PIANTAN

Banyak hal yang berubah. Setelah pandemi covid19 melanda dunia ini. Dalam Maret ini, tepat setahun wabah itu mulai melanda Kepulauan Riau. Mulai ada yang mengubah haluan. Mencoba untuk bertahan. Juga perubahan kebijakan-kebijakan. Terutama di pemerintahan, yang berpengaruh pada jalan kehidupan. Ketika kasus pertama terungkap di Jakarta pada awal Maret 2020, saya memang melihat kesiapsiagaan pada

SEKETIP

Agaknya mereka tak berkampanye seperti musim pilkada di negeri kami dulu itu. Misalnya mengusung tagar PialaEropaSehat. Meski demikian, stadion-stadion terbuka untuk penonton. Mulai dari kapasitas yang 25 persen hingga penuh seratus persen penonton boleh datang. Waktu musim kontestasi memilih pemimpin di daerah, slogan PilkadaSehat memang menggema di mana-mana. Masyarakat diundang datang, gunakan hak pilihnya. Tentu

WARITA

Barangkali bermula dari pandemi. Lalu ramai-ramai muncul pesepeda. Jalanan pun mulai diramaikan dengan aktivitas kereta angin ini. Terlebih tahun lalu, ketika kebijakan “merumahkan” pekerja lebih dikedepankan. Harga sepeda pun ikut menggila. Demikian juga sparepartnya. Sepeda jadi semacam harta yang paling berharga. Harta, tahta dan sepeda. Sepeda seperti mulai mendapat tempat istimewa. Untuk olah raga, juga

NURAGA

Dian Sastro bilang dia harus ke sana. Karena hanya ada di situ. Jadi sayang kalau sudah sampai ke Pontianak, Kalimantan Barat tidak sampai ke situ. Saya juga. Harus ke tempat yang ingin dituju Dian Sastro. Di situ mulai ada persamaan, saya dan Dian. Untuk menikmati Pengkang. Maka, pencarian Pondok Pengkang pun teragenda. Ketika ke Pontianak.

PADUK

Awal Juni lalu, untuk pertama kalinya pesanan majalah Mata Puisi sampai melalui surat elektronik. Di antara semua bahasan itu, perihal hari puisi nasional menjadi bagian yang saya baca dengan seksama. Intinya, harus ada hari untuk itu. Perserikatan Bangsa Bangsa pun, sejak 21 Maret 1999 menetapkan tanggal tersebut sebagai Hari Puisi Sedunia. Bagi komunitas tertentu, penetapan

BOSETA

Buku-buku di rak itu mulai berserakan. Berserak itu bukan karena sering gonta ganti mengambil buku untuk dibaca. Lebih karena membeli beberapa buku, dan meletakkannya. Walau sesekali melihat judul dan terniat untuk menuntaskannya. Saat jeda aktivitas ada, buku-buku itu mulai dirapikan. Ternyata, selama dua tahun, lebih banyak membeli buku yang berkaitan dengan sepakbola. Dua buku tentang