PIANTAN

Teman itu sudah berubah. Penampilannya. Tidak lagi ransel besar. Yang digendongnya ke sana-sini. Hanya sesekali. Kalau pulang dari luar kota. Ketika langsung berkumpul buat nyeruput secangkir kopi. Di kedai kopi, atau cafe atau sebutan lainnya kisah-kisah itu bermula. Untuk berbagi cerita gembira. Atau kisah politik yang mengada-ada. Semuanya harus membuat tawa. Temannya teman sudah berkumpul.

SEKETIP

Padahal sedang menikmati deburan ombak. Deruannya di petang hari begitu sedap untuk dinikmati. Meskipun matahari petang tak datang. Karena langit Natuna sedang berawan. Tetiba, lelaki separuh baya datang. Menenteng saksofon, lelaki itu memilih duduk di pojok hamparan papan di atas Alif Stone, Natuna. Perpaduan bunyi saksofon dan instrumen lagu Memories milik Maroon 5 mengalih perhatian.

WARITA

Belum jauh membuka lembaran buku ini, saya langsung tergoda dengan salah satu pengantarnya. Terutama tentang manusia yang bahagia. Tentu semua ingin bahagia. Kata Chen Wei, hanya ada dua jenis manusia yang bahagia di dunia ini. Pertama, manusia-manusia yang suka membual. Dan kedua, manusia-manusia yang senang mendengarkan “para pembual.” Maka, jadilah pembual. Barangkali kelaku macam gitu

NURAGA

Perwira Belanda yang mengajarkannya. Saat itu, Sang Paman bekerja sebagai tukang masak di Kapal Belanda. Karena harus makan roti, berbagai olah diajarkan kepada Sang Paman. Indonesia merdeka, kapal-kapal Belanda pun mulai tak beredar di perairan Nusantara. Keahlian memasak Sang Paman tentu harus terwarisi. Kebetulan, pada tahun 1947, orang tua Dudi Hartono, kakak beradik Sang Paman

PADUK

Saat pergantian tahun, sebagian orang selalu memasang tekad masing-masing. Membuat resolusi apa saja yang akan dilakukan tahun berikutnya. Walaupun ada yang semacam ikut arus memasang resolusi pergantian angka. Terlaksana atau tidak, tunggulah 52 pekan berikutnya. Kalau tidak, munculkan lagi resolusi baru di penghujung tahun. Atau niatkan menuntaskan resolusi yang seolah-olah keren itu. Kadang, saya pun

BOSETA

Ketika beraktivitas di Karimun, saya selalu menyempatkan diri berziarah. Ke makam kedua orang tua. Di pemakaman tak jauh dari rumah. Tempat yang dulu selalu dilewati ketika hendak bermain sepak bola. http://beradadisitu.com/2018/10/09/sepatu-bola-itu/ Agak berbeda pada ziarah kali ini. Banyak anak-anak juga beraktivitas di kawasan tersebut. Mereka bermain. Bergembira dengan layang-layang. Menunggu siapa yang ngajak beradu. Atau