itu bertengkar. Bertengkar tanpa habis energi.

Siapapun yang terpilih, saya tak yakin pertengkaran di grup dan media sosial mereda. Semuanya akan membela calonnya, yang kalah ataupun juara.

Rasanya bakal rusak kenikmatan ini jika larut dalam kubu-kubuan yang fanatik. Jangan habiskan hidup yang indah ini dalam kebencian-kebencian.

Semoga perpecahan itu di grup atau media sosial saja. Sehingga masih bisa ngopi sambil menikmati ubi dan pisang goreng. Walaupun sambil duduk bersama, semuanya sibuk dengan ponsel dan berkabar dengan yang jauh. Jangan pula masih bertelagah di grup WA-nya.

Write A Comment