Ada lagi tokoh Melayu Kepri yang menjadi panutan nasional.

Itu penggalan kalimat Nurdin Basirun, Gubernur Kepulauan Riau ketika ditanya tentang anugerah gelar pahlawan nasional untuk Sultan Mahmud Riayat Syah. Tentu panutan untuk generasi muda penerus bangsa. Tak hanya Kepri, tapi juga senusantara.

Sudah tiga tokoh Kepri dianugerahi gelar pahlawan nasional. Mereka adalah Raja Haji Fisabillah yang mendapat gelar pada tahun 1997, Raja Ali Haji tahun 2004 dan tahun 2017 untuk Sultan Mahmud Riayat Syah.

Sultan Mahmud Riayat Syah, mendapat gelar pahlawan nasional bersama tiga tokoh lainnya. Mereka adalah TGKH Muhammad Zainuddin Abdul Majid tokoh Nusa Tenggara Barat, Laksamana Malahayati dari Aceh dan Prof H Lafran Pane dari DI Yogyakarta. Penganugerahan itu dilangsungkan di Istana Negara pada Kamis tanggal 9 November 2017.

Banyak tunjuk ajar dari berbagai peristiwa yang melibatkan para pahlawan nasional itu. Demikian juga tunjuk ajar dari mahakarya yang hasilnya masih sangat releven dengan kondisi hari ini. Tinggal generasi kini memaknai dan menjalaninya, seperti Gurindam 12.

Di antara berbagai peristiwa penganugerahan gelar pahlawan tahun ini, kosa kata Gerilya Laut cukup menarik perhatian. Sultan Mahmud Riayat Syah disebut mendapat gelar pahlawan nasional dengan “spesifikasi” Gerilya Laut. Pahlawan Gerilya Darat sudah menjadi milik Jendral Sudirman.

Pada panduan penganugerahan pahlawan nasional tahun ini, tercatat banyak peristiwa kegemilangan Sultan Mahmud Riayat Syah menjadi pemenang dalam sejumlah perang di laut.

Saat di Daik Linggalah pada 1788 hingga 1793, Sultan Mahmud Riayat Syah memerangi Belanda dengan cara gerilya laut. Sultan dan pasukkannya mengacaukan perdagangan Belanda di Selat Melaka dan Kepulauan Riau dengan menyerang pasukan Belanda di perairan tersebut.

Dari pengakuan Gubernur VOC-Belanda di Melaka, de Bruijn,”Kekuatan armada VOC tidak mampu menandingi kekuatan armada laut Sultan Mahmud Riayat Syah di belantara lautan Kepulauan Lingga.”

Sebuah pengakuan dari lawan yang kalah dalam beberapa kali pertempuran. Gerilya di laut yang luas membentang dan mudah di pandang, tentu beda dengan di darat. Perlu strategi yang luar biasa untuk bergerilya di laut. Dan, pasukan Sultan Mahmud Riayat Syah bisa melakukannya. Membuat Belanda terkocar-kacir.

Dalam catatan wikipedia, Gerilya adalah salah satu strategi perang yang dikenal luas, karena banyak digunakan, selama perang kemerdekaan di Indonesia. Bagi tentara perang gerilya sangatlah efektif. Mereka dapat mengelabui,menipu atau bahkan melakukan serangan kilat. Taktik ini juga sangat membantu dan manjur saat menyerang musuh dengan jumlah besar yang kehilangan arah dan tidak menguasai medan.

Kadang taktik ini juga mengarah pada taktik mengepung secara tidak terlihat (invisible). Sampai sekarang taktik ini masih dipakai teroris untuk sembunyi. Jika mereka menguasai medan mereka dapat melakukan : penahanan sandera, berlatih, pembunuhan, hingga menjadi mata-mata. Dan musuh dapat melakukan nomaden, yaitu berpindah-pindah dan menyerang secara bersembunyi tanpa ketahuan oleh lawan.

Tokoh besar dalam gerilya ini adalah Jendral Soedirman dari Indonesia bahkan karena siasat nya ini membuat pasukan Belanda ketar ketir ketika melawan pasukan gerilya Indonesia saat itu dan ditiru oleh Ho Chi Minh sehingga Vietnam Utara menang melawan Vietnam Selatan dan Amerika Serikat.

Itu catatan tentang gerilya di daratan. Mungkin ke depan harus banyak catatan gerilya di laut. Lewat beragam kisah perjuangan Sultan Mahmud Riayat Syah dan pasukannya.

Sultan Mahmud Riayat Syah mangkat pada 12 Januari 1812 dan dimakamkan di Daik, Lingga. Alfatihah.

Kini, saatnya masyarakat Kepri bergerilya di laut dengan memanfaatkan segala potensinya. Ada persen luas laut di negeri Segantang Lada ini. Dengan 252.601 kilometer persegi, 96 persennya berupa lautan.

Apalagi, bergerilyalah dengan memanfaatkan segala potensi ekonominya.***

Write A Comment