Gubernur Kepulauan Riau H Muhammad Sani, sampai harus berkali-kali mengeluarkan kalimat tolong dalam setiap pertemuan dengan masyarakat. Di mana saja, kapan saja. Permintaan tolong itu adalah bagaiamana tidak ada lagi anak yang usia sekolah, namun tidak melanjutkan pendidikannya.

‘’Tolonglah jangan sampai ada yang tak sekolah, sementara dia mampu untuk sekolah,’’ kata Gubernur Sani dalam suatu pertemuan dengan masyarakat Moro, Kabupaten Karimun.
Gubernur kembali berkata tegas, ‘’Tidak adalagi anak yang tidak sekolah.’’
Gubernur Sani, ketika berkunjung ke pulau-pulau yang ada di serata Kepri, baik di Kabupaten Natuna, Anambas, Lingga, Karimun, Batam, Bintan dan Tanjungpinang, selalu berpesan agar dicari anak-anak yang mampu sekolah, namun karena ketiadaan biaya, tapi tidak melanjutkan pendidikannya.

Jika perlu, kata Gubernur Sani, kepala desa, camat, naik dari satu tangga rumah ke tangga rumah berikutnya untuk mencari anak-anak usia sekolah. Gubernur Sani akan sangat marah kalau sampai menemukan hal-hal semacam ini.

‘’Tolong ya, Pak Bupati, Camat, Lurah, Kepala Desa jangan sampai ada anak yang tak sekolah karena tak mampu secara biaya,’’ kata Sani, dalam berbagai kesempatan di berbagai daerah.
Gubernur juga minta masyarakat proaktif memberitahu jika ada anak usia sekolah namun terbiarkan begitu saja.

Bagi Sani, program ‘’tak ada yang tak sekolah’’ ini sudah dideklarasinya secara nasional. Dalam acara talk show Kick Andy, yang ditayangkan Metro TV, Gubernur Sani sudah mendeklarasikan pernyataan itu. ‘’Tidak ada anak yang tidak sekolah,’’ kata Sani, menjawab pertanyaan Andy F Noya, tentang apa yang akan dilakukannya terhadap Kepri, mengingat pengalaman masa lalu.

Barangkali, ini tidak lepas dari pengalaman Muhammad Sani dalam ‘’menikmati’’ dunia pendidikan. Dalam buku autobiografinya, Untung Sabut, Gubernur Sani dengan jelas menceritakan ‘’orang tua asuh’’ sehingga dirinya bisa melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, hingga akhirnya menjadi Gubernur.

Setamat Sekolah Rakyat (SR), Muhammad Sani berupaya mencari pendidikan ‘’jalur gratis’’ dan ‘’bergaji’’, yaitu Sekolah Guru Tipe A dan Tipe B. Namun, semua itu tidak berhasil dengan berbagai alasan. Muhammad Sani kemudian berhasil menyelesai pendidikan tingkat SLTP dengan berbagai cobaan dan perjuangan.

Selesai SLTP, niat untuk melanjutkan ke Sekolah Guru, juga gagal, karena sudah tidak ada tunjangan lagi. Setelah itu, Muhammad Sani melanjutkan aktivitas seperti warga Parit Mangkil, Pulau Kundur, Karimun lainnya. Seperti menyadap karet, menjadi kenek, dan lain-lainnya.

Namun, karena ada L Utomo, Kepala Penjara dari Pekanbaru mendapat cerita bahwa ada anak yang tamat SMP namun tak bisa melanjutkan pendidikan, Sani pun dibawa ke Pekanbaru setelah mendapat restu orang tuanya.
Karena itu, Sani tidak ingin menemukan lagi ada anak yang tidak sekolah, karena dia memang mampu. ‘’Kalau yang ini, saya akan sangat marah,’’ kata Sani jika sampai mendengar ada anak yang mampu dan ingin sekolah, tapi tidak direspon dan dibiarkan saja.***

Write A Comment