Ketika gambar itu dikirim, saya hanya melempar satu pertanyaan: siapa yang pernah melompat dan tak bayar naik bas ini? Rerata ketawa. Mengingat pada momen apa dia melompat ketika bas itu melambat. Untuk menghindar membayar ongkos yang hanya beberapa ratus perak saat itu.

Kami memanggilnya Bas. Angkutan umum seperti bus dan bis. Kebiasaan pengucapan negara tetangga, Singapura dan Malaysia yang menyebutnya bas, terikut hingga ke Pulau Karimun, yang kini sudah menjadi kabupaten sejak 18 tahun lalu. Di tahun 80-an hingga awal 90-an, pengangkut massal ini sangat berperan dalam menggerakkan arus orang dan barang.

Hingga tetiba oplet, angkutan orang yang kecil dan agak lincah mulai masuk ke Karimun, pengguna Bas perlahan-lahan mulai berkurang. Tetapi, hinga hari ini Bas masih ada. Masih digunakan ketika jumlah massa yang diangkut jumlahnya banyak. Malah pada iven-iven tertentu banyak yang hendak bernostalgia menggunakannya.

Semasa SMP, hingga SMA di Karimun yang menasbihkan diri sebagai Bumi Berazam ini, Bas-lah alat transportasi yang menggerakkan orang. Ada dua trayek dengan warna ya bisa membedakan arahnya. Titik utamanya pergantiannya selalu di Tanjungbalai, ibu kota kegemerlapan Pulau Karimun saat itu. Kalau berwarna hijau, sudah jelas arahnya ke kawasan Tebing. Selain itu, dominan kuning, bergerak ke kawasan Meral, hingga ke Pasir Panjang, yang sampai kini masih ada perusahan Karimun Granit-nya.

Berbentuk panjang. Walau “sekeluarga” dengan Bus, tetapi secara fisik tidak sama. Pintunya dari belakang. Kursinya memanjang dan berhadap-hadapan. Semacam bemo tapi yang sudah “dewasa”.

Jika sudah jadi penumpang di dalamnya, hanya satu kosa kata untuk menghentikan ketika sudah sampai tujuan. “Break”. Ya hanya menerikkan kata “break”, seketika supirnya akan menghentikan Bas. Sila turun.

Bisa membayarnya dari dalam. Bisa turun dengan membayar dari samping ke supir. Atau mengirim uang dari penumpang yang duduk dan akan sampailah ke supir uang itu. Biasanya yang ini uangnya pas.

Duduk di belakang. Di kursi yang berada di dekat pintu adalah pilihan favorit. Dekat ketika naik dan turun. Kalau pun duduk di dalam, selalunya agak bergeser ke belakang jika penumpang mulai berkurang.

Kini Bas masih beredar di Karimun. Lebih banyak dicarter. Ketika musim usaha granit semarak di Karimun, Bas juga dicarter untuk mengantar dan menjemput pekerja.

Ketika musim keramaian tiba, terutama saat berlimpah acara sempena hari kemerdekaan, pada tahun-tahun sedang SMP dan SMA, Bas selalu penuh. Penuh dengan penumpang.

Ketika pulang, banyak yang memilih duduk di dekat pintu. Atau berdiri-diri di pintu. Tak perduli selaju apa bas berjalan. Rerata penumpang [yang muda-muda] menikmati posisi itu.

Menikmati dan memanfaatkannya. Apalagi jika uang belanja sudah habis di area semarak kemerdekaan. Biasanya, mereka cuek saja menumpang. Setelah itu, ketika dekat ke tujuan. Sesaat ketika bas melambat. Mereka melompat.

Melompat menghindari membayar ongkos. Yang di kantong memang sudah tidak ada. Asyiknya, pada supir tidak pernah “dendam” dengan kehilangan ongkos hari itu. Tetapi repetan tetap terdengar. Hanya risau kalau-kalau mereka yang melompat akan cedera.

Jika jumpa lagi, seperti tidak ada kejadian. Para supir itu sepertinya cukup ikhlas.

Saya pernah melakukannya. Beberapa kali mungkin. Maafkan Pak Supir.

Beberapa teman yang ditanya siapa pernah melompat, semua kembali mengingat. Foto itu dikirim di grup wa teman-teman SMP Meral, Karimun. Sekolah yang kami tinggalkan sekitar 26 tahun lalu.

Write A Comment